Opini

Filosofi Haji

IBADAH haji bisa dikatakan rukun Islam yang sangat sulit dinalarkan, dibanding fondasi Islam lainnya

Filosofi Haji
UMAT Islam melaksanakan shalat di luar Masjidil Haram di Kota Mekkah, Arab Saudi 

Oleh Marhamah

“Dan berserulah kepada manusia untuk mengerjakan haji, niscaya mereka akan datang kepadamu dengan berjalan kaki, dan mengendarai unta yang kurus yang datang dari segenap penjuru yang jauh.” (QS. al-Hajj: 27)

IBADAH haji bisa dikatakan rukun Islam yang sangat sulit dinalarkan, dibanding fondasi Islam lainnya. Walaupun kita ketahui bahwa Allah sering menguji iman para hamba-Nya dengan sesuatu yang irrasional. Ibadah haji menuntut pengorbanan harta (taklufah maliyyah), karena orang yang berangkat haji harus mengeluarkan biaya yang besar. Dituntut pula pengabdian fisik (ibadah jasadiyyah), karena selama menjalankan ibadah haji diperlukan fisik yang sehat dan kuat, sehingga mampu melaksanakan serangkaian ritual. Dan haji menuntut pengabdian spiritual kepada Allah (ibadah ruhiyyah), karena orang yang berhaji memulai ibadahnya dengan keikhlasan hanya kepada Allah.

Secara normatif, garis vertikal pada ibadah haji menunjukkan hubungan manusia dengan Tuhannya (hablum min Allah) dan garis horizontal menunjukkan sisi sosial manusia (hablum min al-nas). Dalam pelaksanaan dan penghayatan ibadah haji, dimensi vertikal dan dimensi horisontal harus berjalan selaras dan seimbang. Dimensi vertikal yang disimbolkan dengan ketundukan kepada sang pencipta dan penafian terhadap segala nafsu duniawi selama menjalankan ritual ibadah haji, merupakan implementasi dari sikap taat terhadap Allah. Terkait dengan hal ini, ritual haji tidak dapat dilepaskan dari sejarah atau pengalaman Ibrahim as sebagai pelopor monotheisme mutlak (tauhid).

Tauhid adalah penemuan terbesar yang tidak dapat diabaikan oleh para ilmuwan atau sejarawan dan tidak dapat dibandingkan dengan penemuan lainnya. Karena, penemuan Ibrahim as ini menguasai jiwa dan raga manusia, menjadikan manusia yang tadinya tunduk pada alam, menjadi mampu menguasai alam serta menilai baik buruknya sesuatu. Tuhan yang diperkenalkan Ibrahim as adalah Tuhan seru sekalian alam, Tuhan yang imanen sekaligus transenden. Bukanlah Tuhan yang sifat-sifat-Nya hanya monopoli pengetahuan para pemuka agama, tapi Tuhan manusia secara universal, sebagaimana firman-Nya, “Dan Demikianlah Kami perlihatkan kepada Ibrahim tanda-tanda keagungan (Kami yang terdapat) di langit dan bumi dan (Kami memperlihatkannya) agar dia termasuk orang yang yakin.” (QS. al-An’am: 75).

Ritual haji menunjukkan simbol komitmen bersama untuk menjunjung tinggi nilai-nilai kemanusiaan, mengajarkan kepekaan sosial, empati terhadap pelbagai persoalan yang menimpa orang lain, sehingga setiap individu ataupun kelompok sosial terjamin hak-haknya sebagai manusia yang merdeka dan bermartabat. Dengan dua garis penghubung (secara vertikal dan horizontal) ini, ibadah haji melakukan transendensi, refleksi, apresiasi, dan tranformasi nilai-nilai moral Ilahi yang suci dan sangat mulia menuju nilai-nilai insani dalam realitas sosial. Ritual haji sarat dengan simbolis filosofis yang maknanya sangat mendalam dan menyentuh aktvitas kehidupan manusia.

Filosofi ihram
Ritual haji yang dimulai dengan memakai pakaian ihram putih bersih bermula dari miqat menuju ke satu titik, yaitu Kakbah, mengisyaratkan bahwa secara total mengeluarkan manusia dari seluk beluk materi dan kenikmatan lahiriah, menenggelamkan manusia dalam penyucian jiwa dan dalam alam cahaya spiritualitas. Karena manusia memulai kehidupan ini dengan putih bersih (fitrah), dan seharusnya menyesuaikan diri dengan tujuan kehadiran di bumi ini. Firman Allah Swt, “Sesungguhnya beruntunglah orang yang mensucikan jiwa itu, dan Sesungguhnya merugilah orang yang mengotorinya.” (QS. asy-Syams: 9-10). Menanggalkan pakaian sehari-hari dan menggantikannya dengan pakaian ihram, pakaian yang sama menunjukkan bahwa perbedaan harus ditinggalkan.

Pada umumnya, pakaian menunjukkan perbedaan status sosial, ekonomi dan profesi bahkan memberikan pengaruh psikologis kepada pemakainya. Jadi, secara sosio-kultural, biasanya pakaian menjadi semacam identitas yang bisa menggambarkan strata sosial seseorang. Melepas pakaian sehari-hari mengisyaratkan membuang semua sifat-sifat keangkuhan, kebanggaan dan atribut lain yang melekat yang biasa menghiasi diri. Dengan diperintahkannya memakai pakaian ihram, memberikan kesadaran diri bahwa apa yang ada tidaklah milik hakiki manusia. Dengan pakaian ihram, pengaruh psikologis dari pakaian harus ditinggalkan dan yang ada hanya merasakan kelemahan dan keterbatasan serta pertanggungjawabannya kelak dihadapan Allah Swt.

Dalam hal ini, Al-Ghazali menyatakan, sesungguhnya urusan haji dari satu sisi seimbang dengan urusan perjalanan ke akhirat. Pakaian ihram berfungsi sebagai simbol kesatuan dan persamaan, sehingga menghilangkan perbedaan status sosial. Simbol tersebut dimaknai dari pakaian yang berwarna putih mengajarkan kepada manusia untuk mengubur pandangan tentang keunggulan manusia dari kedudukan, pangkat, status sosial, dan keturunan. Pakaian ihram menunjukkan kesederhanaan dan keluar dari kegemerlapan dunia.

Firman Allah Swt, “Hai manusia, Sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling kenal-mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia diantara kamu disisi Allah ialah orang yang paling takwa di antara kamu. Sesungguhnya Allah Maha mengetahui lagi Maha Mengenal.”(QS. al-Hujurat: 13).

Sejatinya, simbol persamaan menjadi patokan utama untuk membangun solidaritas sosial yang tinggi antarsesama manusia. Dengan demikian, di antara mereka tidak terpecah-pecah, tidak mengalami friksi-friksi sosial yang destruktif. Sebaliknya, bangunan hidup mereka berjalan sesuai dengan posisi manusia yang suci, saling menghormati, bahu membahu, dan tolong-menolong. Juga meniadakan bentuk superior (merasa sempurna) ataupun inferior (tidak sempurna), subordinat (kedudukan rendah) dan superordinat (kedudukan tinggi), karena mereka semua bersumber dari Yang Satu dan berpijak pada satu tujuan bersama. Sebuah tujuan kehidupan dan hidup di bumi ini sebagai khalifah yang mendapatkan amanat dari Yang Satu, bukan untuk saling menindas dan saling menguasai, melainkan saling membaur dalam satu kebersamaan.

Ritual haji ini juga menjadikan manusia memiliki karakter konstruktif dan dinamis. Mengutip pandangan Ali Syari’ati, bahwa esensi ritual haji adalah evolusi eksistensial manusia menuju Allah. Haji adalah drama simbolik dari filsafat penciptaan anak-cucu Adam. Dengan kata lain, ia memuat kandungan objektif dari setiap sesuatu yang relevan dengan filsafat itu: haji sama dengan penciptaan, sama dengan sejarah, dan sama dengan monoteisme. Tujuan ibadah haji secara keseluruhan bukanlah sekadar melaksanakannya, tetapi untuk terlibat di dalamnya secara sosiologis yang mendalam, sehingga membawa pelaksananya melampaui batas-batas pengalaman sebelumnya. Semoga Allah memberkahi perjalanan semua tamu-tamu Allah ini dan menjadi haji yang mabrur. Amin.

* Dr. Marhamah, M.Kom.I., Dosen Komunikasi Islam/Kajur BKI IAIN Lhokseumawe. Email: marhamahrusdy@gmail.com

Editor: bakri
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2018 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved