Tafakur

Setelah Berkuasa

Setelah lama berkuasa dengan berbagai kelezatannya dan tiba-tiba habis masanya, umumnya orang akan mengalami post-power syndrome

Setelah Berkuasa
Tafakur

Oleh: Jarjani Usman

“Dan kekuasaan itu adalah amanah, dan kekuasaan tersebut pada hari kiamat menjadi kehinaan dan penyesalan, kecuali bagi orang yang mendapatkan kekuasaan tersebut dengan haknya dan melaksanakan kewajibannya pada kekuasaannya itu” (HR. Muslim).

Setelah lama berkuasa dengan berbagai kelezatannya dan tiba-tiba habis masanya, umumnya orang akan mengalami post-power syndrome. Yaitu ketidakstabilan jiwa paska berkuasa. Apalagi sebelumnya menikmati banyak fasilitas mewah sekian lama, kata-kata dan perintah yang sebelumnya didengar dan dilaksanakan, dan banyak orang mengelilingi dan siap mengabdi, tapi kini tiada lagi.

Ketidakstabilan jiwa tidak akan parah dan bahkan tidak muncul bila memahami kekuasaan hanya amanah, yang pasti akan habis masanya. Karena itu, selama berkuasa maunya benar-benar ikhlas memikirkan dan menghasilkan kebaikan sebanyak mungkin. Bukan melakukan perbuatan-perbuatan berdosa seperti menzalimi orang lain, memperkaya diri, mementingkan kepentingan pribadi dan orang-orang dekat, tinggi hati, riya, dan lain-lain.

Di saat berkuasa, ingatlah akan saat-saat tak berkuasa lagi. Juga mengingat keharusan mempertanggungjawabkannya di akhirat kelak. Kekuasaan sangat singkat, tetapi pertanggungjawabannya sangat panjang dan menyengsarakan. Bila tidak amanah sebagaimana dalam sumpah, maka itu suatu pengkhianatan.

Editor: hasyim
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

TRIBUNnews.com Network © 2018
About Us
Help