Rupiah dan Mata Uang Asia Melemah, Mungkinkah Krisis 1997 Terulang Lagi?

Dari seluruh mata uang kawasan Asia, ada beberapa mata uang yang makin melemah dalam tiga bulan terakhir.

Rupiah dan Mata Uang Asia Melemah, Mungkinkah Krisis 1997 Terulang Lagi?
KOMPAS/JITET
Ilustrasi 

Pelemahan mata uang menjadi salah satu penyebab krisis finansial Asia di tahun 1997 lalu. Ketika itu, dollar AS juga menguat setelah pulih dari krisis di awal 1990-an. Apakah kondisi saat ini bisa memicu krisis finansial Asia lagi?

Lana Soelistianingsih, Ekonom Universitas Indonesia mengatakan, gejala-gejala krisis 20 tahun lalu berbeda dengan kondisi saat ini. Pertama, dulu utang luar negeri swasta tidak tercatat.

Korporasi pun tidak banyak memiliki hedging alias lindung nilai atas pergerakan nilai tukar. Ketika nilai tukar melemah dan mendekati waktu jatuh tempo utang, maka korporasi dan swasta akan tergopoh-gopoh masuk pasar spot untuk membeli dollar.

Hal ini berbeda dengan kondisi sekarang. Utang luar negeri pemerintah dan swasta tercatat dengan baik. Perusahaan-perusahaan yang memiliki paparan utang dalam mata uang asing pun memiliki lindung nilai yang menjadi bantalan atas fluktuasi nilai tukar.

“Nilai transaksi hedging saat ini pun sudah besar, mendekati US$ 500 juta dari sebelumnya hanya US$ 100 juta,” kata Lana, Jumat(27/7).

Kedua, struktur ekonomi saat ini sudah berubah. Konglomerasi sudah tidak terpusat, terutama di dekat pemerintahan seperti sekitar 1997. “Konglomerasi sekarang ini sudah cenderung tersebar,” imbuh Lana.

Faktor lain adalah saat ini nilai tukar rupiah mendekati nilai yang sebenarnya. Ini jauh berbeda dengan kondisi 20 tahun lalu ketika nilai tukar rupiah berada di level terkendali. “Kalau dilihat dari gejala, sih, enggak. Tapi krisis adalah sesuatu yang tidak diduga,” ujar Lana.

Ekonom Bank Mandiri Andry Asmoro dalam riset yang dikutip Kontan.co.id, Rabu (25/7/2018) mengungkapkan, tantangan di negara berkembang adalah perang perdagangan AS-China yang akan mempengaruhi pertumbuhan negara-negara berkembang, mempengaruhi harga komoditas, dan pada akhirnya mempengaruhi pertumbuhan produk domestik bruto (PDB) Indonesia.

“Kebijakan Federal Reserve untuk benchmark mereka, prospek kebijakan moneter G3 yang akan berpengaruh ke negara berkembang, dan potensi efek tumpahan dari ekonomi Turki dan Venezuela,” tulis Andry.

Baca: Kurs Rupiah Terjungkal Ke Rp 14.520 Per Dollar As, Posisi Terlemah Sejak Oktober 2015

Tantangan Indonesia

Halaman
1234
Editor: Hadi Al Sumaterani
Sumber: Kontan
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved