Petahana pun Tumbang

UJI mampu baca Quran untuk bakal calon legislatif (bacaleg) di Aceh telah berakhir pada 31 Juli 2018. Dari 10.342 bacaleg

Petahana  pun Tumbang
SERAMBINEWS.COM/KHALIDIN
Lima pasang bakal calon wali kota/wakil wali kota Subulussalam mengikuti uji baca Alquran, Kamis (11/1/2018) di Masjid Almunawarah, Subulussalam Selatan. 

* Lebih dari 300 Bacaleg Gugur dalam Tes Baca Quran

UJI mampu baca Quran untuk bakal calon legislatif (bacaleg) di Aceh telah berakhir pada 31 Juli 2018. Dari 10.342 bacaleg yang didaftarkan partai politik (parpol) ke Komisi Independen Pemilihan (KIP) di semua tingkatan (DPRA dan DPRK), lebih dari 300 orang di antaranya dinyatakan gugur.

Jumlah bacaleg yang gugur dalam tes baca Quran ini belum termasuk mereka yang gugur karena tidak ikut tes yang jumlahnya diperkirakan juga tak kalah banyak. Disinyalir, banyak dari mereka yang tidak ikut karena tak bisa baca Quran.

Fenomena ini tentu menjadi sebuah ironi di daerah yang menerapkan syariat Islam. Sebegitu parahkan tingkat buta Quran di nanggroe ini? Atau memang standar penilaiannya yang memang sudah sangat ketat?

Untuk diketahui, penerapan uji baca Quran telah diterapkan sejak pemilu legislatif 2009 dan telah diatur secara tegas melalui qanun. Apakah ini tidak dijadikan acuan bagi parpol dalam merekrut kader atau memang parpol tengah mengalami krisis kader sehingga sembarang comot demi terpenuhinya kuota pencalonan?

UJI mampu membaca Quran merupakan salah satu tahapan yang wajib diikuti oleh semua bakal calon wakil rakyat yang hendak mengikuti kontestasi dalam pemilu legislatif (pileg) di Aceh. KIP selaku penyelenggara diwajibkan melaksanakan tahapan tersebut lantaran diamanahkan dalam Undang-Undang Nomor 11 Tahun 2006 tentang Pemerintahan Aceh (UUPA).

Aturan itu juga diperkuat dengan Qanun Aceh Nomor 3 Tahun 2008 tentang Partai Politik Lokal Peserta Pemilihan Umum Anggota Dewan Perwakilan Rakyat Aceh dan Dewan Perwakilan Rakyat Kota/Kabupaten. Pada pada poin c Bab IV tentang Persyaratan dan Mekanisme Pencalonan Anggota DPRA dan DPRK disebutkan, bacaleg harus sanggup menjalankan syariat Islam secara kaffah serta dapat membaca Alquran bagi yang beragama Islam.

Tapi faktanya, banyak bacaleg yang justru terjegal oleh aturan ini. Pada tingkatan DPRA, dari 1.338 bacaleg yang didaftarkan, sebanyak 41 orang dinyatakan gugur. Anehnya, di antara mereka yang gugur itu ada seorang anggota DPRA yang saat ini sedang menjabat alias petahana (incumbent).

Informasi yang diperoleh Serambi, petahan tersebut merupakan kader salah satu partai nasional (parnas) yang pernah mengikuti uji mampu baca Quran pada Pileg 2014 lalu dan saat itu ia dinyatakan lulus. Lantas mengapa dalam tes kali ini ia dinyatakan tak lulus? Apakah penyelenggara ikut bermain atau standar penilaian yang memang lebih ketat dibanding sebelumnya?

Beberapa bacaleg DPRA yang tak lulus mensinyalir jika penyelenggara memang ikut bermain. Salah seorang bacaleg dari wilayah barat-selatan Aceh mengaku sering membaca Quran meski tidak rutin setiap hari. Saat dites, ia disuruh membaca dua ayat pada Surah Ali Imran, yakni dari ayat 68 hingga ke-70.

“Namun, setelah dua ayat, ia langsung disuruh stop oleh juri. Saya dinyatakan tidak lulus. Saya pribadi merasa bisa karena sejak awal saya sudah dinyatakan bisa mengaji oleh partai, sebab di partai juga dites. Tapi ya sudahlah, meski kecewa saya sudah menerimanya,” ucapnya.

Halaman
123
Editor: hasyim
Ikuti kami di
KOMENTAR
TRIBUNnews.com Network © 2018
About Us
Help