Salam

Kampus Harus Bebas dari Radikalisme dan Narkoba

HARIAN Serambi Indonesia edisi hari Minggu kemarin memberitakan pernyataan Kepala Badan Nasional Penanggulangan Terorisme

Kampus Harus Bebas dari Radikalisme dan Narkoba
KOMPAS.com/Dian Maharani
Komjen Suhardi Alius 

HARIAN Serambi Indonesia edisi hari Minggu kemarin memberitakan pernyataan Kepala Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT), Komjen Suhardi Alius yang berharap kampus-kampus di Indonesia memiliki pola pencegahan terhadap masuknya paham radikalisme.

Suhardi menyampaikan hal itu saat memberikan paparan pada Sosialisasi Penguatan Perguruan Tinggi Swasta (PTS) dalam Menangkal Radikalisme ang digelar Lembaga Layanan Perguruan Tinggi (LL-Dikti) Wilayah VI Jawa Tengah bekerja sama dengan Universitas 17 Agustus 1945 di Semarang, Jumat.

Sementara itu, Badan Nasional Narkotika (BNN) Kabupaten Bireuen, Sabtu, melakukan sosialisasipencegahan narkoba di lapangan futsal terhadap 200 pelajar yang berasal dari 20 SMA, MA, dan SMK se- Kabupaten Bireuen. Upaya pencegahan seperti ini berlangsung sejak 6 hingga 10 gustus di Lapangan Futsal Los Galactions Cot Gapu, Bireuen.

Dua kegiatan terpisah itu temanya beda, akan tetapi sasarannya sama, yakni generasi muda. Sosialisasi pencegahan radikalisme dilakukan terhadap para mahasiswa, sedangkan penyuluhan bahaya narkoba ditujukan kepada para siswa SLTA. Dari dua kegiatan ini sebetulnya tercermin kekhawatiran para senior yang berhimpun di BNPT maupun BNN bahwa kampus dan sekolah memiliki kerawanan tertentu, terutama rawan disusupi paham radikalisme juga sangat rawan menjadi sasaran mafia narkoba.Suhardi mencontohkan, ada terduga teroris yang merakit bom di dalam sebuah kampus di Sumatera. Para perakit itu juga tinggal di lingkungan kampus.

Beruntung, Densus 88/Antiteror Polri bisa mengungkap kasus tersebut. Atas dasar fakta tersebut, kampus sudah seharusnya berupaya memblokir perilaku yang terkategori sebagai paham radikalisme, seperti intolerensi, anti-NKRI, anti-Pancasila, dan paham-paham ekstrem lainnya. Atas dasar itu pula pola pencegahan radikalisme perlu disusun atas prakarsa otoritas kampus. Mumpung di Aceh dan di hampir setiap provinsi sudah dibentuk Lembaga Layanan Perguruan Tinggi (LL-Dikti), nah lembaga inilah yang kita harapkan berinisiatif merumuskan pola untuk mereduksi hal-hal yang berdimensi radikal tersebut.

Pencegahannya harus dilakukan sejak mahasiswa baru mengikuti orientasi pengenalan kampus, kemudian dilakukan berkala minimal dua tahun sekali, hingga mahasiswa tamat. Untuk upaya pencegahan narkoba, pola yang sama juga sedianya diterapkan di sekolah-sekolah sejak SD hingga SLTA, sehingga anak-anak Aceh memiliki pemahaman dan bekal yang cukup untuk menjauhi narkoba dan terseret ke kelompok-kelompok radikal serta intoleran.

Sekecil apa pun, kedua hal ini (radikalisme dan narkoba) tetap berdampak destruktif. Oleh karenanya,harus dicegah dan dihilangkan agar tidak mengganggu proses belajar- mengajar sehingga kita bisa mendapatkan anak didik yang betul-betul berkualitas bagi Aceh, juga bagi Indonesia yang terus bergerak maju.

Editor: bakri
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2018 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved