PKA 7

Perempuan Gayo dalam “Sengkaren Utem”

Tujuh perempuan Gayo memperlihatkan kemandirian dan ketangguhannya dalam mencari kayu bakar

Perempuan Gayo dalam “Sengkaren Utem”
7 Gadis Gayo Penari “Sengkaran Utem”. 

* Aksara Gayo Diminati

BANDA ACEH - Tujuh perempuan Gayo memperlihatkan kemandirian dan ketangguhannya dalam mencari kayu bakar di hutan. Semak belukar ditembus, bukit dan gunung didaki, untuk mendapatkan kayu bakar yang menjadi “alat utama” keluarga Gayo masa lalu.

Kemandirian dan keteguhan itulah yang diperagakan dalam “Sengkaren Utem”, tari kreasi baru yang dipersembahkan kontingen Aceh Tengah di Taman Budaya Banda Aceh, Rabu (8/8), dalam rangka PKA 7..

“Nenek kita, orang tua kita dulu, bagaimana gigihnya mencari kayu bakar ke dalam hutan. Kayu itu dikumpulkan, sebagian dipergunakan untuk sendiri, sebagian lagi dijual guna memenuhi kebutuhan hidup. Sungguh sosok wanita Gayo itu tangguh. Itulah filosofi tari sengkaran utem ini,” kata Ana Kobath, koreografer Aceh Tengah yang menangani “Sengkaren Utem” tersebut.

Tari ini diiringi musik kreasi yang juga unik. Ada gerantung (lonceng kerbau yang terbuat dari bambu). Ada bambu yang sengaja dikemas mengeluarkan suara gemercik air. Teritit (suara memanggil burung) juga ikut ambil bagian. Gegedem dan kanvas didong juga diikutkan. Dipadukan dengan alat musik modern gitar dan keyboard.

Untuk menciptakan suara alam di tengah hutan, berhasil diekspresikan melalui alat musik kayu (biji ridu), yang memiliki panjang hampir 1,5 meter bagian bawah lebih besar dari bagian atas yang dipergunakan untuk ditiup. Ada lubang tembus ditengahnya, sehingga mengeluarkan suara dari dalam hutan.

Musik kreasi dikemas Edy Ranggayoni menjadi kesatuan musik yang serasi dan mampu mengikuti gerak tari “Sengkaran Utem”. Dalam memainkan musiknya, Edy dibantu sejumlah anak muda Gayo yang kreatif, Putra peniup biji ridu. Kenko mengalunkan suling, Ahmad Dahlan meniup teririt dan gegedem, Ruslan memainkan uluh piring (bambu yang dibuat untuk musik), juga ada Sukri dan Rizki.

Sementara itu Kontingen Bener Meriah manpilkan tari kreasi “Rimba Raya.’ Mengisahkan tentang perjuangan menegakkan “suara Indonesia” di tengah klaim Belanda yang menyatakan Indonesia sudah tak ada. Garapan tari tersebut berhasil memperlihatkan sulitnya perjuangan yang diperlihatkan melalui gerak-gerak tari yang mempesona.

“Ini aksara apa, ya?” tanya salah seorang mahasiswi asal Pidie, saat mengunjungi stand Aceh Tengah, Rabu (8/8), siang. Bentara Linge, kemudian menjelaskan bahwa itu adalah aksara Gayo, seraya menjelaskan makna aksara tersebut. Bentara Linge, ahli akasara Gayo sengaja dihadirkan untuk menyampaikan makna aksara Gayo di stand Aceh Tengah.

Bentara Linge menerangkan indahnya merangkai huruf Gayo menjadi kata dan kalimat. Saat itu Bentara dibantu oleh Amna Nurul Ihlas, mahasisiwi UIN Arraniry (Pendidikan Guru Madrasah PGMI semester 3) dan Zulfan yang sudah ahli merangkai huruf Gayo.

“Baru kali ini aksara Gayo tampil di PKA. Aksara Gayo umurnya sudah tua, dimana kini sedang diteliti kembali, untuk pembuktian lebih lengkap. Kali ini ditampilkan pada PKA ke 7 sebagai sfesifik Gayo yang tidak ada di daerah lain,” sebut Uswatuddin, Ketua PKA Aceh Tengah.(fik)

Editor: bakri
Ikuti kami di
KOMENTAR

berita POPULER

TRIBUNnews.com Network © 2018
About Us
Help