Lubok Sukon, Potret Perkampungan Aceh Tempo Dulu

SEIRING modernisasi, keberadaan rumah tradisional semakin tergerus. Ya, rumah adat kini seolah menjadi pemandangan

Lubok Sukon, Potret Perkampungan Aceh Tempo Dulu
FERA Fernanda (21) warga Gampong Lubok Sukon, Aceh Besar melihat keluar dari jendela rumah panggung Aceh milik keluarganya di Gampong Lubok Sukon, Jumat (27/7).

SEIRING modernisasi, keberadaan rumah tradisional semakin tergerus. Ya, rumah adat kini seolah menjadi pemandangan langka. Tak terkecuali di Aceh. Namun lain halnya jika anda berkunjung ke Gampong Lubok Sukon, Kecamatan Ingin Jaya, Aceh Besar. Deretan rumah Aceh bersepuh warna coklat bata berdiri gagah di tengah pekarangan. Dipagari hijau daun teh yang memisahkan satu rumah dengan rumah lainnya. Berlatar Bukit Barisan bersaput kabut dari kejauhan. Desa wisata Lubok Sukon, mengajak Anda merasakan suasana perkampungan Aceh tempo dulu.

“Rumah ini sudah ada sejak tahun 1938. Dibangun oleh dua orang tukang dari Pidie. Ukirannya juga mereka kreasi dan selesai dalam waktu dua tahun,” beber Daini (56) tahun, warga asli setempat.

Pria yang sehari-hari berprofesi sebagai guru ini lantas dengan senang hati menuturkan filosofi rumah adat Aceh. Arsitektur rumah Aceh memiliki beberapa ruangan, yaitu serambi muka yang diperuntukkan bagi tamu laki-laki, ruang tengah khusus ruang keluarga, dan serambi belakang untuk kaum perempaun. Di ruang tengah atau yang disebut dengan rambat, ruangannya lebih tinggi dan di sisinya terdapat dua kamar. Masing-masing diperuntukkan bagi kedua orang tua dan anak perempuan yang sudah menikah. Sedangkan rumah dibangun dengan menghadap kiblat.

Pemandangan serupa juga terlihat di rumah kediaman keluarga Cut Rahmi Stesia (60) tahun. Meskipun telah melewati lintas generasi, rumahnya terawat baik. Ini terlihat dari warna cat dan ukiran yang melekat pada dinding. Interior klasik dengan sentuhan etnik yang mengisi ruangan, semakin menegaskan umur rumah tradisional tokoh masyarakat desa itu. Seperti halnya pedesaan, kebanyakan warga setempat masih mempunyai pertalian darah alias keluarga. Seperti halnya Cut dan sang keponakannya Fera, bunga desa Lubok Sukon.

“Cuma kalau rumah Aceh perawatannya butuh biaya besar. Kemarin itu pihak pemerintah sudah minta data untuk dimasukkan anggaran, tapi belum terkumpul. Di situ missnya,” aku Cut saat Serambi menyambangi kediamannya di rembang petang Jumat (27/7).

Cut bersama warga setempat kerap menerima pelancong, baik untuk jamuan makan maupun menjadikan rumah tinggal sebagai homestay. Perempuan yang masih terlihat cantik di usia senjanya itu membeberkan rahasia kelezatan masakan khas Aceh Besar. Sebut saja kuah beulangong dan sie reuboh. Ia terdengar fasih berbicara tentang citarasa dan berbagi cerita tentang petualangan rasa para pelancong. Termasuk sepenggal cerita tatkala para pesohor negeri ini, seperti artis Christine Hakim, chef Farah Quinn, dan Menteri Pemberdayaan Perempuan Yohanna Susana Yembise pernah menginjakkan kaki di sini.

Lubok Sukon adalah simbol keindahan alami. Mulai dari alamnya yang mempesona, warisan tradisi yang lestari hingga kini, dan paras gadisnya nan jelita. Datang dan buktikan sendiri.(nurul hayati)

Editor: bakri
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

berita POPULER

© 2018 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved