Citizen Reporter

Filipina di Bawah Bayang-bayang Gempa

BENCANA alam, khususnya bencana geologis, semakin sering terjadi dalam sepuluh tahun terakhir

Filipina di Bawah Bayang-bayang Gempa
FAIZAL ADRIANSYAH MSi

OLEH FAIZAL ADRIANSYAH MSi, Anggota Dewan Pakar Forum Pengurangan Risiko Bencana Aceh, melaporkan dari Manila

BENCANA alam, khususnya bencana geologis, semakin sering terjadi dalam sepuluh tahun terakhir. Sejak gempa Aceh 26 Desember 2004 dengan kekuatan 9,3 skala Richter (SR), gempa sering melanda negeri kita silih berganti. Semua gempa yang terjadi tersebut tidak pernah dipediksi sebelumnya seperti gempa Nias 8,2 SR pada 28 Maret 2005, gempa Yogyakarta 5,9 SR pada27 Mei 2006, gempa Padang 7,6 SR pada 30 September 2009, gempa Pidie Jaya 6,5 SR pada 7 Desember 2016, dan banyak lagi gempa besar yang sering melanda negeri kita hingga yang baru saja terjadi, yakni gempa Lombok.

Gempa di Nusa Tenggara Barat itu menjadi diskusi mendalam para ahli kegempaan karena gempa Lombok di luar kebiasaan gempa, yaitu gempa pertama tanggal 29 Juli 2018 dengan kekuatan 6,4 SR, kemudian pada tanggal 5 Agustus 2018 terjadi lagi gempa yang lebih besar, 7 SR. Berdasarkan kejadian gempa biasanya setelah gempa besar maka akan disusul oleh gempa-gempa kecil yang sangat sering terjadi karena kondisi patahan bumi menuju kestabilan. Tapi yang terjadi di Lombok justru sebaliknya, terjadi gempa kedua yang lebih besar sehingga ada ahli yang mengatakan gempa 6,5 SR adalah gempa awal (foreshock), sedangkan gempa 7 SR itu adalah gempa utamanya (mainshock).

Sebagian ahli lain mengatakan bahwa gempa pertama dan kedua terpisah, masing-masing memiliki pusat gempa tersendiri, tapi saling memengaruhi. Dalam seismologi, kejadian seperti ini dikenal dengan istilah gempa doublet atau ada yang menyebutnya gempa kembar, seperti kasus gempa Aceh pada 11 April 2012 di lantai Samudra Hindia yang terjadi susul-menyusul, hanya selisih sekitar dua jam pertama gempa 8,6 SR, lalu disusul gempa 8,2 SR.

Berbagai pandangan para ahli kegempaan tersebut menunjukkan kepada kita bahwa ilmu manusia tentang kegempaan ini sebetulnya masih sangat sedikit. “Kita baru tahu gempa setelah gempa terjadi.”

Bencana geologis adalah bencana alam yang disebabkan oleh kondisi geologis suatu daerah. Bencana geologi meliputi gempa bumi, letusan gunung api, tanah longsor, dan tsunami. Daerah yang memiliki kerawanan terhadap bencana geologis adalah wilayah yang berada pada zona “cincin api” atau dikenal juga dengan istilah ring of fire.

Indonesia dikenal sebagai bagian dari ring of fire dunia, karena itu daerah kita merupakan bagian yang tidak pernah sepi dari bencana geologis, terutama gempa bumi. Menyadari kondisi ini sebenarnya harus terbangun kesadaran di seluruh bangsa ini bahwa bencana tidak mungkin kita hindari, namun risikonya pasti bisa kita kurangi. Karena itu ada istilah “gempa tidak membunuh, tetapi runtuhan bangunanlah yang menyebabkannya.” Maknanya, apabila kita membangun dengan standar bangunan tahan gempa maka korban bisa dihindari. Demikian juga longsor sesungguhnya tidak membunuh, tetapi kebijakan yang membiarkan penduduk bermukim di lereng-lereng bukitlah sesungguhnya yang menyebabkan jatuhnya korban.

Tugas negara adalah melindungi rakyatnya seperti tertuang pada Pembukaan UUD Negara Republik Indonesia Tahun 1945, yakni “melindungi segenap bangsa Indonesia dan seluruh tumpah darah Indonesia...” Dengan sering berulangnya bencana maka menjadi momentum penting bagi kita untuk mengubah cara pandang, cara pikir, dan cara kerja dalam kebencanaan di Indonesia.

Di level pemerintah pusat ada Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) dan di daerah ada Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD). Kedua lembaga ini kiranya perlu terus melakukan reevaluasi terhadap kebijakan kebencanaan di Tanah Air. Kita masih melihat dan merasakan setiap ada bencana kita seperti “tidak siap”. Pola responsif masih kental kita rasakan, yaitu menangani bencana setelah bencana terjadi.

Nah, sudah saatnya kita bergeser ke pola preventif dengan membangun kesadaran masyarakat di semua lini. Kesan inilah yang saya rasakan dalam kunjungan lapangan saat membawa peserta Diklat Reform Leader Academy (RLA) dengan tema “Membangun Masyarakat Tangguh Bencana” ke Manila, ibu kota Filipina pekan ini. 

Filipina dan Indonesia ternyata memiliki banyak kesamaan. Pertama, sama-sama negara kepulauan. Kalau Indonesia terbentang dari timur ke barat secara horizontal, Filipina justru memanjang vertikal, dari utara ke selatan. Kedua, kondisi tektoniknya. Kita dan Filipina sama-sama berada di zona ring of fire. Gempa, letusan gunung api, dan longsor pernah melanda Filipina, bahkan Filipina memiliki potensi bencana climatologic berupa angin taipun atau angin topan yang hampir setiap tahun datang menerpa wilayahnya.

Sejauh amatan saya, Pemerintah Filipina sangat serius terhadap bencana alam dan terus berupaya mempersiapkan masyarakat yang tangguh bencana. Apalagi dengan banyaknya kejadian gempa bumi di negara tetangganya, yaitu Indonesia, tentulah Filipina banyak belajar dan mempersiapkan diri agar lebih siap bilamana suatu ketika bencana menerpa. 

Para peneliti kegempaan telah memprediksi bahwa Kota Manila ”tinggal menunggu waktu” saja, akan ada bencana gempa besar sekitar 7 SR. Untuk itu, berbagai upaya terus mereka lakukan, mulai dari evaluasi bangunan, sosialisasi hingga simulasi bencana (drill) yang terus digencarkan oleh pemerintahnya.

Bencana yang sering terjadi di Filipina adalah angin topan yang terkadang sampai 20 kali dalam setahun. Dalam hal bencana angin topan Pemerintah Filipina telah memiliki ketangguhan. Buktinya, mereka telah membuat sistem yang baik dan informasi yang selalu bisa diakses oleh masyarakat melalui smartphone atau ponsel. Memang bencana angin topan berbeda dengan gempa, kalau angin topan bisa diprediksi, sedangkan gempa bumi sampai kini tak bisa diprediksi. Namun, dari pengalaman mereka dengan kesiagaan penuh menghadapi bencana angin topan maka mereka terapkan juga untuk kesiagaan bencana terhadap gempa. Paling tidak, masyarakatnya harus tahu apa yang mereka lakukan ketika gempa terjadi.

Filipina terus berupaya membangun masyarakat tangguh bencana melalui kesadaran bahwa bebas dari bencana (free from disaster) itu tidaklah mungkin dilakukan, karena bencana alam ada di sekitar mereka. Maka yang perlu serius dibangun adalah kesadaran hidup bersama bencana (living with disaster), ini yang menjadi kesadaran komunal masyarakat Filipina. Kebijakan membangun masyarakat tangguh bencana di Filipina sampai ke tingkat desa (barangay). Jaringan pengurangan risiko bencana (disaster risk reduction) di Filipina sudah terbangun sangat baik, mulai dari tingkat pusat hingga ke desa (national-regional-provincial-city-municipal-barangay). Pola ini yang justru masih sangat kurang di Indonesia. Memang koordinasi merupakan kata yang sangat mudah diucapkan, tetapi dalam implementasinya sangat sulit dilaksanakan. 

Editor: bakri
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

berita POPULER

© 2018 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved