PKA 7

Menu Kenduri Kematian di PKA

Sebanyak 22 kabupaten/kota se-Aceh—minus Kota Lhokseumawe—memamerkan kuliner khas masing-masing

Menu Kenduri Kematian di PKA
Peserta dari kontingen Nagan Raya mempersiapkan makanan tradisional yang dilombakan dalam Eksebisi Hidangan Khas Khanduri Kematian di arena Pekan Kebudayaan Aceh (PKA) Ke-7 di Taman Sri Ratu Safiatuddin Banda Aceh, Selasa (7/8/2018). SERAMBI/M ANSHAR

BANDA ACEH - Sebanyak 22 kabupaten/kota se-Aceh—minus Kota Lhokseumawe—memamerkan kuliner khas masing-masing saat kenduri kematian (kawuri abeh umu), Selasa (7/8) di Taman Sultanah Safiatuddin (Tasulsa), Banda Aceh. Kegiatan ekshibisi hidangan khas kenduri kematian itu merupakan bagian dari Festival Kuliner Pekan Kebudayaan Aceh (PKA) VII.

Dalam ekshibisi itu, setiap peserta memasak hidangan khas kenduri kematian di anjungan masing-masing, lalu hidangan tersebut dibawa ke panggung ekshibisi untuk dinilai oleh dewan juri.

Di panggung ekshibisi, perwakilan kabupaten/kota diminta mempresentasikan perihal kuliner khas kenduri kematian di daerah masing-masing. Di akhir kegiatan para tamu undangan diperbolehkan mencicipi makanan tersebut.

Panitia penyelenggara kegiatan, Wan Windi Lestari yang akrab disapa Indie, kepada Serambi kemarin mengatakan, saat kenduri kematian di Aceh terdapat hidangan khas yang berbeda-beda antara satu daerah dengan daerah lain. Makanan yang disajikan itu juga sangat identik dengan budaya dan potensi daerah sehingga patut dilestarikan dan pada saat PKA ini dipamerkan sebagai kekayaan kuliner setiap daerah.

“Makanan yang dipamerkan dalam ekshibisi hidangan khas kenduri kematian memang haruslah makanan yang sehari-hari disajikan saat upacara kematian. Acara ini juga untuk melestarikan kekayaan kuliner Aceh karena setiap daerah makanan khasnya itu berbeda-beda,” ujar Wan Windi Lestari.

Hidangan kenduri kematian yang disajikan oleh setiap kabupaten/kota memiliki persamaan pada beberapa menunya, karena berbahan ayam, ikan, teri, dan telur asin, kue bolu (bhoi), hingga teh dan kopi. Semua hidangan kenduri kematian yang disajikan itu tampak sederhana, karena bahan dasarnya dapat ditemui dengan mudah di pasar-pasar tradisional.

Misalnya untuk kenduri kematian di Nagan Raya, masyarakatnya biasa menyajikan cicah rebung, lele asam pedas, ikan sale gulai, itak (kerang), leughok, bada, bhoi, dan apam gaboh. Sedangkan tetangganya Aceh Barat menyajikan daun pepaya dan gulai asam pedas ikan tongkol, uniknya untuk minuman mereka menyajikan ie saka (air putih manis).

Sementara masyarakat di dataran tinggi Gayo, Aceh Tengah, menyajikan nangka muda, gulai ayam, hingga ikan depik khas Danau Laut Tawar, sedangkan untuk minuman mereka memiliki minuman khas, yaitu air sepang (air yang direbus dengan batang pohon). Untuk tetangganya Bener Meriah, selain menu makanan yang sama, mereka juga menyajikan kue 44 macam.

Sementara di Pidie Jaya, masyarakatnya menyediakan terasi kelapa, ikan bandeng, ikan asin, sayur buah pisang, hingga daun pepaya, dan daun ubi saat kenduri kematian.

Aceh Tamiang juga menyajikan menu yang berbeda pada kenduri kematian, yakni selain nasi dan gulai, mereka menyajikan kue apam dengan bubur kacang ijo.

Wan Windi Lestari mengatakan, meskipun ada beberapa jenis menu yang memiliki kesamaan, tapi setiap daerah memiliki ciri khas tersendiri. Sehingga ekshibisi hidangan khas kenduri kematian diharapkan mampu mengangkat dan melestarikan kuliner khas masing-masing daerah.

Kegiatan ekshibisi khusus hidangan kenduri kematian ini merupakan yang pertama kali dilaksanakan dalam PKA sejak PKA digelar pertama kali tahun 1958. (mun)

Editor: bakri
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

berita POPULER

© 2018 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved