Opini

Taman Sari Para Sufi

PERDEBATAN tentang pendirian bangunan dalam kawasan Ruang Terbuka Hijau (RTH) Taman Sari di Kota Banda Aceh

Taman Sari Para Sufi
IST
Foto 3D Panggung Taman Sari Banda Aceh. 

Dalam tradisi Islam, taman dalam istana dikaitkan untuk menciptakan suasana seperti dalam surga. Taman-taman yang terdapat dalam istana kerajaan Persia, Mughal, Arab dan Andalusia merupakan lambang kebesaran kerajaan-kerajaan itu. Ia harus ada sungai yang mengalir, pohon-pohon yang rindang dan lebat buah, aneka bunga yang indah dan harum semerbak, persis gambaran yang diberikan Alquran tentang surga. Tak heran jika dalam sejumlah laporan perjalanan para utusan bangsa Eropa, semisal Cornelis de Houtman (1565-1599), Peter Mundy (1600-1667), James Lancaster (1554-1618), dan Thomas Best, menyebutkan betapa indah dan agung prosesi mandi di sungai dalam taman kerajaan, serta perjamuan meriah para raja di tepi sungai yang mencengangkan (Anthony Reid, 1988).

Adapun fungsi taman bukan sekadar untuk tempat bersenang-senang, seperti bercengkrama dengan permaisuri atau putri-putri istana bermain-main. Taman dalam istana kerajaan Islam punya beberapa fungsi khusus seperti tempat sultan menerima pelajaran tasawuf dari guru keruhaniannya dan juga tempat sultan menjamu tamu agung dari kerajaan lain. Masa Sultan Iskandar Tsani berkuasa perluasaan Taman Ghairah dipercantik dengan pembangunan tembok-tembok sepanjang tepi sungai, serta merehab Gunongan “taman permata” sebagai tempat untuk meditasi atau merenung-diri dalam sunyi dan membangun sebuah masjid di sana dengan nama `Isky Musyahadah.

Taman surga
Di Aceh, Hamzah Fansuri (wafat 1590) adalah sufi-sastrawan pertama yang menorehkan pengaruh mendalam ajaran tasawuf wihdatul wujud, disambung oleh para murid seperti Syamsuddin As-Sumatrani yang sempat menjadi penasihat kerajaan semasa Sultan Iskandar Muda (1607-1636). Ar-Raniry sendiri penganut paham wahdatul wujud yang lebih moderat dan mengamalkan Tarekat Rifa’iyah yang sudah bercabang lama di Gujarat. Jadi jelas sekali peran penting para sufi dan tarekat mereka dalam lingkungan keraton Aceh sehingga sangat pemberian nama-nama taman dan sungai di sekitar Dalam Aceh setelah mendengar petunjuk dari guru-guru sufi tempat raja dan para keluarga bangsawan belajar ilmu agama.

Tersebab nama-nama yang digunakan untuk taman dan sungai di lingkungan istana Kerajaan Aceh Darussalam sangat khas bernuasa sufistik, sebagaimana uraian dalam kitab di atas. Tak heran jika kemudian para sejarawan peminat Aceh menegaskan bahwa makes clear that this way a garden not simply for pleasure, but for that highest from pleasure represented by the mystic communion with God (Anthony Reid, 1988). Lebih jauh, Denys Lombart dan Lode Brakel menegaskan bahwa Taman Ghairah memiliki pola sama dengan dengan taman di Keraton lain semisal taman sari di Kesultanan Yogyakarta, Solo dan Cirebon dan kota-kota tradisional lain.

Dalam estetika sufi, karya seni atau sastra dipandang sebagai representasi simbolik dari gagasan dan pengalaman kerohanian, sehingga yang ditekankan ialah keindahan ruhani yang mengacu pada kebajikan, kearifan, dan kesalehan. Gambaran tentang taman ghairah dan dengan demikian sarat pula dengan makna simbolik, bahkan punya kaitan dengan konsep kekuasaan dan politik (Abdul Hadi WM, 2010). Konsep ‘Isyk, misalnya, dalam terminologi sufistik bermakna bermunajat kepada-Nya hingga melebur diri dalam kenikmatan tiada tara. Begitu juga dengan istilah ghairah yang memproyeksikan semangat luar biasa untuk bermuka-muka dengan-Nya. Tentulah dengan pengertian tersebut diharapkan mampu menjadi spirit ruhaniah para bangsawan dalam melakukan aktivitas politik-kenegaraan.

Taman Ghairah dalam keraton Darud-dunya Kerajaan Aceh Darussalam, lengkap dengan sebatang sungai Darul ‘Isyk yang membelah istana dibangun tak semata sebagai tempat bersuka atau ruang menerima tamu raja dan kerabat, melainkan juga sebagai ruang kontemplasi dan “berasyik” dengan Tuhan dalam kesunyian. Taman Ghairah seperti menduplikasi “Taman Surga” di bumi, manakala kenikmatan lahir dan batin dapat diraih serentak dalam lanskap hindasah ar-ruhaniyah (arsitektur transendental). Keseimbangan kosmis “dua-dunia” itu juga menegaskan sebuah konservasi ruang terbuka hijau bersejarah yang mampu memberi inspirasi bagi kejayaan sebuah bangsa. Demikian efek samping selingkup taman, dan sebuah perjumpaan dengan-Nya.

Lantas, di mana posisi bangunan-bangunan beton hari ini berhadapan dengan sejarah, fungsi dan pengertian Taman Sari yang hakiki? Perpustakaan dan museum kota bisa berafiliasi ke ruang-ruang Museum Aceh, panggung kesenian sudah permanen di Taman Budaya dan Gedung-gedung Serbaguna lain yang merata di kota Banda Aceh. Fungsi ekologis Taman Sari yang utama harus dikembalikan dan itu “sangat permanen”. Sepuluh alasan Pemko Banda Aceh membangun panggung permanen seperti estetika, pemberdayaan ekonomi, destinasi wisata, ruang publik baru, pendapatan daerah dan dukungan DPRK Banda Aceh (Serambi, 30/7/2018), harus dikaji kembali melalui mekanisme uji publik.

* Fauzan Santa, Rektor Sekolah Menulis Dokarim Banda Aceh. Email: santamane@gmail.com

Editor: bakri
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved