Breaking News
Kamis, 9 April 2026

Aceh Utara dan Bireuen Kekeringan

Ratusan Hektare (Ha) areal sawah di Kabupaten Aceh Utara dan Bireuen dilanda kekeringan karena sudah sebulan

Editor: bakri
PETANI mencabut tanaman padi yang mati karena kekeringan di Desa Uten Rungkom, Kecamatan Peulimbang, Bireuen, Minggu (19/8). 

* Tanah Retak, Padi Mulai Layu

LHOKSUKON – Ratusan Hektare (Ha) areal sawah di Kabupaten Aceh Utara dan Bireuen dilanda kekeringan karena sudah sebulan belakangan tak diguyur hujan. Eksesnya, tanah sawah pun mulai retak-retak dan tanaman padi ada yang layu hingga menguning. Ditakutkan, jika kondisi ini tak segera teratasi, akan berdampak terhadap hasil panen.

Berdasarkan data yang didapat Serambi, kekeringan yang terjadi di Kecamatan Baktiya Barat, Aceh Utara melanda Desa Cot Kupok, Matang Teungoh, Cot Paya, Pucok Alue Buket, Matang Cibrek, Lang Nibong, Matang Bayu, Blang Seunong, Matang Raya Blang Sialet, dan sebagian Desa Singgah Mata. Sedangkan, di Kabupaten Bireuen, musibah ini menimpa enam kecamatan meliputi Kecamatan Peulimbang, Jeunieb, Peudada, Peusangan Siblah Krueng, Makmur hingga Kecamatan Gandapura.

“Kami sudah pernah menyampaikan persoalan ini kepada petugas, tapi sampai sekarang belum ada respon,” ujar Keuchik Matang Raya Blang Sialet, Kecamatan Baktiya Barat, Ziaul Syamsi kepada Serambi, kemarin. Disebutkan dia, di desanya ada sekitar 400 hektare areal sawah, di mana 70 persen di antaranya atau sekitar 280 hektare dalam kondisi kering kerontang sejak tiga pekan lalu.

“Kawasan kami sebelumnya pernah terjadi gagal panen. Itu saat semua areal sawah yang sudah ditanami padi terendam banjir pada awal tahun sehingga semua padi mati. Karena itu, kami berharap kali ini padi kami tidak mati karena tak ada air,” ungkapnya.

Keuchik Ziaul Syamsi menjelaskan, masa penamanan padi di kawasan desanya memang melewati jadwal pembukaan pintu air. Hal itu disebabkan karena padi yang ditanam sebelumnya mati direndam banjir, sehingga mereka harus menyemai kembali bibit padi dari awal. “Telatnya penanaman padi di desa kami bukan disengaja. Ini karena ada bencana banjir,” ucapnya..

Keuchik Pucok Alue Buket, Ibrahim Abdullah menambahkan, kondisi kekeringan di kawasannya lebih parah dari desa lain. Sebab, tanah sawah mulai retak-retak, dan tanaman padi mulai menguning karena layu. “Ini diakibatkan areal sawah di desa kami berada di ujung saluran irigasi, sehingga ketika dibuka pintu irigasi, air baru sampai ke areal sawahwarga sebulan kemudian,” tukas dia.

Di Kabupaten Bireuen, kekeringan melanda ratusan hektare tanaman padi di sawah tadah hujan dalam wilayah Kecamatan Peulimbang, Jeunieb, Peudada, Peusangan Siblah Krueng, Makmur, dan Gandapura. Kondisi ini membuat Bireuen terancam gagal panen karena kekeringan terjadi saat padi sedang mengisi bulir atau berusia sekitar dua bulan.

Informasi yang diperoleh Serambi, di Peulimbang sawah tadah hujan yang mengalami kekeringan terletak di Desa Seunebok Seumawe, Kuta Trieng, Puuk, Seunebok Tengoh, Uteun Rungkom, dan beberapa desa lainnya. kekeringan ini khususnya terjadi di sawah tadah hujan, disebabkan hujan jarang turun. Untuk Kecamatan Peudada, sawah yang mengering mencapai puluhan hektare di tiga kemukiman yaitu Kemukiman Alue Rheng, Kemukiman Pinto Batee, dan Kemukiman Paya. Begitu juga halnya di Kecamatan Makmur, tanaman padi yang kekeringan terjadi di Desa Leubu Mesjid, Tringgadeng, Desa Lue Dua, Blang Dalam, dan sejumlah desa lainnya.

Faisal, warga Leubu Meusjid kepada Serambi, Minggu (19/8), mengatakan, tanaman padi di desanya yang sudah berusia dua bulan lebih, mulai menguning dan layu. “Kalau tidak ada hujan, padi kami kemungkinan tidak dapat kami panen kali ini,” ucapnya lirih.

Untuk mengatasi kekeringan, sebagian petani mengandalkan sumur bor. Namun lebih banyak yang membiarkan sawah begitu saja karena ketiadaan biaya untuk menggali sumur bor. Ironisnya, walau sudah ada sumur bor, kekeringan juga belum teratasi karena debit air tidak mencukupi. Hal ini seperti yang dialami petani di Desa Cot Puuk, Cot Tufah, dan beberapa desa lainnya, di Kecamatan Gandapura. “Kita pompa sampai enam jam, besok sudah kering lagi,” keluh Mursalin, warga Gandapura.

Sementara itu, Kepala Ranting Daerah Irigasi (DI) Jambo Aye pada Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (PUPR) Aceh Utara, Khairil kepada Serambi, kemarin, menegaskan, dirinya tak bisa membuka pintu air irigasi Langkahan untuk warga Baktiya Barat karena tak ada perintah. Sebab, jelasnya, proses buka tutup pintu air irigasi sudah ditentukan melalui surat keputusan (SK) Bupati Aceh Utara.

“Jadi, kalau saya buka pintu air, bagaimana dengan areal sawah yang sudah panen. Siapa yang akan bertanggung jawab nantinya jika padi masyarakat terendam. Jadi, bukan kami tidak menanggapi permintaan petani di Baktiya Barat, tapi kami bekerja sesuai dengan aturan,” tukasnya. Menurut Khaidir, persoalan kekeringan sawah bukan hanya terjadi di Baktiya Barat saja, tapi juga di Tanah Jambo Aye dan Seunuddon. “Saya baru membuka pintu air kalau sudah ada perintah,” tandas Khairil.

Di sisi lain, Koordinator Pengamat Hama Penyakit (PHP) Dinas Pertanian Bireuen, H Azhari SP kepada Serambi mengungkapkan, pihaknya masih melakukan pendataan areah sawah tadah hujan yang mengalami kekeringan di Kecamatan Peulimbang, Jeunieb, Peudada, Peusangan Siblah Krueng, Makmur, dan Gandapura. “Petugas sedang melakukan pendataan menyangkut kekeringan tinkat ringan, sedang, dan berat,” pungkas Azhari.(jaf/yus)

Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved