Opini

Taman Sari Para Sufi

PERDEBATAN tentang pendirian bangunan dalam kawasan Ruang Terbuka Hijau (RTH) Taman Sari di Kota Banda Aceh

Taman Sari Para Sufi
IST
Foto 3D Panggung Taman Sari Banda Aceh. 

Oleh Fauzan Santa

PERDEBATAN tentang pendirian bangunan dalam kawasan Ruang Terbuka Hijau (RTH) Taman Sari di Kota Banda Aceh kembali terulang. Sejatinya sebuah taman berisi pepohonan, rerumputan, mata air, dan aktivitas santai para warga kota. Setiap pimpinan kota berganti selalu tersisa bangunan permanen tanpa fungsi di kawasan hijau Taman Sari.

Para pemimpin selalu berusaha menafsir ulang aturan tataruang kota dan melihat kemungkinan untuk mewujudkan “monumen personal” di jantung kota bekas Kerajaan Aceh Darussalam. Para akademisi Universitas Syiah Kuala (Unsyiah) sudah mengingatkan untuk menghentikan pendirian bangunan panggung permanen di kawasan hijau tersebut. Ada langkah awal sebelum membangun di ruang milik publik, yaitu uji publik (Serambi, 29/7/2018). Warga berhak dan berdaulat atas RTH.

Sebuah taman adalah ruang perjumpaan. Di mana saja, taman menjadi tempat terbuka untuk berbagai interaksi lintas sektoral, sarana belajar sambil merenung, menjalin komunikasi antar-individu serta melepas diri dari tekanan rutin kehidupan. Dari sana pula sekian gagasan besar bisa ditumbuhkan, karena ruang terbuka selalu memberi rangsangan spontan untuk sebuah rekreasi. Jelasnya, taman-taman, apakah Taman Sari, taman kota, hutan kota, mampu memancing imajinasi para pengunjung untuk mencipta dan memberi perubahan atas segala persoalan hidup sehari-hari. Sebuah taman adalah ruang publik paling demokratis dan eksistensial.

Di sisi lain, keberadaan taman-taman juga berguna untuk merawat hasil-hasil produksi kesenian, kebudayaan dan pemikiran sebuah bangsa serta mengomunikasikan secara massif kepada setiap generasi baru. Di samping memakai medium lain seperti buku, film, kriya dan grafis, perkembangan budaya dalam sebuah masyarakat juga dapat disaksikan dari materi-materi kultural yang tertata baik pada sebuah taman. Sebab, menurut Sartono Kartodirdjo (1987) kebudayaan berfungsi untuk mendramatisir makna kehidupan yang mengajarkan kita bertindak. Perkembangan fase-fase masyarakat sangat ditentukan oleh nilai-nilai kebudayaan dan karena itu pula semua monumen dari masa silam adalah monumen estetis, bukan panggung pertunjukan atau gedung serbaguna tanpa nilai historis.

Dalam hubungan ini, perlu ditekankan bahwa karya seni budaya mempunyai dua aspek, yaitu spiritualitas dan kehidupan sosial. Sejarah kesenian yang memandang seni sebagai simbol kosmis dapat menarik kesimpulan eksistensial tentang ada (being), pengetahuan, kepercayaan dan nilai-nilai. Dan pada puncaknya, pembangunan sebuah taman indah di lingkungan Keraton Kerajaan-kerajaan Islam Nusantara, dalam hal ini Keraton Aceh, selalu membawa pesan religiusitas tinggi dengan cita-rasa sufistik mendalam. Tentu dalam sejumlah perkara arsitektural mendapat pengaruh kuat dari tradisi mistik kerajaan Islam dari India. Tulisan pendek ini mencoba mengurai relasi simbolik Taman Ghairah, Keraton Aceh Darussalam dengan nilai-nilai sufisme.

Taman belajar
Bicara taman para raja di keraton Kerajaan Aceh Darussalam langsung mengingatkan kita pada judul satu kitab kuno paling terkenal, Bustanussalathin (Taman Raja-raja) karya Nuruddin Ar-Raniry (wafat 1658). Menurut Abdul Hadi WM (2010), kitab sejarah yang memuat lengkap cerita tentang ratusan macam bunga di Gunongan, keindahan sungai dan taman-taman keraton, reusam istana Darud-dunya, segala adat sambut tamu dan perayaan hari-hari besar Islam sampai upacara kematian. Pengarang kitab itu seorang ulama sufi, sastrawan dan ahli Islam terkemuka abad ke-17 Masehi yang berkampung di Ranir, India, dan sempat menjadi penasihat di Kerajaan Aceh Darussalam pada masa Sultan Iskandar Tsani (wafat 1641).

Kitab itu mulai ditulis pada 4 Maret 1638, atas permintaan Sultan Iskandar Tsani dengan maksud sebagai monografi lengkap yang bersifat keagamaan dan sekaligus sejarah (Dennys Lombard, 2006). Di dalamnya, uraian khas tentang Taman Ghairah dan Gunongan menempati Bab II Fasal 13 yang berisi: Pertama, sejarah singkat kerajaan Aceh Darussalam sejak didirikan oleh Sultan Ali Mughayatsyah pada 1516 sampai masa Sultan Iskandar Tsani bertakhta pada 1637. Dan, bagian kedua memuat perihal Gunongan dan Taman Ghairah, dan terkahir tentang upacara pula batee pada pusara Sultan Iskandar Tsani oleh istrinya Sultanah Tajul A’lam Safiatuddinsyah. Singkatnya, keliru jika Taman Sari kota Banda Aceh diberi nama untuk meringkas khazanah kitab tebal yang mengurai lengkap keajaiban sebuah keraton dengan sejumlah besar taman-tamannya.

Taman Sari hanya satu bagian kecil dari Taman Raja-raja (Bustanussalatin) yang disebut Taman Ghairah. Berlokasi di sebelah Barat Daya Keraton Aceh. Nuruddin Ar-Raniry, menurut Teuku Iskandar (Izziah Hasan, 2009), menjelaskan secara mendetil pengaruh pola taman Kerajaan Mughal pada desain Taman Ghairah yang berbentuk serupa lapangan terbuka dikelilingi dinding batu, sementara lantainya berhias batu-batu aneka warna, lengkap dengan lima puluh jenis pohon dan tanaman bunga. Kemudian hamparan sungai Aceh membelah taman dan mengalir di bawah istana. Beberapa bangunan yang pernah dibangun dalam taman yang masih tersisa hingga sekarang adalah Gunongan, Leusong di kaki Gunongan, Kandang, dan Pinto Khob, yang menghubungkan istana dan taman.

Di samping itu, sungai yang mengalir dalam taman yang dibangun sejak masa Sultan Iskandar Muda itu merupakan inti peradaban ruang terbuka hijau dalam kosmologi Aceh sebagaimana dijelaskan oleh Teuku Iskandar dalam De Hikajat Atjeh; ada suatu sungai yang mata airnya terbit dari gua batu. Maka airnya terlalu amat sejuk lagi amat manis. Maka nama air sungai itu Dar-al-‘isyik. Segala raja akan bersantap dari air itu.

Halaman
12
Editor: bakri
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

TRIBUNnews.com Network © 2018
About Us
Help