Tafakur

Keuntungan Merusak

Sungguh tega sebahagian orang yang mengutamakan keuntungan pribadi, tetapi merusak orang lain

Keuntungan Merusak
Tafakur

Oleh: Jarjani Usman

“Tunaikanlah amanat kepada orang yang menitipkan amanat padamu” (HR. Abu Daud & At Tirmidzi).

Sungguh tega sebahagian orang yang mengutamakan keuntungan pribadi, tetapi merusak orang lain. Seperti para penjual makanan yang sengaja memasukkan bahan-bahan yang berbahaya bagi kesehatan. Akibatnya orang lain mengalami keracunan dan terganggu kehidupannya. Sesungguhnya itu termasuk perbuatan mengeruk keuntungan di atas penderitaan orang lain.

Padahal kalau jujur diakui, para pembeli sudah membantu kehidupan penjual dan keluarganya, dengan membeli barangnya. Dengan kata lain, para pembeli sudah memberikan kepercayaan atau menitipkan amanah kepada penjual untuk menyediakan makanan yang mengenyangkan dan menyehatkan bagi mereka. Jadi penjual harusnya melaksanakan amanah itu dengan baik, dan insya Allah berpahala. Bukan mengkhianatinya dengan menaruh unsur-unsur yang menimbulkan kerusakan terhadap tubuh orang-orang yang memakannya.

Mengkhianati amanah orang lain bukanlah sifat orang Mukmin. Orang Mukmin akan berusaha untuk senantiasa menunaikan amanah. Apalagi dari pekerjaannya, akan menghasilkan nafkah yang akan diberikan kepada diri-sendiri, anak-anak, isteri, dan orang lain sebagai sedekah. Semua itu tak akan berpahala sedekah jika menimbulkan kecelakaan bagi orang lain.

Editor: hasyim
Ikuti kami di
KOMENTAR

berita POPULER

TRIBUNnews.com Network © 2018
About Us
Help