Home »

Opini

Opini

Anak adalah Amanah

ANAK merupakan anugerah Allah Swt dan perhiasan hidup. Oleh sebab itu, secara naluri setiap manusia mendambakan

Anak adalah Amanah
www.mhfc.org
Ilustrasi 

Melihat fenomena perilaku anak dewasa ini, tampaknya harapan di atas dan cita-cita kita sebagai orang tua sulit terwujud dan bisa dianggap hanya sebuah mimpi belaka. Betapa tidak, banyak kita temukan anak yang masih belia, tetapi tidak memiliki sopan santun, tutur katanya begitu kasar, berani melakukan kekerasan terhadap teman, melakukan pelecehan, perampokan, dan pembunuhan. Tidak sedikit pula yang terjerumus ke dunia narkoba, judi, kecanduan pornografi, ugal-ugalan di jalan raya, suka bolos sekolah, enggan menunaikan shalat lima waktu, enggan mempelajari kitab suci Alquran, dan lain-lain.

Fenomena yang sungguh menyesakkan dada dan membuat hati miris, tetapi kita sebagai orang tua tidak boleh berpangku tangan dan putus asa. Tetaplah bersungguh-sungguh memberikan perhatian serius kepada anak-anak dengan membangun karakter, akhlakul karimah, dan menanamkan ilmu agama sejak dini. Mengenalkannya bacaan Alquran dan praktik shalat, mengajarkannya makhraj dan tajwid Alquran, serta makna yang tersingkap di dalamnya, mengenalkan keteladanan baginda Rasululluh, sahabat, keluarga, dan lain-lain yang bermanfaat dan mudah dicerna.

Hal ini akan mudah diresap dan dipraktekkan oleh si anak jika kita mulai dari diri sendiri dan internal keluarga. Kita berikan keteladanan kepada anak-anak, dimulai dari hal-hal kecil, misalnya ketika akan melakukan sesuatu mengucapkan basmalah, mengucapkan salam ketika masuk rumah, hangat kepada tamu, bertutur kata yang lembut kapada pasangan, membiasakan mengaji di rumah, dan membiasakan shalat lima waktu secara berjamaah.

Jangan bersikap acuh
Jangan lepas tangan dan bersikap acuh tak acuh terhadap anak, merasa keberatan dalam mendidiknya dengan dalih tingginya biaya operasional sehingga anak putus sekolah dan kehilangan masa depan. Terkadang sikap dan ambisi sebagian orang tua berbanding terbalik, jika itu untuk pemenuhan hasrat pribadi, seperti kebutuhan merokok, pulsa, make up, agar tampak modis, sehingga ia rela banting tulang. Tetapi loyo jika untuk kebutuhan anak bahkan merasa itu sepenuhnya tanggung jawab pemerintah. Tidak peduli terhadap perkembangan si anak, bahan bacaan yang dia geluti dan lain-lain.

Perlu digarisbawahi bahwa pendidikan anak bukan hanya tanggung jawab pemerintah, tetapi orang tua memiliki peran yang besar. Kesuksesan seorang anak sangat tergantung dengan usaha orang tua, keluarga, masyarakat dan lingkungannya. Jangan pernah menyalahkan guru/sekolah kalau anak kita miskin ilmu dan akhlak, dan kita tidak dapat menuntut dari anak-anak kita untuk menampilkan akhlak mulia, jika kita tidak mempersiapkan lahan yang subur untuk menjadikan mereka mampu menampilkannya, yakni perhatian orang tua, keluarga, bacaan yang bermutu, dan lingkungan yang sehat.

Perlindungan terhadap anak, dalam sisi agama menuntut adanya pendidikan agama bagi anak di rumah dan di lembaga-lembaga pendidikan dimana dia belajar sesuai dengan agama yang dianut orang tuanya. Perlu juga dicatat bahwa kesalehan ayah-ibu dan keharmonisan antara suami-isteri dalam rumah tangga dapat berdampak positif kepada anak. Maka berhati-hatilah dalam mendidik anak, berikanlah perhatian yang besar dengan tulus dan jangan ada pilih kasih di antara mereka. Panggillah dengan kata yang lembut dan mesra yang mencerminkan kasih sayang orang tua terhadap buah hatinya.

Kalau merujuk Alquran, terdapat empat dasar pokok pendidikan anak yaitu, akidah, ibadah, akhlak terhadap orang lain dan akhlak terhadap diri sendiri sebagaimana dikisahkan dalam surat Luqman. Fondasi yang paling utama adalah menanamkan akidah yang kokoh dalam jiwa, yaitu tentang keesaan Allah agar tetap terjaga dan terlindungi di manapun berada. Setelah penanaman akidah barulah disusul dengan perintah ibadah kepada Allah Swt. Itu berati, bahwa ibadah itu harus disertai dengan ketauhidan yang mantap, sehingga tidak mudah terkontaminasi oleh ajaran sesat dan menyimpang dari ajaran Islam.

Dengan ibadah yang didasari oleh ilmu yang benar, manusia akan menduduki tempat terhormat, sejajar, bahkan dapat melebihi kedudukan umumnya malaikat. Setelah anjuran beribadah, lalu anjuran untuk berbuat baik kepada siapa pun, tidak boleh bersikap angkuh dan sombong. Semakin memiliki ilmu semakin tawadhu‘ dan rendah hati, semakin memiliki tata krama yang tinggi dengan berbuat santun dan menghargai orang tua, guru, antar-teman dengan tidak melakukan tawuran di sekolah.

Setelah pilar akidah, ibadah, akhlak terhadap orang lain lalu kemudian disusul dengan akhlak terhadap diri sendiri yaitu selalu bersyukur dan tidak mudah berputus asa. Maka didiklah anak sesuai pesan Alquran, jangan bersikap kasar dan melecehkannya sebagaimana ungkapan para pakar, Jika anak disalahkan, dia belajar mencemoohkan, jika anak dihina, dia hidup menjadi penakut, jika ia dipermalukan, ia selalu merasa bersalah, jika ia hidup dalam permusuhan, ia belajar berkelahi. Wallahu a‘lam bi al-shawab.

* Dr. H. Agustin Hanafi, MA., Dosen Fakultas Syariah dan Hukum UIN Ar-Raniry Banda-Aceh, dan anggota Ikatan Alumni Timur Tengah (IKAT) Aceh. Email: agustinhanafi77@yahoo.com

Editor: bakri
Ikuti kami di
KOMENTAR

berita POPULER

TRIBUNnews.com Network © 2018
About Us
Help