Home »

Opini

Opini

‘Demam Panggung’

PEMBANGUNAN panggung permanen di Taman Sari (Serambi, 20/7/2018), telah membuka ruang diskusi tentang urgensi

‘Demam Panggung’
IST
Foto 3D Panggung Taman Sari Banda Aceh. 

(Paradigma Pengelolaan RTH Kota Banda Aceh)

Oleh Sylvia Agustina

PEMBANGUNAN panggung permanen di Taman Sari (Serambi, 20/7/2018), telah membuka ruang diskusi tentang urgensi fasilitas tersebut di kalangan warga. Ada pro dan kontra tentunya. Situasi tersebut bahkan memancing perdebatan di kalangan politisi dan wakil rakyat yang mungkin kecolongan atau mengantuk ketika terjadi pembahasan anggaran proyek ini.

Memanasnya pembicaraan soal panggung hendaknya tidak berhenti sebatas kontroversi sesaat, apalagi sekadar komoditas politik, tetapi juga menuntut semua pihak untuk mencermati dan mengawal setidaknya dua hal penting, yaitu kebijakan pengelolaan ruang terbuka hijau (RTH) dan pelibatan masyarakat umum dalam proses perencanaan kota.

Pemerintah kota Banda Aceh sebagaimana dilansir dalam beberapa media dan forum menyatakan bahwa ada kebutuhan panggung permanen, karena meningkatnya intensitas pelaksanaan berbagai acara. Perwakilan pemerintah berargumen bahwa fasilitas seharga hampir Rp 2 miliar tersebut akan menghemat anggaran penyewaan panggung temporer yang selama ini dilakukan. Lebih lanjut dikemukakan pula bahwa pembangunan panggung tidak menyalahi ketentuan koefisien dasar bangunan (KDB) untuk RTH, yaitu dalam rentang 20-30% untuk lahan terbangun (70-80% untuk lahan tidak terbangun). Mari kita cermati lebih jauh kedua hal tersebut.

Pengamatan kawasan Taman Sari dengan menggunakan citra satelit melalui aplikasi Google Earth dari akhir 2004 sampai 2017 menunjukkan indikasi kuat adanya penambahan berbagai bangunan dan perkerasan, terutama lahan parkir. Dokumen proyek panggung sendiri menyatakan luas 2,2 ha dan KDB 19%. Tetapi perlu dicatat bahwa perhitungan tersebut belum termasuk perkerasan di luar parkir, seperti jalur setapak dan berbagai elemen lanskap yang jika diakumulasikan besar kemungkinan akan menegaskan indikasi penurunan signifikan luasan lahan resapan air.

Terkait dengan kebutuhan panggung, di seputaran Taman Sari --bahkan dalam jarak tempuh berjalan kaki-- terdapat banyak fasilitas panggung dan ruang terbuka yang dapat dipergunakan sebagai panggung, seperti teater terbuka Museum Tsunami, Aula RRI, Pentas di Taman Putroe Phang, halaman Masjid Raya Baiturrahman yang khusus digunakan untuk panggung acara keagamaan, Blang Padang untuk pentas besar/kolosal, Taman Gunongan dan Taman Budaya yang memiliki panggung indoor dan outdoor.

Jika terjadi kendala pemanfaatan fasilitas karena kewenangan pengelolaan pada lembaga yang berbeda, maka perlu diidentifikasi dan diselesaikan kendalanya sebelum menjustifikasi kebutuhan terhadap panggung permanen di Taman Sari, karena semua lembaga tersebut masih dalam lingkungan pemerintahan Aceh. Panggung yang sudah ada ini pun memang nyata memerlukan pengayaan program dan perawatan.

Memiliki multiefek
Peralihan dari panggung temporal menjadi panggung permanen memiliki multiefek, bukan hanya dari aspek luasan, tetapi juga peningkatan intensitas kegiatan. Beberapa dampak yang sudah terlihat dan akan meningkat adalah bangkitan lalu lintas, kebutuhan parkir dan perubahan iklim mikro.

Peningkatan intensitas kegiatan yang teramati selama ini bahkan sudah menjurus pada komersialisasi RTH publik dengan akibat berkurangnya akses ruang bagi warga yang tidak membayar. Kegiatan komersial ini sekilas nampak menambah pendapatan Pemko dan sebagian warga. Tetapi jika dilakukan analisa cost-benefit yang komprehensif, dampak kehilangan fungsi ekologis RTH akan lebih besar dari pada manfaat jangka pendek yang terlihat.

Halaman
123
Editor: bakri
Ikuti kami di
KOMENTAR

berita POPULER

TRIBUNnews.com Network © 2018
About Us
Help