Opini

Anak adalah Amanah

ANAK merupakan anugerah Allah Swt dan perhiasan hidup. Oleh sebab itu, secara naluri setiap manusia mendambakan

Anak adalah Amanah
www.mhfc.org
Ilustrasi 

Oleh Agustin Hanafi

ANAK merupakan anugerah Allah Swt dan perhiasan hidup. Oleh sebab itu, secara naluri setiap manusia mendambakan kehadiran seorang anak, dan merasa belum sempurna hidupnya jika belum memiliki anak. Bagi orang tua yang memiliki anak, banyak dari mereka yang begitu bahagia akan kehadirannya. Mereka bangga akan prestasi anaknya, entah itu mendapat rangking terbaik di sekolah, juara dalam sebuah perlombaan, sukses meraih gelar akademik, menduduki sebuah jabatan, dan lain-lain.

Namun sebaliknya, tidak sedikit pula orang tua, yang harus mengalami masa sulit akibat ulah dan perilaku si anak yang tidak sesuai harapan dan keinginan orang tua. Hal tersebut tidak jarang mengakibatkan depresi dan kesehatan yang buruk, misalnya saja si anak terjebak kasus narkoba, pergaulan bebas, jauh dari nilai-nilai dan tuntunan agama serta hal lainnya yang membuat hati orang tuanya miris dan kecewa.

Untuk itu, Alquran mengingatkan bahwa anak dan harta merupakan cobaan, maka jangan sampai menyebabkan kelalaian kepada Allah Swt, sebagaimana firman-Nya, “Wahai orang-orang yang beriman! Janganlah harta bendamu dan anak-anakmu melalaikan kamu dari mengingat Allah. Dan barang siapa yang berbuat demikian, maka mereka itulah orang-orang yang rugi.” (QS. al-Munafiqun: 9). Dalam ayat lain Allah berfirman, “Ketahuilah bahwa hartamu dan anak-anakmu itu hanyalah sebagai cobaan dan sesungguhnya di sisi Allah ada pahala yang sabar.” (QS. al-Anfal: 28).

Di sisi lain, Alquran mengingatkan kita agar memperhatikan keluarga dan menyelamatkan mereka dari siksa api neraka, “peliharalah dirimu dan keluargamu dari siksa neraka”, serta adanya kekhawatiran terhadap mereka kelak jika meninggalkannya dalam kondisi lemah “Dan hendaklah takut kepada Allah orang-orang yang seandainya meninggalkan di belakang mereka anak-anak yang lemah, yang mereka khawatir terhadap (kesejahteraan) mereka. Oleh sebab itu hendaklah mereka bertakwa kepada Allah dan hendaklah mereka mengucapkan perkataan yang benar.” (QS. an-Nisa`: 9).

Menjaga psikologis anak
Baginda Rasulullah memperlakukan anak-anak begitu mulia, sehingga anak tidak merasa dilecehkan atau dianaktirikan. Nabi saw, misalnya, mengucapkan salam dan berjabat tangan dengan mereka. Hal ini bertujuan untuk memupuk rasa percaya diri dan menanamkan dalam jiwa mereka bahwa eksistensinya diakui oleh masyarakat.

Dalam konteks memelihara perasaan anak, beliau menegur seorang pengasuh yang merenggut dengan kasar seorang anak yang kencing di pangkuan Rasulullah saw, dengan sabdanya, “Kencing yang membasahi bajuku ini dapat dibersihkan dengan air, tetapi apa yang dapat menjernihkan kekeruhan hati anak ini dari renggutanmu itu.” Ini berarti, menjaga psikologis anak lebih diutamakan daripada hal lainnya.

Beliau juga senang bermain dengan mereka agar anak dapat merasa bahwa apa yang dilakukannya, bukan saja direstui, tetapi juga dianggap penting oleh orang dewasa. Ini merupakan satu upaya untuk menjadikan anak lebih bersahabat dengan orang tuanya yang pada gilirannya menjadikan sang anak lebih terbuka. Di sisi lain, melalui permainan dapat terungkap kepribadian anak, serta tingkat kecerdasan pikiran dan emosionalnya.

Demikianlah sikap Nabi saw, maka jangan pernah menyia-nyiakan anak apalagi menelantarkannya, karena ia titipan Allah Swt. Seorang anak haruslah dirawat dan dipelihara secara baik, diberikan pengayoman, kasih sayang sepenuhnya tanpa boleh menyakitinya. Anak merupakan investasi yang paling mahal dan berharga, karena ia mampu menyelamatkan orang tuanya dari siksa api neraka melalui doa-doa dan kesalehannya.

Semua orang tua berharap agar anaknya menjadi saleh, berguna bagi agama, nusa dan bangsa. Bahkan, ketika kelak meninggalkan dunia fana ini, orang tua sangat berharap anaknyalah yang memandikan jenazahnya, membalutkan kain kafan pada sekujur tubuhnya, menjadi imam shalat jenazah, serta dapat mengantarkan mereka ke surga. Namun harapan indah itu tidak mungkin terwujud begitu saja tanpa adanya pembekalan sejak dini. Untuk itu, Rasulullah saw mengingatkan bahwa anak dilahirkan dalam kondisi fitrah, suci laksana kain putih. Kedua orang tuanyalah yang berperan besar; apakah kelak anaknya menjadi seorang Yahudi, Nasrani, maupun Majusi.

Halaman
12
Editor: bakri
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

berita POPULER

© 2018 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved