Opini

Ibadah Haji dan Kemakmuran Aceh

KITA sudah memasuki musim haji tahun ini, 1439 H. Beberapa kloter dari 12 kloter haji Aceh pun telah tiba di Tanah Suci

Ibadah Haji dan Kemakmuran Aceh
JAMAAH haji berkumpul untuk mengelilingi Ka'bah di Masjidil Haram, Mekkah, Arab Saudi 

Oleh M. Shabri Abd. Majid

KITA sudah memasuki musim haji tahun ini, 1439 H. Beberapa kloter dari 12 kloter haji Aceh pun telah tiba di Tanah Suci untuk menunaikan ibadah haji. Selain ganjaran pahala, ibadah haji juga mengandung multi-hikmah yang dapat dijadikan referensi dalam memakmurkan nanggroe. Tulisan ini ingin mengkaji relevansi ibadah haji dalam usaha membangun dan memakmurkan nanggroe.

Ada beberapa implikasi penting ibadah haji dalam membangun nanggroe, yaitu: Pertama, semua pelaku pembangunan mulai dari perancang, pelaksana dan pengawas harus memiliki niat yang ikhlas dalam membangun nanggroe. Laungan kalimah talbiyah; Labbaik Allahumma Labbaik (Aku penuhi undangan-Mu, Ya Allah) oleh para jamaah haji menunjukkan bahwa mereka menunaikan haji semata-mata kerana memenuhi panggilan Allah Swt. Bukan untuk berpariwisata, rekreasi, berbisnis dan menambah networking perniagaan, serta mengejar titel gelar Haji.

Kalimah talbiyah ini menggambarkan kepatuhan makhluk kepada Khaliq-Nya. Memperkuat komitmen masing-masing pribadi, untuk dan hanya menyembah Allah Swt semata. Begitu juga dalam membangun nanggroe, kita harus melakukan semata-mata untuk menegakkan keadilan dan membela kaum papa sebagai bagian dari ibadat kepada Allah SWT. Ianya tidak dilakukan atas landasan mengejar kekayaan, kenderaan mewah, pangkat, kekuasaan, atau popularitas. Pembangunan nanggroe harus berteraskan nilai-nilai Rabbaniyyah, tidak eksploitatif, manipulatif, dan bebas riba.

Kedua, dalam membangun nanggroe, warga Aceh memiliki kedudukan yang sama di sisi Allah Swt. Memakai pakaian ihram ketika berhaji merefleksikan pentingnya kesamaan kedudukan antarsesama hamba Allah di dalam hidup ini. Seorang jamaah haji yang berihram sadar bahwa sebenarnya semua manusia itu sama, yang membedakannya hanyalah ketakwaan mereka (QS. al-Hujurat: 13). Ia tak terkecoh oleh kepelbagaian, corak dan warna baju duniawi yang dipakai. Ia tidak mudah silau dan hanyut berhadapan dengan orang yang ditakdirkan Allah memiliki harta, pangkat, takhta, dan kejelitaan.

Begitu juga ia tidak memandang hina dan menyombongkan diri terhadap orang yang Allah takdirkan miskin, cacat, melarat dan tidak berilmu. Karena itu semua, pada hakikatnya, hanyalah perbedaan semu yang ada di dunia fana ini. Semua ini bermakna bahwa dalam membangun nanggroe, warga Aceh memiliki kedudukan, hak dan kewajiban yang sama. Apa Gampong sama pentingnya dengan Polem Kota; PNS sama derajatnya dengan penganggur; Akademisi sama perananya dengan Teungku Imum; Begitu juga bekas kombatan GAM sama hak dan kewajibannya dengan rakyat jelata lainnya dalam membangun nanggroe. Usaha geutanyoe dalam membangun nanggroe harus saling melengkapi, bukannya menyaingi dan mendominasi. Kita pantang berprilaku saling salah-menyalahkan, olok-memperolok, tuding-menuding, mengintimidasi, menikam dari belakang dan “menggunting dalam lipatan” dalam membangun nanggroe.

Ketiga, membangun nanggroe harus dilakukan secara konsisten (istiqamah) selaras dengan aturan Ilahiah. Tawaf, yaitu mengelilingi Kakbah secara teratur mencerminkan pentingnya menjaga konsistensi amalan sesuai dengan aturan Ilahiah. Ketika bertawwaf, jamaah haji perlu menjaga kecepatan langkahnya. Bila terlalu cepat maka ia akan melanggar jamaah haji di depannya. Bila terlalu lambat ia akan dilanggar oleh jamaah di belakangnya. Bek tayu jak dikeu ditoeh geuntoet; tayu jak di likoet disipak gateh. Ia harus separti bulan berputar mengelilingi bumi; dan bumi bersama planet-planet lain mengelilingi matahari. Masing-masing mereka berputar di orbitnya, mengikuti perintah Allah Swt. Jamaah haji berjalan dalam orbit Allah yang disimbolkan dengan Kakbah.

Dalam membangun nanggroe, kita harus memiliki strategi integratif, harmonis, dan sinergis, sehingga tidak bertolak belakang dan saling menjatuhkan. Kita harus menyandingkan strategi, bukannya mengadu. Strategi membangun nanggroe mesti berteraskan nilai-nilai Ilahiah, separti saling tolong-menolong (ta’awun), bekerja sama, berlaku jujur, amanah dan seterusnya. Dalam membangun nanggroe, kita harus selalu menjadikan ketaatan kepada Allah sebagai fokus utama, kerana ketaqwaan adalah modal utama pembangunan. Hendaknya usaha untuk membangun nanggroe tidak saja bermanfaat bagi rakyat Aceh, tetapi juga mendapat pengakuan Ilahi.

Keempat, dalam membangun nanggroe, makruf harus ditegakkan dan kemunkaran harus dienyahkan. Aktivitas melontar jumrah ketika berhaji, mencerminkan sikap penegakkan amar Allah dan penentangan terhadap munkar, iblis beserta kroni-kroninya. Suatu bentuk konfrontasi abadi antara pembela kebenaran (ahlul-haq) melawan pembela kebatilan (ahlal-bathil). Dalam kehidupan ini selalu ada pertentangan. Betapapun inginnya kita menyaksikan perdamaian wujud di dunia, namun setan senantiasa menghalang. Allah Swt berfirman, “Sesungguhnya setan itu bagi kalian adalah musuh, maka perlakukanlah ia sebagai musuh.” (QS. Fathir: 6).

Dalam membangun nanggroe, hendaklah ianya dibangun berteraskan Alquran dan al-Sunnah dan tidak mengikut konsep setan, seperti terlibat dalam aktivitas ribawi, tipu-menipu, mengurangi timbangan (QS. al-Muthaffifin: 1-3), dan bersikap tidak jujur. Rakyat Aceh wajib menentang segala bentuk kejahatan, konspirasi ekonomi dan politik, serta KKN yang jelas-jelas bertentangan dengan nilai-nilai Ilahiah.

Halaman
12
Editor: bakri
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

berita POPULER

© 2018 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved