Home »

Opini

Opini

PKA Mau Dibawa Kemana?

SEMARAK Pekan Kebudayaan Aceh (PKA) ke-7 telah diambang pintu. Ribuan orang akan membanjiri ibu kota Provinsi Aceh

PKA Mau Dibawa Kemana?
SERAMBINEWS.COM/SUBUR DANI
Konferensi pers terkait pelaksanaan PKA 7, dihadiri Wakil Gubernur Aceh, Nova Iriansyah, Plt Kadisbudpar Aceh, Amiruddin dan tim ahli PKA 7 di kompleks Museum Aceh, Minggu (3/6/2018). 

Oleh Muchlis Gayo

SEMARAK Pekan Kebudayaan Aceh (PKA) ke-7 telah diambang pintu. Ribuan orang akan membanjiri ibu kota Provinsi Aceh, masing-masing membawa keinginan dan kepentingan, miliaran rupiah dari setiap kabupaten/kota terkuras dan mengaliri lantai hotel-hotel dan pasar-pasar di Banda Aceh. Jika kita bertanya kepada Ratu Safiatuddin si pemilik nama lokasi PKA, siapakah yang diuntungkan dan apa untungnya penyelenggaraan PKA dari 1956 sampai 2018 ini? Ratu tidak bisa menjawab, jawabanya ada pada generasi masa kini.

Menjawab untung-rugi dari penyelenggaraan PKA, kita kembali melirik kebelakang, apa tujuan penyelenggaraan PKA 1, ke-2, dan ke-3. Dari serpihaan dokumen tersisa dan pernyataan saksi hidup, tujuan PKA 1 disampaikan dalam pidato pembukaan ketua penyelenggara T Hamzah diamini oleh Gubernur Aceh alm Prof Ali Hasjmi. T Hamzah menyatakan, hendaknya PKA ini dapat memperlihatkan identitas bangsa Aceh, maksudnya penduduk asli Aceh. Tujuan PKA ke-2, menggali nilai-nilai peradaban atau budaya Aceh. PKA ke-3 bersifat pameran hasil pembangunan didukung tampilan budaya.

PKA berikutnya tidak jelas, baik tujuan maupun waktu penyelenggaraan, karena Aceh mulai berdenyut dan membara. Jika mengikuti PKA ke-2, yang kita saksikan hanya bersifat seremonial upacara pembukaan, yaitu penyerahan Gajah Putih lambang kejayaan Sultan Iskandar Muda (1607-1636) dan kedatangan Presiden RI pada saat pembukaan. Sisanya kita menyaksikan perlombaan dan pameran budaya, seperti PKA ke-2. Perbedaan ketujuh PKA hanya pada lokasi penyelenggaraan, antara Blang Padang untuk PKA 1, 2, dan 3, selanjutnya di lokasi khusus bernama Taman Ratu Safiatudin, puteri Sultan yang menyaksikan penyerahan Gajah Putih atas permintaan si puteri.

Menggerakkan ekonomi kreatif
Di bawah kepemimpinan Presiden Joko Widodo (Jokowi), sebagian besar provinsi menggali dan mengembangkan potensi wisatanya untuk menggerakkan ekonomi kreatif dengan melibatkan rakyatnya. Penyelenggraan PKA ke-7 yang sebentar lagi akan dihelat, dijadikan momentum Pemerintah Aceh untuk mengkaji ulang manfaat apa yang akan diperoleh dari penyelenggaraan PKA, dilihat dari konteks kekinian, atau era globalisasi yang dikaitkan dengan masa depan generasi muda Aceh, yang dilahirkan dari masyarakat tradisonal religius, tumbuh di masa konflik, didera oleh bencana gempa dan tsunamai 2004, dan berhadapan dengan demokrasi liberalisme yang kapitalis individualistik.

Akan lebih bermanfaat dan tepat sasaran, apabila penyelenggaraan PKA yang saat ini diselenggarakan di tingkat provinsi, dijadikan sebagai Pekan Pameran Pembangunan Aceh (P3A). Pekan kebudayaan sebaiknya diselenggarakan di setiap kabupaten/kota dengan pesertanya dari setiap kecamatan. Pekan kebudayaan kabupaten/kota, akan memberi ruang untuk menggali kembali potensi kebudayaan dalam arti luas, seperti organisasi sosial, sistem peralatan hidup dan teknologi, sistem mata pencarian hidup, bahasa, kesenian, dan agama. Dengan demikian secara alamiah terjadi proses tranformasi budaya keacehan kepada generasi muda dan masyarakat.

PKA kabupaten/kota dapat menjadi pilar utama Visit Aceh Years, peran Pemerintah Aceh dan pusat membangun infrastruktur, sarana dan prasarana menuju destinasi wisata di setiap kabupaten/kota, dan mempromosikannya, serta menyusun jadwal penyelenggaraan kegiatan event tahunan. Pengaturan jadwal untuk dua kabupaten/kota dalam satu bulan, misalnya; Kabupaten A pada tanggal 1 sampai 7, dilanjutkan di Kabupaten B pada tanggal 15 sampai 22, dan bulan berikutnya dua kabupaten/kota lainnya, atau bisa saja di saat peringatan hari ulang tahun (HUT) dari masing-masing kabupaten/kota.

PKA kabupaten/kota dilaksanakan secara teratur dan terjadwal, diprmosikan secara profesional, maka sepanjang tahun daerah Aceh akan dikunjungi ribuan wisatawan domestik maupun asing. Para wisatawan dapat menjadwalkan rencana kunjungan ke kabupaten mana yang akan dikunjunginya untuk melihat langsung keunikan budaya, keindahan alam pegunungan, pantai laut, danau, dan menikmati keragaman kuliner, serta kerajinan rakyat Aceh dari seluruh ethnis di Aceh.

Jatidiri keacehan
Selama penyelenggaraan PKA terpusat di Banda Aceh, dengan kucuran dana miliaran rupiah belum terlihat ada manfaat langsung kepada rakyat di kabupaten/kota lain. Dana miliaran tersebut hanya dinikmati oleh panitia dan peserta PKA dan rakyat, serta Pemerintah Kota Banda Aceh. Pekan kebudayaan kabupaten/kota akan menggerakkan masyarakat desa untuk kembali memproduksi kuliner dan kerajinan tradisional rakyat untuk cenderamata yang dijual saat penyelenggaraan kegiatan budaya tersebut.

Apabila Pemerintah Aceh tetap mempertahankan event empat tahunan tersebut yang dipusatkan di Banda Aceh, sebaiknya tema dan acara setiap penyelenggaraan PKA mengadopsi PKA ke-2, yaitu untuk menemukan kembali jatidiri keacehan sebagai dasar orientasi pembangunan Aceh. Dengan catatan, kita harus meninggalkan ego kesukuan dan kedaerahan bila berhadapan dengan fakta sejarah antara asli dan pendatang, serta hindari praktik penyeragaman budaya dengan cara memperlombakan karya seni milik satu etnis yang ada di Aceh saja. Tampilkan keragaman budaya masing-masing etnis, karena itulah budaya Aceh.

* Muchlis Gayo, S.H., M.Si., pemerhati budaya dan pelaku PKA II dan IV. Email: muchlisgayo@yahoo.co.id

Editor: bakri
Ikuti kami di
KOMENTAR

berita POPULER

TRIBUNnews.com Network © 2018
About Us
Help