Rupiah dan Mata Uang Asia Melemah, Mungkinkah Krisis 1997 Terulang Lagi?

Dari seluruh mata uang kawasan Asia, ada beberapa mata uang yang makin melemah dalam tiga bulan terakhir.

Rupiah dan Mata Uang Asia Melemah, Mungkinkah Krisis 1997 Terulang Lagi?
KOMPAS/JITET
Ilustrasi 

Jumat (27/7) pukul 18.01 WIB, indeks dollar berada di angka 94,91. Indeks yang mencerminkan nilai tukar dollar AS terhadap mata uang utama dunia, seperti euro, yen, dan poundsterling ini bergerak makin tinggi sejak awal tahun. Penguatan dollar AS semakin terasa di Asia.

Hampir seluruh mata uang negara Asia melemah terhadap dollar AS. Sejak awal tahun hingga Jumat, hanya mata uang yen yang masih menguat 1,34% terhadap dollar AS.

Baca: Nilai Tukar Rupiah Masih Berada di Level Rp 14.500 Per Dollar AS

India, Filipina, dan Indonesia menjadi tiga negara Asia dengan pelemahan mata uang terbesar. Nilai tukar rupee terhadap dollar AS melemah 7,07% sejak awal tahun. Pelemahan peso Filipina mencapai 6,53% pada periode yang sama. Sedangkan rupiah sudah melemah 5,98% secara year to date.

Nilai tukar rupiah Jumat ditutup pada Rp 14.417 per dollar AS. Kurs rupiah terhadap dollar AS ini menguat dalam tiga hari berturut-turut setelah menyentuh level terendah sejak Oktober 2015. Rupiah menembus Rp 14.500 per dollar AS pada Selasa pekan ini.

Dari seluruh mata uang kawasan Asia, ada beberapa mata uang yang makin melemah dalam tiga bulan terakhir. Terutama mata uang yuan, baik offshore maupun onshore. Nilai tukar yuan tercatat melemah 4,87% jika dihitung sejak awal tahun.

Tapi, pelemahan yuan mencapai 7,72% dalam tiga bulan terakhir. Pada periode ini, yuan mencatat pelemahan paling dalam di Asia, diikuti oleh baht Thailand 5,87% dan won Korea 3,7%.

Kepala Ekonom Maybank Indonesia, Juniman menjelaskan, pelemahan rupiah dipicu oleh melemahnya mata uang yuan China. “Melemahnya yuan membuat mata uang emerging market ikut terseret. Jadi tidak hanya rupiah, tapi juga mata uang lainnya kompak melemah,” ujar Juniman beberapa waktu lalu.

Pelemahan yuan, tambah Juniman, tak lepas dari konflik dagang China dengan AS yang masih bergulir sampai saat ini. Menurutnya, ada unsur kesengajaan di balik melemahnya yuan sebagai bentuk pembalasan tarif impor yang dikenakan AS pada barang-barang China tersebut.

"Pemerintah dan BI harus mulai mencermati kondisi ini karena trade war berpotensi menjadi currency war, alias negara-negara berlomba melemahkan mata uangnya. Kondisi ini bisa membuat rupiah semakin terpuruk," kata Juniman.

Ekonom BCA David Sumual juga berpendapat, arah pergerakan rupiah ke depan akan sangat dipengaruhi oleh seberapa besar eskalasi perang dagang, terutama reaksi China terhadap perilaku-perilaku AS. "Ingat, China punya cadangan devisa yang besar sehingga mudah bagi mereka mengontrol nilai mata uangnya," ujar David.

Baca: Cuma Sindiran Donald Trump, Nilai Tukar Rupiah Ikut Melemah

Halaman
1234
Editor: Hadi Al Sumaterani
Sumber: Kontan
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved