Pilpres 2019

Disebut Bayar Rp 500 M Jadi Cawapres Prabowo, Bawaslu Telusuri Dugaan Mahar Politik Sandiaga Uno

Jika terbukti di pengadilan, maka parpol pengusung dilarang mengusung capres dan cawapres pada pemilu periode berikutnya.

Disebut Bayar Rp 500 M Jadi Cawapres Prabowo, Bawaslu Telusuri Dugaan Mahar Politik Sandiaga Uno
gerindranews.com
Prabowo Subianto dan Sandiaga Uno 

"Dan sekali lagi kan itu membutuhkan proses klarifikasi dan apabila itu pun terindikasi, maka membutuhkan putusan pengadilan untuk membatalkan pencalonan. Tapi tidak menghilangkan hukuman terhadap pemberian uang tersebut," tuturnya.

Dugaan adanya aliran dana dari Sandiaga Uno kepada PAN dan PKS kali pertama dibeberkan oleh Wasekjen Partai Demokrat Andi Arief.

Andi menuding Sandiaga Uno membayar PKS dan PAN masing-masing sebesar Rp 500 miliar agar bisa diterima sebagai cawapres Prabowo Subianto.

Baca: Jadwal Lengkap Timnas U-23 Indonesia di Grup A Asian Games 2018, Diawali Laga Lawan Taiwan

Baca: Pemkab Aceh Tenggara Bentuk Tim Terpadu Pengawasan Obat dan Makanan

 Dia memastikan tidak berbohong atas tudingannya tersebut.

"Bener. Saya dengan sadar dan bisa dicek dalam karier politik saya, tidak pernah bohong dan data saya selalu tepat. Tapi, kita nunggu perkembangan besok karena Pak Prabowo akan hadir," ujar Andi.

Andi lalu mengungkit soal perjuangan Demokrat dalam koalisi Prabowo.

Dia mengingatkan Demokrat tak pernah berselingkuh dari Gerindra cs.

Hal itu diungkapkan oleh Andi setelah mengetahui adanya perubahan sikap dari Prabowo Subianto terkait koalisi parpol dan pemilihan cawapresnya untuk Pilpres 2019.

Baca: Melihat Alquran Kayu Terbesar di Dunia, Begini Kisah di Balik Pembuatannya

Baca: Polling Capres dan Cawapres di Twitter ILC, Prabowo-Sandiaga Unggul Jauh Atas Jokowi-Ma’ruf Amin

Padahal, sebelumnya nama putra SBY sekaligus politikus baru Demokrat Agus Harimurti Yudhoyono (AHY) sudah masuk dalam bursa cawapres Prabowo.

"Pada hari ini kami mendengar justru sebaliknya. Ada politik transaksional yang berada di dalam ketidaktahuan kami yang sangat mengejutkan. Padahal, untuk menang, bukan berdasarkan politik transaksional. Tapi dilihat siapa calon yang harus menang," sebut Andi.

Halaman
123
Editor: faisal
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

berita POPULER

TRIBUNnews.com Network © 2018
About Us
Help