PKA 7

Hubungan Aceh dengan Puisi Ibarat Suami dan Istri  

Hubungan Aceh dengan puisi ibarat suami dan istri. Dekat dan sangat intim

Hubungan Aceh dengan Puisi Ibarat Suami dan Istri   
DISKUSI buku puisi “Menembus Arus Menyelami Aceh” di Museum Tsunami, Selasa (7/8). 

BANDA ACEH - Hubungan Aceh dengan puisi ibarat suami dan istri. Dekat dan sangat intim. Ini dikatakan penyair dan pengamat sastra, Agus R.Sardjono saat membahas antoligi puisi “Menembus Arus Menyelami Aceh,” di Museum Tsunami, Banda Aceh, Selasa (7/8). Kegiatan tersebut sebagai bagian Pekan Kebudayaan Aceh (PKA) 5.

Pembicara lain Prof Victor Pogadaev dari Rusia, Prof Siti Zainon Ismail (Malaysia), Prof Yuni Sabi (Aceh), dan Maman S Mahayana (Universitas Indonesia, Jakarta). Diskusi bedah buku tersbut dimoderatori penyair Wina SW1.

Bedah buku dirangkaikan dengan pembacaan puisi pada malamnya, menampilkan pembaca-pembaca puisi dari berbagai daera, musikalisasi puisi Sanggar Matahari, dan Kelompok Musik Batas.

Agus Sardjono, Pemimpin Redaksi Jurnal Sajak, mengatakan, Aceh memiliki tradisi besar dalam perpusian, dan tradisi puisi itu terus berlanjut sampai sekarang. “Masyarakat Aceh masih peduli dengan karya-karya sastranya. Buku antologi puisi ini ditulis oleh generasi berbeda, itu bukti bahwa puisi tetap hidup di Aceh,” kata Agus R Sardjono.

Agus juga menyebut, Aceh satu-satunya daerah punya warung kopi buka 24 jam, yang dulu diisi oleh puisi. “Tapi sekarang saya tidak tahu, apakah warung kopi -warung kopi itu tempat pembacaan puisi atau tidak,” lanjut Agus.

Prof Yusni Sabi melukiskan keakraban Aceh dengan puisi bisa dikenali dari sejarah-sejarah Aceh yang ditulis dalam bentuk puisi. Bahkan pelajaran agama dan sebagainya ditulis dalam bentuk puisi. Ia menyebutkan, tradisi ini begitu kuatnya, sehingga anak-anak mudah menghapalkan pelajaran ketika disampaikan dengan bahasa puisi. Ia menyerukan agar diterbitkan kembali puisi dalam bahasa Aceh.

Penyair Malaysia Siti Zainon Ismail mengimbau agar hubungan Malaysia dan Aceh dilanjutkan melalui sastra, seperti yang dulu pernah dirintis. “Hubungan Aceh dengan Malaysia dulu dibangun melalui seni dan sastra. Saatnya hubungan itu dihidupkan kembali,” ujar Siti Zainon yang banyak menulis puisi tentang Aceh dan Gayo.

Sementara itu Victor Pogadaev membandingkan masa Soeharto dengan masa kini dalam hubungan dengan Rusia. “Dulu zama Soeharto kita tak banyak mengenal Indonesia,” kata Victor.

Victor Pogadaev banyak menterjemahkan karya-karya puisi Indonesia dalam bahasa Rusia, termasuk puisi karya penyair Aceh D Keumalawati.

Victor datang ke Aceh untuk yang kedua kali, setelah 2009. “Dulu saya datang meluncurkan buku puisi tentang kopi,” kata Victor.(fik)

Editor: bakri
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2018 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved