PKA 7

Dua Turis Jepang Nyanyikan SMONG di Museum Tsunami

Dua turis asal Jepang, Shizuko dan Mr Tada, ikut menyanyikan syair Smong (gelombang raya yang menggulung)

Dua Turis Jepang Nyanyikan SMONG di Museum Tsunami
TURIS Jepang, Shuziko (kiri) dan Koordinator Museum Tsunami, Hafnidar saat menyanyikan syair Smoong.

BANDA ACEH -- Dua turis asal Jepang, Shizuko dan Mr Tada, ikut menyanyikan syair Smong (gelombang raya yang menggulung) dalam pertunjukan Siar SMONG di Museum Tsunami Banda Aceh, Minggu (12/8) siang.

Pertunjukan tersebut melengkapi pameran kearifan lokal di Ruang Pamer Temporer Kearifan Lokal, Lantai 2 Museum Tsunami.

Syair yang dinyanyikan kedua turis Jepang tersebut berasal dari Pulau SIemulue, berbunyi:

Dengarlah suatu kisah
Pada zaman dahulu kala
Tenggelam suatu desa
Begitulah dituturkan
Jika gempanya kuat
Disusul air yang surut
Segera cari dataran tinggi
Agar kita selamat

Itulah Smong namanya
Sejarah nenek moyang kita
Ingatlah ini semua
Pesan dan nasehatnya

Smong itu air mandimu
Gempa ayun-ayunamu
etir gendang-gendangmu
Halilintar lampu-lampumu

Kedua turis Jepang itu bersemangat dan berusaha keras menyanyikan syair tersebut dengan baik. Diiringi kelompok yang menamakan diri sebagai “Komunitas Siar SMONG.”

Syair mengamatkan, agar segera mencari dataran tinggi apabila terjadi peristiwa alam yang didahului gempa dan laut surut.

“Di Jepang saat menghadapi tsunami, salah satunya segera lari ke tempat-tempat yang aman, dan jangan berpikir bahwa tsunami tidak akan mampu mencapai Anda,” kata Mr. Tada tentang cara-cara penyelamatan diri yang dilakukan masyarakat Jepang.

Selama PKA 7, Museum Tsunami menggelar pameran kearifan lokal Smong, menghadirkan bebragai peristiwa Smong dan cara-cara masyarakat menghadapi kejadian dahsyat tersebut. Kehadiran Kelompok Siar SMONG dimaksudkan untuk melengkapi pameran tersebut, dengan manmpilkan secara langsung syair-syair Smong dan dinyanyikan bersama-sama.

Komunitas Siar SMONG dimotori oleh Yoppi Smong, Jassin Burhan, Fikar W.Eda, Yoyok Harness dan Djarot Effendy. Komunitas ini berkeliling ke berbagai tempat di Indonesia mengkampanyekan kearifaan lokal Smong dari Siemulue. Penampilkan kelompok ini diiringi instrumen musik cello, biola nandong, gitar, dan puisi.

Yoppi Smong mengatakan, ini adalah yang pertama sekali Siar SMONG tampil di Museum Tsunami. “Kami mencatatnya sebagai peristiwa penting, semoga memberikan manfaat,” kata Yoppi, putra dari Pulau Siemulue yang kini bermukim di Yogyakarta. Ia mengusulkan agar istilah smong ditabalkan di Museum Tsunami tersebut.

Koordinartor Museum Tsunami, Hafnidar, menyampikan apresiasi kepada Komunitas Siar SMONG yang memberikan eduksi melalui seni kepada pengunjung pameran. “Bagi kami ini sesuatu yang baru, dan sangat ,menyentuh,” kata Hafnidar. Ia menjadwalkan memboyong Siar SMONG ke Jepang untuk mengkampanyekan kearifan lokal Smong dengan seni.(fik)

Editor: bakri
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

TRIBUNnews.com Network © 2018
About Us
Help