Opini

Mengisi Kemerdekaan Era Milenial

KEMERDEKAAN merupakan kunci kemakmuran dan kesejahteraan. Maka kemerdekaan menjadi jembatan emas

Mengisi Kemerdekaan Era Milenial
SERAMBINEWS.COM/RIZWAN
Ada 9 batang pinang yang disediakan Pemkab di Lapangan T Umar, Meulaboh 

Oleh Adnan

KEMERDEKAAN merupakan kunci kemakmuran dan kesejahteraan. Maka kemerdekaan menjadi jembatan emas untuk menghadirkan kemakmuran dan kesejahteraan bagi seluruh rakyat. Tidak ada kemakmuran dan kesejahteraan tanpa kemerdekaan. Maka setiap bangsa bangkit dan berjuang melawan hegemoni penjajahan, termasuk Indonesia. Untuk memerdekaan sebuah bangsa pun bukan hanya sekadar menghabiskan logistik dan logika. Tapi kemerdekaan harus direbut dengan air mata, darah, dan nyawa. Hanya bangsa bodoh yang melupakan jasa-jasa para pahlawan yang ikut berjuang memerdekakan bangsanya. Akhirnya, hasil perjuangan berdarah-darah para pahlawan diproklamirkan kemerdekaan pada 17 Agustus 1945.

Maka 17 Agustus 1945 menjadi momentum bersejarah bagi bangsa Indonesia. Jika sebelumnya bangsa Indonesia hidup dibawah jajahan Belanda dan Jepang. Tapi, sejak kemerdekaan diproklamirkan, bangsa Indonesia menjadi bangsa yang merdeka, bebas, dan mandiri. Sebagaimana tercantum dalam amanat Pembukaan UUD 1945: “Atas berkat rahmat Allah Yang Maha Kuasa dan dengan didorongkan oleh keinginan luhur, supaya berkehidupan kebangsaan yang bebas, maka rakyat Indonesia menyatakan dengan ini kemerdekaannya”. Maka kemerdekaan wajib disyukuri sebagai anugerah dan nikmat dari Allah Swt.

Jika dulu para pahlawan melawan Belada dan Jepang dengan bambu runcing. Maka melawan “penjajah” di era milenial, semisal kemiskinan, kebodohan, kesenjangan, dan kriminalitas, dengan merebut keilmuan dan teknologi. Era milenial merupakan satu terma untuk menunjukkan kelompok demografis yang lahir antara 1980-an sampai 2000-an. Mereka adalah generasi muda masa kini dengan kisaran usia 15-34 tahun. Apalagi Indonesia diprediksi akan mengalami bonus demografi antara 2020-2030, dengan penduduk usia produktif sebanyak 180 juta dan nonproduktif hanya 60 juta. Kesempatan emas ini hendaknya dimanfaatkan untuk bangkit merebut ilmu pengetahuan dan teknologi.

Mandiri dan independen
Secara psikologis karakteristik manusia era milenial yakni memiliki kecenderungan hidup mandiri dan independen, berpikir terbuka dan rasional, reaktif, menunjukkan eksistensi diri, kreatif dan inovatif, serta hidup dalam pusaran teknologi informasi. Maka hidup manusia di era ini tidak dapat melepaskan diri dari ketergantungan kepada gadget, internet, dan media sosial. Tak jarang setiap orang memiliki beberapa akun media sosial yang sama untuk menunjukkan eksistensi diri. Karena itu, kini tanggung jawab kemerdekaan bukanlah untuk melawan penjajahan secara fisik dan face to face. Tapi, tanggung jawab kemerdekaan saat ini adalah mengisinya dengan ilmu pengetahuan dan teknologi.

Maka Syech Dzunnun Al-Misri, seorang Ulama sufi ternama mengungkapkan bahwa; ‘semua manusia itu dianggap mati, kecuali orang-orang berilmu. Albert Einstein menyatakan, religion without science is lame and science without relegion is blind (agama tanpa ilmu adalah pincang, dan ilmu tanpa agama adalah buta). KH Zainuddin MZ menyebutkan; ‘seni membuat hidup jadi indah, iman membuat hidup jadi terarah, dan ilmu membuat hidup jadi mudah. Petikan ungkapan tokoh-tokoh besar di atas menunjukkan bahwa, ilmu pengetahuan harus berjalan seiring dan seirama dengan agama. Maka tumpuan dasar ilmu pengetahuan dan teknologi adalah Alquran.

Alquran merupakan rujukan umat Islam dalam beragama dan berkehidupan. Bahkan, Syech Said Nursi mengungkapkan, al-Qur’an is the book of science”. Sebagaimana firman Allah Swt, “Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, silih bergantinya malam dan siang, kapal yang berlayar di laut membawa apa yang berguna bagi manusia, dan apa yang Allah turunkan dari langit berupa air, lalu dengan air itu Dia hidupkan bumi sesudah mati dari keringnya, dan Dia sebarkan di bumi itu segala jenis hewan, dan pengisaran angin dan awan yang dikendalikan antara langit dan bumi; sungguh terdapat tanda-tanda keesaan dan kebesaran Allah bagi kaum yang memikirkan” (QS. al-Baqarah: 164).

Prof Dr Quraish Shihab, dalam tafsirnya Al-Misbah menguraikan bahwa ayat tersebut berisi tentang perintah untuk ber-tafakkur, dan merenungkan ciptaan Allah Swt di langit dan di bumi. Ciptaan Allah Swt di langit meliputi penciptaan matahari dan bulan, gugusan bintang, dan jutaan planet yang berkedap-kedip di malam hari. Sedangkan ciptaan Allah Swt di bumi meliputi penciptaan pepohonan dan tetumbuhan, fauna dan flora, samudera dan benua, lautan dan daratan.

Ayat tersebut mengandung filosofi agar manusia terus melakukan dan mengembangkan penelitian terhadap berbagai fenomena dan gejala alam. Sebab di dalamnya menyimpan berbagai ilmu pengetahuan bagi keberlangsungan hidup manusia. Sebab, Allah Swt menginginkan umat manusia mampu merebut dan menggenggam dunia dengan ilmu pengetahuan dan teknologi, agar menjadi bangsa yang merdeka seutuhnya di muka bumi.

Akan tetapi, sayang perkembangan keilmuan umat Islam terus merosot. Terlihat dari Badan Penelitian International, Israel dalam 1 juta penduduk memiliki 1.600 pakar pengetahuan, Amerika dalam 1 juta penduduk memiliki 160 pakar pengetahuan. Sedangkan Indonesia sebagai bangsa mayoritas muslim terbesar di dunia, dalam 1 juta penduduk hanya memiliki 65 pakar, dan yang muslim hanya 6 orang.

Padahal, sejarah Islam mencatat, bahwa Islam pernah jaya, menguasai dunia, dan pernah memiliki tokoh-tokoh hebat dengan kemampuan sains dan teknologi mumpuni di masanya. Al Khawarizmi penemu Al Goritma dan Angka Nol, Ibnu Sina pendekar kedokteran, Ibnu Rusyd sosiolog ulung, Al-Idrisi ahli Geografi, Al Jazari penemu robotik pertama, Az-Zahrawi penemu ilmu bedah, dan ratusan ilmuan muslim lainnya. Mereka hebat di masanya, karena menjadikan Alquran sebagai rujukan ilmu pengetahuan dan teknologi.

Menjadi momentum
Maka umat Islam di era milenial akan terus ketinggalan dalam ilmu pengetahuan dan teknologi, apabila masih sibuk mempersoalkan khilafiyah amalan dalam bab fikih. Jika orang Barat sudah naik ke bulan, kita bangsa Indonesia 73 Tahun sudah merdeka masih sibuk mempersoalkan cara melihat bulan. Jika kita masih sibuk mempersoalkan siapa yang akan mengurusi masjid, orang sudah sibuk memikirkan cara memakmurkan masjid. Jika kita masih sibuk mempersoalkan Qunut Subuh dan jumlah rakaat Tarawih, orang sudah sibuk berbicara teknologi. Maka pantas, jika kondisi keilmuan umat Islam terus merosot. Era milenial menjadi taruhan bagi perkembangan keilmuan dan teknologi umat Islam ke depan.

Untuk itu, maka 73 tahun Indonesia merdeka harus menjadi momentum untuk bangkit meraih kemajuan dalam bidang ilmu pengetahuan dan teknologi. Bangsa Indonesia akan terus tertinggal dan berbagai persoalan tak akan terselesaikan, juka ilmu pengetahuan dan teknologi kita merintih dan tertatih-tatih. Sebab, penjajah utama dan sumber persoalan bangsa di era milenial ini adalah kebodohan.

Oleh sebab itu, mencerdaskan kehidupan bangsa merupakan amanat konstitusi yang harus dibumikan dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. Semoga bangsa Indonesia bukan sekadar merdeka dari penjajah Belanda dan Jepang. Tapi, bangsa Indonesia harus merdeka dalam bidang ilmu pengetahuan dan teknologi. Merdeka!

* Adnan, S.Kom.I., M.Pd.I., Dosen Bimbingan Konseling Islam, Sekretaris Jurusan Ilmu Alquran dan Tafsir IAIN Lhokseumawe, Aceh. Email: adnanyahya50@yahoo.co.id

Editor: bakri
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2018 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved