Opini

Mensyukuri Karunia Ilahi

DI antara sifat manusia yang diungkapkan oleh Alquran adalah suka berkeluh-kesah, tidak pernah merasa berpuas

Mensyukuri Karunia Ilahi
Jamaah haji kloter pertama sujud syukur saat tiba di Bandara Internasional Sultan Iskandar Muda, Blangbintang, Aceh Besar. SERAMBI/BUDI FATRIA 

Kedua, syukur dengan lidah, mengakui anugerah dan memuji pemberinya. Mengakui dengan ucapan bahwa sumber nikmat adalah Allah sambil memuji-Nya. Apabila seseorang sering mengucapkan alhamdulillah, maka dari waktu ke waktu, ia akan selalu merasa berada dalam curahan rahmat dan kasih sayang Allah. Dia akan merasa bahwa Allah Swt tidak membiarkannya sendiri.

Jika kesadaran ini telah berbekas dalam jiwa manusia, dalam kondisi tersulit dalam kehidupannya pun akan mudah mengucapkan kalimat-kalimat syukur seperti “segala puji bagi Allah, tiada yang dipuja dan dipuji walau cobaan menimpa, kecuali Dia semata”. Kalimat semacam ini dapat terlontar, karena dia menyadari bahwa dibalik sebuah cobaan, limpahan karunia yang Allah beri masih lebih banyak lagi. Sehingga cobaan dan malapetaka itu tidak lagi berarti dibandingkan dengan karunia yang Allah beri selama ini.

Dan, ketiga, syukur dengan perbuatan, dengan memanfaatkan anugerah yang diperoleh sesuai dengan tujuan penganugerahannya, sebagaimana firman-Nya, “Dialah (Allah) yang menundukkan lautan (untuk kamu) agar kamu dapat memakan darinya daging (ikan) yang segar, dan (agar) kamu mengeluarkan dari lautan itu perhiasan yang kamu pakai, dan kamu melihat bahtera berlayar padanya, dan supaya kamu mencari karunia-Nya (selain yang telah disebut) semoga kamu bersyukur.” (QS. an-Nahl: 14).

Dalam ayat lain, Allah Swt juga berfirman, “Allah Swt telah membuat satu perumpamaan (dengan) sebuah negeri yang dulunya aman lagi tenteram, rezekinya datang kepadanya melimpah ruah dari segenap penjuru, tetapi (penduduknya) kufur (tidak bersyukur atau tidak bekerja untuk menampakkan) nikmat-nikmat Allah (yang terpendam). Oleh karena itu, Allah menjadikan mereka mengenakan pakaian, kelaparan, dan ketakutan disebabkan oleh perbuatan (ulah) yang selalu mereka lakukan.” (QS. an-Nahl: 112).

Manfaat syukur kembali kepada orang yang bersyukur, sedangkan Allah Swt sama sekali tidak memperoleh bahkan tidak membutuhkan sedikit pun syukur dari makhluk-Nya. Allah akan menganugerahkan tambahan nikmat berlipat-ganda kepada makhluk yang bersyukur. Maka apapun yang Allah berikan harus diterima dengan lapang dada, sembari meningkatkan ketakwaan kepada Allah dan menjauhi larangannya, jangan mudah mengeluh dan berputus asa, tetapi selalu ber-khusnudz-dzan kepada Allah bahwa ketetapan Allah, itulah yang terbaik. Wallahu a‘lam.

* Dr. H. Agustin Hanafi, MA., Dosen Fakultas Syariah dan Hukum UIN Ar-Raniry Banda Aceh, dan anggota Ikatan Alumni Timur Tengah (IKAT) Aceh. Email: agustinhanafi77@yahoo.com

Editor: bakri
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

berita POPULER

© 2018 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved