PKA 7

Gempita Budaya dari Tasulsa

TAMAN Sulthanah Safiatuddin (Tasulsa), Banda Aceh tengah sumringah. Selama 10 hari sejak 5 Agustus 2018

Gempita Budaya dari Tasulsa
PESERTA dari Aceh Selatan mengikuti lomba boh gaca (melukisinai) di arena PKA Ke-7, Museum Aceh, Banda Aceh, Rabu (8/8). 

TAMAN Sulthanah Safiatuddin (Tasulsa), Banda Aceh tengah sumringah. Selama 10 hari sejak 5 Agustus 2018 perhelatan akbar Pekan Kebudayaan Aceh (PKA) ke-7, telah menyulap tempat ini tak ubahnya lautan manusia. Gempita budaya terlihat dari antusiasme warga yang tumpah ruah berdatangan dari berbagai pelosok Aceh, daerah Indonesia belahan lain, hingga dari negeri jiran. Perhelatan empat tahunan itu menjadi pesta kebudayaan.

Tasulsa merupakan wajah taman mininya Aceh. Tak berlebihan, karena 23 rumah adat atau disebut juga anjungan mejeng, berlomba mencuri perhatian pengunjung. Keunikan masing-masing rumah adat dari seluruh kabupaten/kota saling tebar pesona. Atraksi yang dimainkan, seakan memanggil pengunjung untuk singgah. Tempat di mana kekayaan tradisi yang hidup dan dibesarkan warganya lestari hingga kini.

“Kegiatan PKA merupakan kegiatan pemerintah, semua pihak bertanggungjawab terhadap suksesnya acara ini,” ujar Plt Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) Aceh, Amiruddin Tjoet Hasan di hadapan awak media, Rabu (8/8).

Gapura taman yang merupakan representasi rumah adat tujuh suku yang berdiam di Aceh, berdiri gagah menyambut pengunjung. Tiga buah panggung yang tersebar di Tasulsa siap menghibur siapa saja yang datang. Deretan rumah adat menjadi daya pikat yang sulit untuk ditolak. Arena festival kuliner yang terbuat dari tepas, membelah barisan rumah-rumah tradisional. Terlihat kontras dengan deretan anjungan yang semarak dalam balutan warna-warni menyala.

Rumah adat Aceh Besar menyambut pengunjung di samping muka gerbang. Kabupaten yang mengapit ibu kota Provinsi, Banda Aceh ini memamerkan kekayaan alam dan budayanya lewat barang kuno seperti sepeda ontel, kekayaan budaya berupa songket, hingga kekayaan hasil tani dari kabupetan yang juga dikenal dengan nama Aceh Rayeuk ini.

Merangsek ke sebelahnya, terdapat anjungan Aceh Selatan. Aroma pala yang diolah dalam bentuk manisan dan minuman langsung menyeruak, tatkala menginjakkan kaki di kabupaten yang didiami oleh tiga suku yaitu Aceh, Aneuk Jamee dan Kluet. Di sisi anjungan, para penari dan penyair menghentak panggung membawakan tarian.

Masih dari barat selatan Aceh, anjungan Singkil terlihat menyala dalam balutan warna kuning, yang dikenal sebagai warna raja diraja Aceh. Seekor patung buaya dengan mulut menganga menyambut pengunjung di sisi depan rumah. Melengkapi identitas daerah yang menjadi habitat hewan yang dikenal setia itu berasal. Aneka peralatan tradisional berupa perlengkapan penangkap ikan, seakan menegaskan kekayaan bahari kabupaten yang populer dengan kemolekan paras wisata baharinya. Alat musik etnik yang dimainkan oleh sekelompok pria paruh baya menghadirkan harmoni alam ke dalam anjungan.

Tak lengkap menjajal barat selatan Aceh tanpa menyambangi anjungan Nagan Raya dan tentu saja Aceh Barat. Kabupaten yang dikenal sebagai lumbung giok ini, memamerkan kilau kekayaan alamnya yang disebut-sebut sebagai ‘darah’ baru ekonomi Aceh dan membuat silau warga nusantara. Anjungan Aceh Barat, tanah kelahiran pahlawan nasional Teuku Umar, berdiri gagah dengan sebuah bedug besar di sisi tangga.

Beralih ke dataran tinggi Aceh. Anjungan kawasan ‘tiga bersaudara’ yaitu Aceh Tengah, Bener Meriah, dan Gayo Lues terlalu memesona untuk dilewatkan. Tiga kabupaten bertetangga ini dikenal sebagai ‘rumahnya’ para seniman. Tari Saman yang juga dikenal sebagai tari seribu jari mendunia dari sini. Warna hitam dan orange membalut rumah adat Gayo Lues, hingga pernak pernik yang mejeng di bawah rumah panggung tersebut. Sementara Aceh Tengah yang dikenal dengan kopi arabikanya, memikat dengan kerawang Gayo. Sedangkan Bener Meriah terlihat eksotis dalam balutan rumah panggung warna cokelat dengan sentuhan etnik yang kentara lewat permainan motif ukiran.

Menyisir pesisir Timur Aceh, anjungan Kabupaten Aceh Utara tampil bersahaja dalam balutan warna tanah. Sebuah kendi berukuran besar, menyambut pengunjung di muka tangga. Anjungan kabupaten yang merupakan tempat kerajaan Islam pertama di nusantara dan Asia Tenggara ini berada, mengingatkan pada rumah kediaman pahlawan nasional dari Pase, Cut Meutia.

Jangan lewatkan juga anjungan dari wilayah kepulaun yang dikenal dengan kemolekan paras pantainya yang memikat banyak mata. Serta tentu saja kekayaan baharinya. Kota Sabang tentu layak masuk dalam daftar kunjungan. Sabang yang berada di Pulau Weh, titik nol Indonesia ini, memamerkan kekakayaan kerajaan bawah lautnya. Batuan karang dan rupa-rupa ikan hias wara-wiri dalam akuarium. Singgah pula ke anjungan Simeulu. Kabupaten ini dikenal dengan lobsternya dan keindahan pantainya yang masih perawan dan belum banyak dituturkan pelancong.

Mengunjungi Tasulsa tak ubahnya mendatangi pesta kebudayaan. Memasuki labirin waktu, tempat di mana kearifan lokal lestari hingga kini. Bersanding mesra dengan gempita pembangunan yang telah banyak mengubah wajah Aceh. PKA, rayakan kebudayaan.(nurul hayati)

Editor: bakri
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

TRIBUNnews.com Network © 2018
About Us
Help