PKA 7

15 Perupa Aceh Ramaikan Pameran Seni Rupa PKA 7

Pekan Kebudayaan Aceh 7 (PKA 7) 2018 kembali menyertakan pameran seni rupa

15 Perupa Aceh Ramaikan Pameran Seni Rupa PKA 7
Pameran seni rupa PKA 7 berlangsung di Taman Budaya Aceh. 

BANDA ACEH - Pekan Kebudayaan Aceh 7 (PKA 7) 2018 kembali menyertakan pameran seni rupa. Diikuti 15 perupa dari sembilan kabupaten/kota di Aceh. Mengusung tema “Aceh Hebat dengan Adat Budaya Bersyariat.”

Perupa-perupa Aceh yang ambil bagian dalam pameran tersebut terdiri dari; Iswadi Basri dari Kota Banda Aceh (2 karya). Alil Otodidat dan Syafriadi dari Kota Sabang (2 karya). Hadiyarsyah dan Sabaruddin dari Kabupaten Aceh Besar (2 karya). Herman Hasibuan dan Wahyu Andhika Fatwa dari Kabupaten Aceh Barat (4 karya). Adi Coret dan Zamzami dari Kabupaten Nagan Raya (2 karya). Raviki Safwandi dan Baihaqi dari Kabupaten Aceh Selatan (2 karya). Muhammad Yasir dari Kabupaten Aceh Singkil (4 karya). Zulfikar dari Kabupaten Aceh Timur (1 karya). Ahmad Silfan Akbar dan Ilham Catur Fata dari Kota Langsa (2 karya)

Pameran diselenggarakan di Taman Seni dan Budaya Aceh, berlangsung sampai 15 Agustus 2018, ditangani oleh dua kurator, Yusrizal Ibrahim dan Dedy Afriadi, perupa dan dosen di Institut Seni Budaya Indonesia (ISBI) Aceh.

Dedy Afriadi, menjelaskan dari total 21 karya yang dipamerkan, diklasifikasikan ke dalam 9 (sembilan) aliran seni rupa, yaitu Naturalis, (1 karya, yaitu lukisan berjudul “Bunta” karya Ahmad Silfan Akbar); Dekoratif (2 karya, yaitu lukisan berjudul “Makam Teuku Umar” karya Herman Hasibuan, dan lukisan berjudul “Monstera” karya Wahyu Andhika Fatwa); Realis (2 karya, yaitu lukisan berjudul “Dan Lautan” karya Iswadi Basri, dan lukisan berjudul “Sang Pamong” karya Baihaqi); Impresionis (2 karya, yaitu lukisan berjudul “Seudati di Ujung Sumatera” dan lukisan berjudul “Terombang-ambingnya Kapal Nelayan” karya Ilham Catur Fata); Ekspresionis (2 karya, yaitu lukisan berjudul “Tob Pade” karya Hadiyarsah dan lukisan berjudul “Kupiah Meuketob dalam Pusaran Tsunami” karya Adi Coret); Surrealis (1 karya, yaitu lukisan berjudul “Melimpahnya Ikan di Lautanku” karya Raviki Safwandi); Pop Art (2 karya, yaitu lukisan berjudul “Semesta Takdir” karya Muhammad Yasir dan lukisan berjudul “Media Panas” Karya Sabaruddin); Kaligrafi (1 karya, yaitu lukisan berjudul “Konten” karya Zamzami); dan instalasi Seni Kriya (1 karya, berjudul “Kasabtu” ciptaan Zulfikar).

“Nanti kita akan fokus hanya kepada 9 (sembilan) karya saja, sebagai sampel untuk mewakili masing-masing aliran,” kata Dedy Afriadi yang juga peniup seureune kale.(fik)

Editor: bakri
Ikuti kami di
KOMENTAR
TRIBUNnews.com Network © 2018
About Us
Help