Rupiah dan Mata Uang Asia Melemah, Mungkinkah Krisis 1997 Terulang Lagi?

Dari seluruh mata uang kawasan Asia, ada beberapa mata uang yang makin melemah dalam tiga bulan terakhir.

Rupiah dan Mata Uang Asia Melemah, Mungkinkah Krisis 1997 Terulang Lagi?
KOMPAS/JITET
Ilustrasi 

SERAMBINEWS.COM - Rupiah dan mata uang Asia melemah belakangan ini. Indonesia dan negara-negara Asia lainnya harus bekerja keras untuk menghindari ancaman krisis. Tapi sampai kapan kondisi tersebut akan terus berlangsung dan negara-negara terdampak kuat menahan beban ini.

Kedigdayaan mata uang dollar Amerika Serikat (AS) makin terasa. Nilai tukar dollar Amerika Serikat (AS) naik ketika bank sentral AS Federal Reserve mulai menaikkan suku bunga acuan. Suku bunga yang tinggi menyebabkan investasi di AS menjadi lebih menarik.

Kenaikan suku bunga ini sebenarnya adalah normalisasi kebijakan sebelumnya. AS memiliki bunga hampir nol persen setelah krisis ekonomi tahun 2008. Bank sentral menurunkan suku bunga untuk menggerakkan ekonomi dan memaksa likuiditas mengalir.

Setelah bank sentral menganggap ekonomi Paman Sam mulai membaik, suku bunga mulai naik. Kenaikan suku bunga makin agresif terjadi sejak tahun lalu. Tahun ini, kenaikan suku bunga Fed Fund Rate (FFR) sudah dua kali. Gubernur The Fed Jerome Powell mengirim sinyal akan menaikkan suku bunga hingga dua kali lagi, setelah kenaikan di bulan Maret dan Juni lalu.

Baca: Dampak Terjungkalnya Rupiah, Perusahaan Mulai Kelimpungan, Utang Membengkak

Data terbaru yang dirilis kemarin menunjukkan pertumbuhan ekonomi AS di kuartal kedua mencapai 4,1% secara kuartalan. Dengan laju pertumbuhan ekonomi yang makin kencang, bank sentral AS akan perlu mengerek bunga agar ekonomi tidak overheating.

Belakangan, nilai tukar dollar AS semakin kuat seiring sentimen negatif berupa perang dagang. Perang yang diawali rencana proteksionisme AS ini makin gencar, terutama menghadapi China yang mencatat surplus perdagangan besar terhadap AS.

Presiden AS Donald Trump menaikkan tarif impor atas baja dan aluminium pada awal tahun. Aksi ini diikuti berbagai rencana pengenaan tarif impor untuk mendorong produksi dalam negeri dan memperbaiki neraca perdagangan.

Perang dagang yang muncul sejak awal tahun ini menimbulkan perang mata uang. Banyak negara memilih mata uang yang lebih lemah agar nilai ekspor tetap tinggi di tengah penurunan volume. Hal inilah yang memicu komentar Presiden AS Donald Trump soal pelemahan mata uang yuan dan euro.

Menurut pengamat pasar, penguatan dollar AS yang terjadi belakangan merupakan sinyal pengalihan aset dari emerging market yang berisiko ke aset aman. Aset yang dianggap paling aman sejauh ini adalah dollar AS. Emas sebagai safe haven lain sudah nyaris ditinggalkan. Ini tampak dari harga emas yang terus menurun.

Sementara yen pun tertekan suku bunga yang tak kunjung naik. Investasi di Jepang tidak menghasilkan yield setinggi keinginan investor. Sementara AS menawarkan suku bunga yang makin tinggi. Inilah salah satu hal yang memicu investasi dollar yang makin tinggi.

Halaman
1234
Editor: Hadi Al Sumaterani
Sumber: Kontan
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2018 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved