50 Anak Desa Pedalaman tak Sekolah

Sekitar 50 anak di wilayah pedalaman Kota Subulussalam tidak dapat bersekolah lantaran di kampung mereka

50 Anak Desa Pedalaman tak Sekolah
SEJUMLAH bocah usia sekolah di Dusun Juma Sampuran, Desa Penuntungan, Kecamatan Penanggalan, Kota Subulussalam putus sekolah karena tidak adanya sarana pendidikan di kampung mereka. Foto direkam beberapa waktu lalu. 

SUBULUSSALAM - Sekitar 50 anak di wilayah pedalaman Kota Subulussalam tidak dapat bersekolah lantaran di kampung mereka belum tersedia fasilitas pendidikan.

”Ada sekitar 50 anak yang tidak sekolah, kasihan mereka,” kata Nobuala Halawa, Direktur Lembaga Advokasi Perempuan dan Anak (Lampuan) Kota Subulussalam kepada Serambi, Minggu (22/7).

Kondisi ini sudah berlangsung hampir belasan tahun. Ironisnya hingga saat ini belum ada pihak yang memberi perhatian bagi pendidikan mereka.

Menurut Halawa, lokasi warga pedalaman berada di kawasan Sarkea, dan ada pula dinamakan Cok Langit serta Juma Sampuran, Desa Penuntungan, Kecamatan Penanggalan. Dikatakan Cok Langit dinamakan karena lokasinya berada di bukit paling tinggi.

Untuk menjangkau lokasi ini, kata Halawa butuh kendaraan double gardan atau sepeda motor trail. “Kalau musim hujan lokasi ini sulit diakses,” ujar Halawa.

Masyarakat di pedalaman ini kondisinya sangat memprihatinkan. Sebab di kampung tersebut tidak terdapat fasilitas pendidikan dan lainnya seperti bangunan kesehatan apalagi listrik dan jalan memadai.

Namun yang paling penting menyangkut pendidikan karena jarak ke kampung yang ada sekolah mencapai 14 kilometer dengan kondisi jalan hutan, terjal dan ada pula menyeberang sungai.

Halawa menjelaskan anak usia sekolah dasar (SD) tidak mungkin dapat melintasi rimba setiap hari sehingga mereka kebanyakan putus sekolah. Mereka yang tidak bersekolah, kata Halawa, berusia SD dan kalaupun ada harus dititip di rumah sanak famili yang berada di dekat sekolah.

”Kalau SD saja tidak sekolah bagaimana mereka melanjutkan ke SMP dan SMA,” terang Halawa. Halawa menambahkan, masyarakat sebenarnya tidak perlu gedung terlalu mewah. Bahkan sekolah di ruang terbuka atau alam pun rela asal ada fasilitas terkait.

Sebab jika hal ini terus terjadi maka masyarakat yang buta huruf di desa pedalaman semakin meningkat. Sebab, sejauh ini jangankan pendidikan, mayoritas masyarakat pedalaman tersebut juga tidak mampu berbahasa Indonesia.

Direktur Lembaga Advokasi Perempuan dan Anak (Lampuan) Kota Subulussalam Nobuala Halawa menambahkan dengan pihaknya berharap agar Pemerintah Kota Subulussalam maupun pihak lain yang peduli pendidikan dapat memberi perhatian bagi masyarakat pedalaman tersebut.

Diakui atau tidak, masyarakat di pedalaman tersebut juga memiliki hak sebab saat pemilihan seperti Pilkada, Pilpres dan Pileg mereka menggunakan hak pilihnya. Karena itu, ia berharap pemerintah dapat memfasilitasi anak-anak tersebut untuk melanjutkan pendidikan yang setara.(lid)

Editor: bakri
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

berita POPULER

TRIBUNnews.com Network © 2018
About Us
Help