Opini

Menggapai Haji Mabrur

HAJI secara harfiah berarti sengaja melakukan sesuatu, sedangkan secara istilah berarti sengaja datang ke Mekkah

Menggapai Haji Mabrur
Umat muslim berkeliling di sekitar Kabah di Masjidil Haram di kota suci Mekah, Aarab Saudi, Jumat (17/8). Muslim dari seluruh dunia berkumpul di Mekkah di Arab Saudi untuk ibadah haji tahunan, salah satu dari lima rukun Islam. AFP/ AHMAD AL-RUBAYE 

Oleh Agustin Hanafi

HAJI secara harfiah berarti sengaja melakukan sesuatu, sedangkan secara istilah berarti sengaja datang ke Mekkah, mengunjungi Kakbah dan tempat-tempat lainnya untuk melakukan serangkaian ibadah tertentu, seperti wukuf, thawaf, sa‘i, dan amalan lainnya pada masa tertentu dengan syarat-syarat yang telah ditetapkan. Ibadah haji berkaitan erat dengan pengalaman rohani Nabi Ibrahim as.

Sedikitnya ada tiga keistimewaan Nabi Ibrahim as yang tidak dimiliki oleh para nabi dan manusia lain, yaitu: Pertama, Ibrahim menemukan Tuhan melalui pencarian dan pengalaman rohani. Kedua, melalui beliaulah kebiasaan mengorbankan manusia sebagai sesaji atau tumbal dibatalkan oleh Tuhan. Bukan karena manusia yang terlalu mahal untuk pengorbanan itu, karena jika panggilan Ilahi tiba, tiada sesuatu pun yang mahal. Pembatalan itu semua karena rahmat dan kasih sayang Allah kepada hamba-Nya. Dan, ketiga, Nabi Ibrahim adalah satu-satunya nabi yang bermohon agar diperlihatkan bagaimana Tuhan menghidupkan yang mati, dan permohonan tersebut dikabulkan oleh Allah Swt.

Di antara ayat Alquran yang menyinggung ibadah haji adalah firman Allah Swt, “Dan serulah manusia untuk mengerjakan haji, niscaya mereka akan datang kepadamu dengan berjalan kaki, atau mengendarai setiap unta yang kurus, mereka datang dari segenap penjuru yang jauh.” (QS. al-Hajj: 27).

Sebagaimana disebutkan dalam beberapa kitab Tafsir bahwa ayat ini merupakan dialog antara Allah Swt dengan Nabi Ibrahim as. “Kumandangkanlah panggilan kepada manusia untuk melaksanakan haji,” demikian perintah Allah kepada Nabi Ibrahim as. “Suaraku tidak akan dapat terdengar oleh mereka, Ya Allah.” “Yang penting serukan panggilan itu, kami akan memperdengarkannya.” Demikian dialog antara Allah dengan Nabi Ibrahim as.

Memenuhi panggilan-Nya
Mahabenar Allah, tidak seorang muslim pun yang tidak pernah mendengar panggilan itu, termasuk seluruh pemimpin muslim dunia. Mereka merasa bangga dan merasa sempurna hidupnya jika telah memenuhi panggilan-Nya untuk menginjakkan kaki di tanah haram untuk berhaji ataupun umrah. Tidak ada tempat di dunia ini yang dikunjungi oleh berjuta-juta umat manusia setiap saat seperti halnya tanah suci Mekkah, meski dibandingkan dengan perhelatan akbar sekelas Piala Dunia sekalipun, Mekkah masih melebihi dari semua perhelatan akbar di mana pun.

Di sana hadir kaum muslimin dari berbagai bangsa dan suku dari seluruh pelosok bumi. Mereka datang dengan kultur dan bahasa yang berbeda untuk berkumpul di tempat yang sama, dengan ibadah yang sama dan ucapan yang sama, bahkan dengan pakaian yang sama. Mereka menghayati kebesaran dan keagungan Allah sekaligus menghayati kesalehan, ketekunan, dan keuletan para Nabi. Mereka adalah tamu Allah yang akan mendapat pelayanan dari Allah berupa rahmat, berkah, dan maghfirah-Nya.

Tidak seorang muslim pun yang tidak mengetahui bahwa haji merupakan Rukun Islam yang kelima yang harus ditunaikan bagi yang telah mampu secara fisik dan materi. Tidak seorang muslim pun yang tidak mengetahui adanya kewajiban untuk memperkenankan panggilan itu.

Semua orang mendapatkan panggilan, meski beragam sikap manusia dalam menyikapi panggilan tersebut. Ada yang ingin memenuhinya, dan memiliki kemampuan umtuk melaksanakannya, sehingga menjadi tamu Allah yang diharapkan mampu menunaikannya secara sempurna. Ada yang ingin dan mampu memenuhinya, namun memiliki hambatan tertentu sehingga tidak tercapai apa yang menjadi harapannya.

Bahkan ada yang sudah terdaftar sebagai calon jamaah haji dan positif akan berangkat, namun ketika telah berada dalam pesawat harus turun lagi, karena faktor kesehatan yang buruk. Ada juga yang mampu, kesempatan baginya terbentang luas, tetapi hatinya tidak tergerak, langkahnya justru menjauh sehingga menjadi golongan yang merugi. Dan sebaliknya, tidak sedikit pula yang berkeinginan tetapi apa daya tangannya tak sampai.

Halaman
12
Editor: bakri
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

berita POPULER

© 2018 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved