PKA 7

Parkir Sepmor di PKA Rp 5.000

Biaya parkir sepeda motor (sepmor) di arena Pekan Kebudayaan Aceh (PKA) Ke-7 sebesar Rp 5.000

Parkir Sepmor di PKA Rp 5.000

BANDA ACEH - Biaya parkir sepeda motor (sepmor) di arena Pekan Kebudayaan Aceh (PKA) Ke-7 sebesar Rp 5.000. Tarif itu dikeluhkan oleh sejumlah pengunjung, karena jumlahnya lima kali lipat dari angka yang berlaku selama ini di Banda Aceh. Sementara dinas perhubungan (dishub) setempat menegaskan, tarif parkir di Banda Aceh masih sesuai Qanun Nomor 4 Tahun 2012 yakni Rp 1.000 untuk sepmor dan Rp 2.000 untuk mobil.

Pengunjung PKA asal Sabang, Ferdi Maulana kepada Serambi, kemarin, menjelaskan, pada Senin (6/8) sore, ia bersama saudaranya hendak memarkir sepmor di dekat Anjungan Aceh Tengah. Lalu, datang seorang pemuda berpakaian bebas meminta uang seraya memberi karcis parkir bertuliskan Rp 5.000.

“Saya bilang, ini bukannya tarif parkir mobil? Lalu pemuda itu menjawab bukan, ini untuk sepeda motor. Abang bisa parkir berapa jam pun sampai malam,” ujar Ferdi menirukan ucapan penjaga parkir itu. Meski curiga karena karcis tersebut tanpa nomor seri dan stempel Dishub, Ferdi yang tak ingin ribut akhirnya membayar biaya parkir sesuai permintaan pemuda tersebut.

Hal serupa juga disampaikan warga Rukoh yang tak mau disebutkan namanya. Di lokasi yang sama dengan Ferdi, pria itu mengaku dimintai Rp 5.000 oleh pemuda berkaos seraya memberi karcis berlogo PKA. “Karcisnya saya kira resmi, karena ada lambang PKA-7. Terpaksa saya bayar walaupun mahal, daripada nanti bermasalah,” ujarnya, kemarin.

Amatan Serambi, Selasa (7/8), tarif parkir sepmor di sekitar arena PKA juga tak sesuai qanun. Di halaman Masjid Al-Makmur Lampriek misalnya, sepmor dikenakan tarif Rp 2.000 tanpa karcis. Sementara di arena PKA, tepatnya dekat Anjungan Aceh Tengah terpantau tak ada lagi petugas parkir.

Kabid Perparkiran Dishub Banda Aceh, Aqil Perdana yang dikonfirmasi Serambi, Rabu (8/8) mengaku tarif parkir Rp 5.000 untuk sepmor di arena PKA itu ilegal. “Dari informasi yang berkembang, tarif tersebut merupakan kesepakatan panitia dengan pihak gampong, tanpa sepengetahuan Dishub Banda Aceh. Tapi, saya tidak tahu sejauh mana kebenarannya,” ujar Aqil.

Untuk menindaklanjuti masalah itu, lanjutnya, Dishub Banda Aceh sudah memanggil beberapa pemuda Bandar Baru yang mengelola salah satu titik parkir di PKA, Selasa (7/8). “Kami sudah minta mereka untuk gunakan tarif yang sesuai qanun. Kami juga sudah berikan karcis parkir resmi untuk roda dua Rp 1.000 dan roda empat Rp 2.000 kepada mereka,” ungkapnya.

Kabid Perparkiran Dinas Perhubungan (Dishub) Banda Aceh, Aqil Perdana, juga mengungkapkan, hasil dari parkir ilegal (liar) di arena PKA sama sekali tidak masuk ke Pendapatan Asli Daerah (PAD) Banda Aceh. “Dana retribusi parkir itu 35 persen masuk ke PAD, sementara sisanya keuntungan untuk pengelola. Kami tidak dapat PAD apa-apa dari PKA ini, dapatnya cuma komplain dan masalah saja,” tandasnya.

Aqil menjelaskan, juru parkir resmi selalu memberikan karcis parkir berkop ‘Pemerintah Kota Banda Aceh’ dan berstempel Dishub, tarif sesuai qanun, serta mengenakan rompi parkir, dan tanda pengenal. Untuk itu, Aqil berharap masyarakat termasuk pengunjung PKA agar lebih cermat dalam memarkirkan kendaraan dan membayar retribusi parkir hanya kepada juru parkir resmi.

Ditambahkan, pada even besar seperti PKA seringkali berkeliaran juru parkir dadakan, yang memberlakukan tarif mahal demi keuntungan pribadi. “Masyarakat jangan mau bayar tarif mahal begitu. Kalau diancam, silakan lapor ke pos polisi terdekat di arena PKA atau tim saber pungli,” pesannya seraya menyebutkan Dishub juga sudah memasang spanduk imbauan terkait layanan parkir pada sejumlah titik di Banda Aceh.(fit)

Editor: bakri
Ikuti kami di
KOMENTAR
TRIBUNnews.com Network © 2018
About Us
Help