PKA 7

Cagok Bireuen Juara di PKA

Tim cagok (lawak Aceh) dari Grup Rangkang Sastra di bawah binaan Dewan Kesenian Aceh (DKA) Bireuen

Cagok Bireuen Juara di PKA
GRUP cagok (lawak Aceh) binaan Dewan Kesenian Aceh (DKA) Bireuen foto bersama seusai meraih juara pertama Lomba Cagok Se-Aceh pada PKA ke-7 di Taman Budaya, Banda Aceh, Selasa (7/8) malam. 

BIREUEN - Tim cagok (lawak Aceh) dari Grup Rangkang Sastra di bawah binaan Dewan Kesenian Aceh (DKA) Bireuen meraih juara pertama pada lomba Cagok Se-Aceh dalam rangkaian Pekan Kebudayaan Aceh (PKA) ke-7 yang berlangsung di Taman Budaya, Banda Aceh, Selasa (7/8) malam.

Pelatih Cagok Bireuen, Novianti MR kepada Serambi, Rabu (8/8), mengatakan, tim asuhannya saat tampil di Taman Budaya, kemarin malam, membawa judul cagok ‘Panyot Culoet’ karya Ferry Ramadhan yang menceritakan tentang nasehat dalam kehidupan masyarakat Aceh.

Penampilan anak-anak Cagok Bireuen yang sangat kocak di bawah binaan Ketua DKA Bireuen, Mukhlis AMd, mendapat aplusan dari ratusan pengunjung yang memadati Taman Budaya Banda Aceh. Tidak henti-hentinya tepuk tangan dan tertawa ria penonton saat menyaksikan aksi tim cagok Bireuen.

“Anak-anak sudah tampil bagus dan sangat maksimal, ini berkat latihan yang matang dan dukungan dari Ketua DKA Bireuen dan semua pihak, sehingga kita bisa meraih juara. Ini merupakan juara kelima berturut-turut tingkat Provinsi Aceh,” kata Novi.

Ditambahkan Novi, lomba cagok pada PKA ke-7 itu yang diikuti 23 kabupaten/kota di Aceh. Kecuali Bireuen yang menajdi juara pertama, juara kedua disabet Kota Banda Aceh, dan Bener Meriah jadi juara ketiga.

Selain itu, pada lomba baca puisi tingkat Provinsi Aceh, tim DKA Bireuen sukses meraih juara ketiga dengan puisi yang dibacakan oleh Novianti Maulida Rahmah. “Alhamdulillah, meski minim anggaran, tim DKA Bireuen sudah tampil maksimal. Harapan kita, bisa meraih juara pada cabang lomba lainnya,” harap Mukhlis.

Sementara itu, Keuchik Matangkule, Kecamatan Peulimbang, Bireuen, Tgk Mustafa mengkritik even PKA yang sudah digelar sejak tahun 1958 sampai 2018, pelaksanakannya selalu dipusatkan di Banda Aceh. Dia berharap, penyelenggaraan PKA bisa dilakukan di kabupaten/kota sebagaimana halnya even tingkat provinsi lainnya seperti MTQ.

Menurut Tgk Mustafa, ajang PKA di Banda Aceh bukan tidak baik, namun banyak masyarakat Aceh yang tidak berkesempatan hadir karena lokasinya jauh dari Kutaraja. “Dari Bireuen memang tidak begitu jauh, lalu bagaimana warga dari Aceh Tenggara, Aceh Timur, dan Aceh Tamiang. Tentunya membutuhkan waktu lama bila ingin menghadiri ajang PKA di Banda Aceh,” ujarnya.

Zulkifli, warga Peusangan juga menyarankan agar pelaksanaan PKA tidak selalu di Banda Aceh, tapi kabupaten/kota lainnya juga mendapat giliran. “Fasilitas pendukung di sejumlah kabupaten/kota setidaknya memadai untuk ajang PKA. Tinggal lagi kebijakan pimpinan tingkat provinsi untuk menentukan tempat pelaksanaan PKA yang akan datang,” sarannya.(c38/yus)

Editor: bakri
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

berita POPULER

TRIBUNnews.com Network © 2018
About Us
Help