Opini

Pendidikan Berbasis Keluarga

BANYAK orang tua dan guru yang mengeluhkan akan perilaku anak atau siswanya yang kurang baik

Pendidikan Berbasis Keluarga
SERAMBINEWS.COM/YUSMANDIN IDRIS
Sebanyak 5.303 siswa SMA dan MA di Bireuen, Senin (9/4/2018) mengikuti Ujian Nasional Berbasis Komputer (UNBK) di sekolah masing-masing. 

Oleh Muazzah

BANYAK orang tua dan guru yang mengeluhkan akan perilaku anak atau siswanya yang kurang baik. Anak-anak zaman sekarang dikeluhkan sebagai generasi galau yang sangat mudah terbawa arus globalisasi. Bahkan, Komisi Perlindungan Anak dan Ibu pada 2017, mendata bahwa kasus yang menimpa anak dan remaja meningkat setiap tahun, dengan porsi terbesar ialah kasus anak berhadapan dengan hukum (34,8%), kasus berkaitan dengan keluarga dan pengasuhan alternatif (19,4%), dan kasus pendidikan (11%).

Mengapa kebanyakan remaja di Indonesia seperti menjadi beban bagi orang tua, masyarakat, bahkan negara? Di usia sangat produktif, remaja kita justru menjadi sumber kekhawatiran tersendiri bagi banyak pihak. Angka kasus anak berhadapan dengan hukum sangatlah tinggi, yang jelas menyiratkan betapa para anak dan remaja benar-benar dalam keadaan tidak kondusif. Remaja bisa menjadi pelaku maupun korban dari kasus hukum tersebut.

Kasus yang berkaitan dengan keluarga dan pengasuhan alternatif, yang menempati urutan kedua, juga memperlihatkan betapa keluarga-keluarga di Indonesia harus lebih berbenah. Mempersiapkan dan merencanakan segala hal jauh sebelum sebuah keluarga dibentuk melalui pernikahan. Begitu juga dengan kasus yang berkaitan pendidikan yang menunjukkan posisi tertinggi ketiga, cukup menjelaskan betapa sistem pendidikan di Indonesia masih belum ramah anak sepenuhnya.

Dulu, saat saya bersekolah di tingkat menengah, ada satu sinetron favorit bertemakan keluarga. Dengan judul Keluarga Cemara, sinetron ini mengisahkan perjuangan sebuah keluarga sederhana dalam mendidik anaknya. Ada banyak hal positif yang bisa kita ambil dari tayangan tersebut, mulai dari tata krama sesama anggota keluarga, hingga pada penanaman karakter mulia (jujur, kerja keras, toleransi, dan lain sebagainya) yang diajarkan oleh abah dan emak pada anak-anaknya.

Keluarga ideal
Sekarang, gambaran keluarga ideal seperti di atas bagai menjadi barang langka dalam tontotan keluarga Indonesia. Para penggiat perfilman, lebih banyak menyajikan gambaran “keluarga cacat”, di mana setiap anggota keluarga kehilangan peran sejatinya. Orang tua yang jauh dari kata akur, anak-anak yang tak hormat pada orang tua, hingga hal-hal yang berbau kekerasan dalam rumah tangga, menjadi topik menarik untuk dijadikan sinetron dan film.

Pada akhirnya, gambaran semu tersebut perlahan-lahan menjelma menjadi fenomena nyata yang terjadi pada keluarga-keluarga di Tanah Air. Rumah tangga yang tak harmonis merupakan akar dari banyak masalah lainnya, karena keluarga merupakan fondasi dari kehidupan yang lebih luas. Sehingga, membangun rumah tangga yang harmonis jelas merupakan satu kunci utama dalam mereduksi berbagai kasus yang dialami oleh remaja.

Menurut Harry Santosa (2017), kekokohan sebuah keluarga sangat ditentukan oleh seberapa kuat visi, misi, dan peran yang mampu dijalankan oleh setiap anggota keluarga itu sendiri. Dan setiap rumah adalah sekolah, dimana ayah berperan sebagai kepala sekolah, dan ibu sebagai guru terbaik bagi semua anak-anaknya. Dengan demikian, mendidik anak adalah kewajiban utama setiap orang tua.

Setiap keluarga harusnya mampu mendampingi anak-anaknya agar tak kalah pada laju perubahan yang sangat cepat di era disrupsi ini. Tika AP dalam Intisari (edisi Juli 2018), menjelaskan bahwa keluarga tidak boleh ketinggalan laju zaman. Orang tua harus terbuka pikirannya dan luas cara pandangnya demi masa depan anaknya. Karena mendidik anak tidak sama dengan memaksakan kehendak dan keinginan orang tua secara mutlak pada anak.

Anak-anak harus disiapkan agar mampu mengukir perannya dalam masyarakat, di mana orang tua harus menjadi fasilitator terbaik bagi mereka. Satu cara terbaik yang dapat dilakukan oleh orang tua ialah mengetahui bakat dan minat anaknya.

Halaman
123
Editor: hasyim
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

TRIBUNnews.com Network © 2018
About Us
Help