Caleg Harus Bisa Mengamalkan Alquran

Guru Besar Universitas Islam Negeri (UIN) Ar-Raniy, Banda Aceh, Prof Yusny Saby PhD, mengaku prihatin

Caleg Harus Bisa Mengamalkan Alquran
SERAMBINEWS.COM
Prof Dr Yusny Saby, PhD 

* Bukan Hanya Sekadar Bisa Membaca

BANDA ACEH - Guru Besar Universitas Islam Negeri (UIN) Ar-Raniy, Banda Aceh, Prof Yusny Saby PhD, mengaku prihatin karena banyaknya para bakal calon anggota legislatif (bacaleg) Aceh tahun ini yang gugur akibat tak mampu membaca Alquran. Menurutnya, ini persoalan serius karena berkaitan dengan cerminan kesadaran masyarakat Aceh dalam pemahaman nilai-nilai keislaman.

“Saya rasa ini masalah utama sekali, ini soal kesadaran keluarga-keluarga muslim dalam pemahaman agama, terhadap pentingnya mempelajari ilmu agama. Dulu kita tak mendengar isitilah tidak mampu membaca Alquran. Bahwa banyak yang tidak bisa baca huruf Latin iya, tapi kalau tak mampu baca huruf Arab itu jarang sekali,” kata Yusny Saby kemarin menanggapi liputan eksklusif Serambi, Sabtu (4/8), berjudul Petahana pun Tumbang. Judul singkat itu menggambarkan bahwa lebih dari 300 bacaleg se-Aceh kali ini gugur dalam tes baca Quran.

Terkait fakta banyaknya bacaleg yang gugur, Yusny mengatakan, seharusnya tes baca Alquran itu tidak lagi dilakukan kepada para bacaleg.

Menurut mantan rektor UIN Ar-Raniy ini, tes mampu baca Alquran seharusnya diujikan untuk level siswa di madrasah atau di sekolah dasar. Sedangkan untuk para bacaleg atau calon pejabat, seharusnya yang diujikan itu adalah soal tentang pengamalan nilai-nilai yang terkadung di dalam Alquran.

“Ada tiga tingkatan bagi seorang muslim terhadap Alquran. Pertama, mampu membaca dan menghafal, kedua memahami isi kandungan Alquran, dan ketiga mampu mengamalkannya. Nah, kemampuan membaca itu levelnya kepada calon siswa, kalau memahami itu untuk calon guru, mahasiswa, ustaz, dan dosen. Tapi calon pejabat, harus bisa mengamalkan ajaran-ajaran yang terkandung dalam Alquran,” katanya.

Oleh karena itu, uji mampu baca Alquran yang dilakukan kepada para calon pejabat di Aceh sebenarnya tingkatan paling dasar dan seyogianya itu harus mampu dilewati oleh para bacaleg di Aceh. “Kalau uji baca Alquran itu sudah lewat, masanya ya ketika sekolah dulu. Tapi sekarang ini sangat ironis kita lihat bahwa banyak bacaleg yang tidak mampu baca Quran,” ujarnya.

Lebih lanjut, Prof Yusny Saby mengatakan, ramainya bacaleg yang gugur tes baca Quran, sekilas mengindikasikan gejala kemunduran keluarga muslim di Aceh dalam upaya memahami nilai-nilai agama, terutama yang paling dasar, yakni membaca Alquran. “Tampaknya itu sudah berkurang, ada gejala ke situ. Secara umum kesadaran kita tidak lagi menempatkan hal itu sebagai prioritas utama,” katanya.

Yusny menilai, salah satu faktor atas fenomena banyaknya bacaleg tak mampu baca Quran adalah lantaran lemahnya penguatan keislaman di tingkat keluarga, karena keluarga zaman sekarang lebih menekankan pentingnya pendidikan yang modern atau canggih, padahal pendidikan agama dan akhlak jauh lebih penting.

Oleh karena itu, ketika disebut ada perkembangan keislaman di Aceh, menurut Yusny, memang ada. “Tapi perkembangan dari segi simbolis, tidak menyentuh subtansi. Ini yang penting diingat, simbolis itu seperti musabaqah, perlombaan kaligrafi, tidak kepada inti ajaran, termasuk bisa membaca Alquran,” demikian Yusny Saby. (dan)

Editor: bakri
Ikuti kami di
KOMENTAR
TRIBUNnews.com Network © 2018
About Us
Help