BI Gelar Edukasi Keuangan Syariah

Bank Indonesia (BI) Perwakilan Aceh menggelar edukasi ekonomi dan keuangan syariah di Mata Ie Resort

BI Gelar Edukasi Keuangan Syariah
KEPALA Tim Pengembangan Ekonomi Kantor Perwakilan BI Aceh, Sunarso memberikan materi edukasi ekonomi dan keuangan syariah di Mata Ie Resort, Sabang, Senin (23/7). 

SABANG - Bank Indonesia (BI) Perwakilan Aceh menggelar edukasi ekonomi dan keuangan syariah di Mata Ie Resort, Sabang, 23-25 Juli 2018. Kegiatan itu diikuti 42 wartawan berbagai media massa di Aceh.

Kepala Tim Pengembangan Ekonomi Kantor Perwakilan BI Aceh, Sunarso, mengatakan perkembangan ekonomi syariah di Aceh menunjukkan kondisi yang cukup baik, karena dari tahun ke tahun angkanya terus tumbuh. Salah satu buktinya terlihat dari pertumbuhan perbankan syariah.

Sunarso mengakui jika laju pertumbuhannya masih lambat. Namun positifnya, meskipun lambat akan tetapi angkanya tumbuh positif dari tahun ke tahun. Apabila dihitung sejak lima tahun terakhir (2013 hingga 2017), aset perbankan syariah tumbuh sebesar 506,19%, dari Rp 4,67 triliun (2013) menjadi Rp 28,34 triliun (2017).

Rata-rata pertumbuhan aset secara year on year 76,36%. Peningakatan aset yang lebih baik dari provinsi lain tidak semata-mata dikarenakan kesadaran masyarakatnya, akan tetapi menyusul konversi Bank Aceh dari konvensional ke syariah.

“Selama ini, masyarakat masih memandang bahwa perbankan syariah itu relatif hampir sama dengan perbankan konvensional, sehingga pertumbuhan perbankan syariah masih belum optimal,” katanya.

Sunarso menjelaskan, salah satu faktor yang menghambat percepatan pengembangan ekonomi syariah adalah masih cukup rendahnya pemahaman masyarakat mengenai konsep dan produk ekonomi/keuangan syariah sehingga mayoritas nasabah lembaga keuangan syariah masih berada dalam segmen rational market, hanya sebagian kecil saja masyarakat yang sudah tergolong dalam tipe sharia loyalist.

Sunarso juga menjelaskan, permasalahan klasik yang juga masih menjadi stigma masyarakat secara umum dalam memandang perbankan syariah ialah prosedur yang cukup berbelit dan memakan waktu lama, pricing yang dirasa lebih mahal dibandingkan dengan perbankan konvensional, dan kualitas SDM yang dirasa masih belum cukup meyakinkan dalam menjelaskan akad-akad perbankan syariah sehingga terkesan tidak jauh berbeda dengan akad yang dimiliki oleh bank konvensional.

“Sebagian masyarakat menganggap sama saja antara bank konvensional dengan bank syariah, dan ini menjadi tantangan kepada kita semua untuk memberikan pemahaman kepada masyarakat, pasalnya pandnagan masyarakat terhadap bank syariah belum sebagus kepada bank konvensional, maka ini harus diluruskan, karena kalau bicara potensi maka harusnya pertumbuhan di Aceh harus lebih cepat, karena Aceh menjalankan syariat Islam,” ujarnya.

Dikatakan Sunarso, masyarakat memerlukan edukasi dan sosialisasi yang lebih intensif tentang perbankan syariah agar jumlah sharia loyalist semakin meningkat dan tercermin dalam peningkatan volume usaha, jumlah rekening pembiayaan dan perbaikan kinerja perbankan dan lembaga keuangan syariah. (mun)

Editor: bakri
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

berita POPULER

© 2018 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved