Dua Terdakwa Prostitusi Online Dituntut Penjara

Masih ingat kasus prostitusi online yang pelakunya ditangkap di sebuah hotel di Jalan Soekarno-Hatta

Dua Terdakwa Prostitusi Online Dituntut Penjara
Kapolresta Banda Aceh, AKBP Trisno Riyanto SH didampingi Kasat Reskrim AKP M Taufiq memperlihatkan dua tersangka prostitusi online, yaitu germo bernama MRS alias Andre dan seorang perempuan Ay, saat konferensi pers di Mapolresta Banda Aceh, Selasa (10/4). Kapolresta Banda Aceh membatah bahwa telah melepas pelaku prostitusi online yang diciduk personelnya akhir Maret lalu. SERAMBI/BUDI FATRIA 

BANDA ACEH - Masih ingat kasus prostitusi online yang pelakunya ditangkap di sebuah hotel di Jalan Soekarno-Hatta, Aceh Besar, Rabu 21 Maret lalu oleh personel Unit Perlindungan Perempuan dan Anak (PPA) Satuan Reskrim Polresta Banda Aceh? Keduanya ternyata sudah dituntut hukuman penjara oleh JPU Kejari Aceh Besar dalam sidang lanjutan di Pengadilan Negeri Jantho, 26 Juli 2018.

Kedua terdakwa adalah M Royan Sahputra (28) selaku germo. Ia dituntut tiga tahun penjara dan Herimeni (28) selaku pekerja seks komersial (PSK) dituntut dua tahun penjara.

Informasi itu baru diketahui Serambi dari JPU Muhadir SH pada Rabu (1/8). “Germo dituntut 36 bulan atau tiga tahun penjara dan yang cewek dituntut 24 bulan atau dua tahun penjara,” katanya.

Dia menyatakan kedua terdakwa disidangkan terpisah dengan majelis hakim yang berbeda. Selama persidangan masing-masing terdakwa tanpa didampingi pengacara. Keduanya didakwa melanggar Pasal 33 Ayat 3 Juncto Pasal 6 Qanun Jinayat.

Sebelumnya, personel dari Unit PPA Satuan Reskrim Polresta Banda Aceh berhasil menangkap Andre dan Ayu, pelaku bisnis esek-esek secara online di sebuah hotel di Jalan Soekarno-Hatta, Aceh Besar pada Rabu 21 Maret lalu.

Itu penangkapan kasus prostitusi online ‘jilid dua’ yang berhasil dibongkar personel dari Unit PPA Satuan Reskrim Polresta Banda Aceh setelah sebelumnya menangkap pelaku prostitusi online di wilayah Kota Banda Aceh, Minggu, 22 Oktober 2017.

Kapolresta Banda Aceh, AKBP Trisno Riyanto SH, menyampaikan, pembongkaran bisnis esek-esek itu dilakukan dengan menyamar sebagai pelanggan dan ingin memesan dua wanita di bawah ‘binaan’ sang germo, M Royan.

Dari komunikasi dengan M Royan melalui WhatsApp diperoleh gambaran tarif untuk dua PSK yang salah satunya Herimeni, yaitu Rp 4 juta. Setelah sepakat dengan tarif, selanjutnya petugas yang menyamar sebagai pelanggan menuju hotel dan menyerahkan uang kepada si germo.

Singkat cerita, petugas berhasil mengamankan M Royan, pria asal Tanjungpura, Langkat, Sumatera Utara bersama Herimeni, wanita asal Simeulue selaku PSK di hotel. Selain mengamankan dua pelaku, kemudian petugas juga menjemput lima wanita lain yang masuk ‘bekerja’ pada Andre.

Namun, dari tujuh orang yang diamankan tersebut, hanya M Royan dan Herimeni yang dijadikan tersangka oleh polisi. Sementara yang lainnya dikembalikan kepada orang tua masing-masing karena tidak tertangkap basah.

Mereka yang dikembalikan adalah MJ (23) Aceh Tengah, RM (23) asal Bireuen dan empat wanita lainnya asal warga Kota Banda Aceh, masing-masing berinisial CA (24), DS (24), RR (21), dan IZ (23).

JPU Muhadir SH juga menyampaikan setelah mendengarkan pembacaan tuntutan, sidang dilanjutkan dengan mendengarkan pembelaan (pleidoi) dari terdakwa. Pada intinya, terdakwa meminta kepada majelis hakim agar tidak dipenjara, melainkan dicambuk dimuka umum.

“Isi pledoi kedua terdakwa pada intinya minta dicambuk saja,” katanya. Namun untuk mendengarkan putusan majelis hakim, sidang ditunda sampai Kamis (2/8) hari ini.

Muhadir menjelaskan, alasan pihaknya menghukum para terdakwa dengan kurungan badan, bukan cambuk, untuk memberikan efek jera kepada pelaku. “Karena perbuatan kedua terdakwa tersebut sangat meresahkan masyarakat dan untuk menjaga marwah syariat Islam,” katanya.

“Kalau cuma dicambuk, setelah cambuk bisa langsung pulang dan dikhawatirkan mengulangi perbuatannya,” pungkasnya.(mas)

Editor: bakri
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

TRIBUNnews.com Network © 2018
About Us
Help