Opini

PKA yang (tak) Berbudaya

PEKAN Kebudayaan Aceh (PKA) ke-7 baru saja selesai dihelat. Perhelatan kebudayaan Aceh ini banyak menyedot atensi masyarakat

PKA yang (tak) Berbudaya
MENTERI Agraria, Sofyan Djalil, didampingi Plt Gubernur Aceh, Nova Iriansyah menyerahkan piala juara umum kepada Plt Bupati Aceh Selatan, DedyYuswadi pada malam penutupan PKA Ke-7 di Taman Sulthanah Safiatuddin, Banda Aceh, Rabu (15/8). 

Oleh Mizaj Iskandar

PEKAN Kebudayaan Aceh (PKA) ke-7 baru saja selesai dihelat. Perhelatan kebudayaan Aceh ini banyak menyedot atensi masyarakat, tidak hanya masyarakat lokal, namun juga nasional bahkan internasional. Wajar, karena event empat tahunan tersebut banyak menampilkan seni budaya Aceh yang dikenal unik dan heroik, namun tetap bersendikan keislaman yang kental.

Terdapat dua narasi besar yang dapat dibaca melalui penyelenggaraan PKA kali ini. Dua narasi besar tersebut berkaitan dengan budaya Aceh masa lampau (past) sekarang (present) dan masa akan datang (future). Dua narasi tersebut tercermin dalam judul opini ini.

Narasi pertama, dengan memasukkan kata dalam kurung, maka narasinya berbunyi; “PKA yang tak berbudaya”. Narasi pertama ini bermakna PKA-nya saja yang menampilkan kebudayaan Aceh, tetapi tidak dengan pengunjungnya. Atau dengan menghapus kata dalam kurung, maka bacaanya; “PKA yang berbudaya”. Narasi ini bermakna perhelatan PKA dan pengunjungnya sama-sama mencerminkan kebudayaan Aceh.

Barangkali tidaklah keliru jika dikatakan bahwa narasi pertama adalah fakta yang terjadi selama perhelatan PKA. Di mana kebudayaan Aceh hanya sebatas pertunjukkan dalam perhelatan PKA, sedangkan sikap dan perilaku masih “jauh panggang dari api”. Sedangkan narasi kedua adalah harapan semua kita agar budaya Aceh tidak sebatas pertunjukan, namun juga terakulturasi dengan baik dalam kehidupan sehari-hari.

Apa itu budaya?
Dari berbagai literatur yang penulis temukan kata budaya atau kebudayaan berasal dari bahasa Sanskerta yaitu buddhayah, yang merupakan bentuk jamak dari buddhi (budi atau akal) yang dapat diartikan sebagai hal-hal yang berkaitan dengan budi, dan akal manusia.

Dalam berbagai kepustakaan disebutkan bahwa budaya adalah suatu cara hidup yang berkembang dan dimiliki bersama oleh sebuah komunitas dan diwariskan dari generasi ke generasi. Budaya terbentuk dari banyak unsur yang rumit, termasuk sistem agama, politik, adat istiadat, bahasa, perkakas, pakaian, bangunan, dan karya seni.

Jika merujuk pada penjelasan di atas tentang, dapat disimpulkan bahwa budaya Aceh yang ditampilkan melalui PKA memang memiliki tingkat peradaban yang tinggi. Selama pagelaran PKA mulai 5-15 Agustus 2018 kita disuguhkan dengan tampilan adat istiadat bewarnakan Islam yang memesona, seperti adat peusijuk atau seumeuleng. Tutur kata santun penuh nilai dan makna, seperti hadih maja (pribahasa Aceh).

Alat perkakas yang multi guna, pakian yang penuh warnah-warni yang membuat pemakiannya terlihat anggun dan eksotik, bangunan yang sarat makna filosofis dan tarian-tarian heroik yang membuat bulu kuduk merinding. Semua itu sekali lagi membuat budaya Aceh patut ditahbiskan sebagai budaya dengan tingkat peradaban tinggi (culture with a high level of civilization).

Di balik germelapnya kebudayaan tersebut ditemukan fakta bahwa bentuk kebudayaan yang dipamerkan pada PKA itu hampir kesemuaannya adalah warisan endatu (nenek moyang) kita. Mulai dari adat istiadat sampai tari seni merupakan produk budaya yang kita contek dari nenek moyang kita. Hanya sedikit saja bagian dari budaya tersebut yang mampu dimodifikasi, namun dengan tingkat orisinalitas yang rendah.

Halaman
12
Editor: hasyim
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

TRIBUNnews.com Network © 2018
About Us
Help