Salam

Gelarlah Festival Budaya Lokal Yang Laku Dijual

Perhelatan Pekan Kebudayaan Aceh (PKA) Ke-7 berlangsung meriah dan spektakuler (menakjubkan) di Stadion Harapan Bangsa

Gelarlah Festival Budaya Lokal Yang Laku Dijual
ist
Kontingen Aceh Selatan menampilkan atraksi legenda seekor Naga pada acara Pawai PKA 7, Senin (6/8/2018). 

Perhelatan Pekan Kebudayaan Aceh (PKA) Ke-7 berlangsung meriah dan spektakuler (menakjubkan) di Stadion Harapan Bangsa, Lhong Raya, Banda Aceh, Minggu (5/8) malam. Sekitar 30.000 undangan dan pengunjung dari berbagai daerah menyaksikan pembukaan pekan budaya paling akbar se-Aceh tersebut. Decak kagum penonton tak bisa disembunyikan saat berbagai aktraksi budaya dan tradisi disuguhkan secara apik dan menawan.

Pembukaan diawali dengan tabuhan rapa-i pasee yang dimainkan puluhan orang diselingi dengan syair wamulee yang dilantunkan penyanyi Aceh, Joel Pasee. Kemudian, giliran penyanyi muda Aceh, Syahrial Amoba yang membawakan theme song PKA VII yang begitu merdu diiringi musik tradisi dan modern.

Seratusan penari guel dari Aceh Tengah disambut dengan sorak-sorai dan gemuruh tepuk tangan tak henti-hentinya terdengar saat para penari asal Tanah Gayo itu beraksi yang diselingi puisi oleh pensyair Fikar W Eda.

Penampilan yang paling ditunggu-tunggu adalah tari massal 1.100 penari dari berbagai sanggar seni yang ada di Banda Aceh dan Aceh Besar. Perpaduan lighting yang dinamis membuat gerak tari sangat indah, ritmis dan dinamis, dengan gerakan-gerakan tradisi, hingga membentuk logo dan lambang PKA Ke-7. Penampilan-penampilan ini membuat pembukaan hajatan budaya empat tahunan itu begitu spektakuler.

Mendikbud, Prof Dr Muhadjir Effendy yang membuka PKA Ke-7, menyampaikan permohonan maaf Presiden Jokowi yang urung datang ke Aceh untuk membuka PKA VII, sebagaimana dijadwalkan semula. “Atas nama Pemerintah RI, saya menyampaikan apresiasi yang setinggi-tingginya atas terselenggaranya event megah ini,” kata Muhajir.

Terselenggaranya event PKA Ke-7 ini, menurut Muhajir, menunjukkan bahwa masyarakat Aceh sangat menjunjung tinggi budaya dan menghormati keberagaman suku dan etnis yang ada. “Sehingga diperlukan event dengan interval yang lebih singkat untuk menggelorakan dan merayakannya,” ulas Muhajir.

Namun, di balik kemegahan pembukaan itu, ada satu target sebetulnya yang juga ingin dicapai dari perhelatan PKA yang menelan dana bermiliar-miliar rupiah itu, yakni menarik wisatawan luar Aceh dan mancanegara. Kasarnya, jangan sekadar mengeluarkan duit, tapi juga cari duit.

Dan, untuk mencari duit, banyak daerah di arena PKA itu yang menjadikan stannya untuk menjual berbagai produk lokal mereka, termasuk makanan.

Namun, itu saja tidak cukup, sebab PKA ini hanya digelar empat tahun sekali dan di Banda Aceh. Padahal, untuk bisa “jualan” produk dan potensi-potensi masing-masing kabupaten/kota tidak cukup efektif melalui PKA yang terpusat di ibukota provinsi.

Jadi, harus dipikirkan supaya kalender even PKA yang empat tahun sekali itu bisa dibreakdown oleh masing-masing kabupaten/kota menjadi setahun atau dua tahun sekali. Misalnya, untuk dataran tinggi Gayo dibikin festival tahunan, katakanlah “Festival Laut Tawar” dengan menawarkan keindahan alam, citarasa kopi, seni budaya, serta berbagai produk pertanian di sana.

Demikian juga di Sabang, Aceh Selatan, serta daerah-daerah lainnya. Dengan membuat kalender even tahunan, para traveler atau wisatawan akan lebih gampang mengingat dan menjadwalkan kunjungannya setiap tahun. Tentu, jangan lupa promosi secara tiada henti dan kita harus kembangkan terus kreativitas serta inovasi.

Editor: bakri
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved