Warga Galus Diminta Jaga Kelestarian Hutan

Bupati Gayo Lues (Galus) meminta masyarakat untuk terus menjaga kelestarian hutan, dengan tidak membakar lahan

Warga Galus Diminta Jaga Kelestarian Hutan
ist
Hutan Tangse, Pidie, Sabtu (14/7/2018) sekitar pukul 20.15 WIB, terbakar. 

BLANGKEJEREN - Bupati Gayo Lues (Galus) meminta masyarakat untuk terus menjaga kelestarian hutan, dengan tidak membakar lahan saat membersihkan kebun atau lainnya. Masyarakat juga diminta untuk menjaga lingkungan masing-masing dengan tidak membakar sampah sembarangan.

Hal itu disampaikannya saat menggelar shalat Istiqa (minta hujan) di Lapangan Pancasila, Blangkejeren, Kamis (16/8). Kegiatan itu dilaksanakan seiring kemarau penjang masih berlangsung, sehingga beberapa area pertanian kekeringan, selain kawasan hutan terbakar akibat tinggi suhu di siang hari.

Sebagai imam shalat Istiqsa, ustadz Zubair Alhafiz dan khatib Tgk Kasimudin Ghazali. Bupati Amru dalam sambutannya mengatakan daerah Galus yang memiliki julukan ‘Negeri Seribu Bukit’ masih dilanda kemarau panjang, sehingga kebakaran hutan sering terjadi dan lahan masyarakat kekeringan, akibat sumber air tidak menucukupi.

“Shalat istisqa harus juga dilaksanakan oleh masyarakat secara serentak pada Jumat di masjid masing-masing desa,” ujarnya. Dia juga memerintahkan para camat agar mengeluarkan imbauan kepada masyarakat agar melaksanakan shalat istiqsa, termasuk para penghulu dan imam kampung.

Kegiatan shalat memohon hujan yang diikuti bupati, juga dihadiri Dandim, personel Polres Galus, para jajaran kepala dinas, badan dan kantor bersama staf lainnya dan masyarakat. Selain itu juga diikuti oleh kalangan ibu-ibu dan anak-anak.

Sementara itu, khatib shalat istisqa, Tgk Kasimudin Ghazali mengatakan, kemarau panjang yang melanda daerah ini, telah menyebabkan kekeringan dan kebakaran, sehingga harus harus menjadi renungan bersama. “Saat ini, 100 persen masyarakat mendambakan hujan turun,” ujarnya di depan seratusan jamaah.

Tgk Kasimudin Ghazali yang juga Ketua MPU Galus itu menyinggung banyaknya masyarakat duduk di kafe dari pada di masjid. Dia menambahkan perbuatan maksiat semakin merajarela, setelah melonjaknya harga sejumlah komoditi unggulan pertanian.(c40)

Editor: hasyim
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

TRIBUNnews.com Network © 2018
About Us
Help