Tafakur

Penghargaan

Tak terbantahkan bahwa setiap insan mau dihargai. Apalagi penghargaan bisa membantu meningkatkan semangat

Penghargaan

Oleh Jarjani Usman

“Sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi manusia” (HR. Ahmad, ath-Thabrani, & ad-Daruqutni).

Tak terbantahkan bahwa setiap insan mau dihargai. Apalagi penghargaan bisa membantu meningkatkan semangat untuk berbuat lebih baik lagi. Namun kadangkala tak semua perbuatan baik dan bermanfaat memperoleh perhatian manusia, sehingga tak sempat dihargai.

Ada perbuatan yang besar makna atau manfaatnya bagi masyarakat, tetapi malah tak terpikirkan oleh sebahagian manusia. Sebaliknya, ada perbuatan yang kadangkala hanya membuat masyarakat gembira sesaat, malah itu yang dihargai setinggi-tingginya. Itu juga harus dimaklumi, tergantung siapa yang menilai, apa yang diutamakan untuk dinilai, dan bagaimana menilainya. Manusia tak luput dari berbagai kekurangan, termasuk keterbatasan dalam membuat penilaian.

Karena itu, ketika berbuat baik, kita disarankan untuk tidak berniat untuk memperoleh penghargaan atau hadiah dari manusia. Jika memang berharap, maka bisa berpeluang kecewa dan bahkan putus asa bila tak mendapatkannya. Tetapi kita dianjurkan untuk berharap memperoleh penghargaan dari Allah.

Allah bahkan mampu menghargai serinci mungkin, bahkan hingga niat yang ada dalam hati manusia. Niat berbuat baik yang tak sempat diwujudkan dalam perbuatan, juga akan dihargai dengan pahala (HR. Bukhari & Muslim).

Editor: bakri
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2018 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved