Salam

Pelaku Karhutla Harus Ditindak Tegas

KEBAKARAN hutan dan lahan (karhutla) kembali melanda Kabupaten Gayo Lues (Galus)

Pelaku Karhutla Harus Ditindak Tegas
IST
Foto udara memperlihatkan kebakaran lahan di Kecamatan Bakongan, Aceh Selatan. 

KEBAKARAN hutan dan lahan (karhutla) kembali melanda Kabupaten Gayo Lues (Galus). Kali ini api melumat hutan di perbukitan Pangwa, Kecamatan Blangjerango. Kebakaran di Pangwa itu telah menghanguskan ratusan hektare hutan gambut,pepohonan pinus, dan lahan pertanian warga.

Masyarakat menduga, kebakaran terjadi karena ada warga yang tak peduli lingkungan membuka lahan baru di lereng bukit dengan cara membakar. Akibat kebakaran itu, kawasan Galus sempat diselimuti asap tebal selama dua hari terakhir. Apalagi sampai kemarin sore kobaran api belum berhasil dipadamkan sejak terbakar 17 Agustus lalu.

Malah kondisinya kemarin semakin parah karena titik dan kobaran api meluas. Semula hanya di Kecamatan Blangjerango, tapi kemarin lidah api sudah sampai ke Kecamatan Blangkejeren dan Putri Betung. Sebelumnya, kawasan pegunungan Kecamatan Dabun Gelang terbakar hebat pada 5 Agustus lalu. Tiga hari kemudian kobaran apinya baru padam setelah menghanguskan hutan pinus dan seratusan hektare tanaman serai wangi.

Kebakaran juga terjadi dua hari berselang di kawasan pegunungan Kedah, Kecamatan Blangjerango. Pendeknya, musim kemarau disertai angin kencang telah menyebabkan seringnya terjadi kebakaran di gugus pegunungan Leuser yang berada di Kabupaten Galus seperti yang terjadi 20 Juli lalu. Saat itu, berhektare- hektare kebun serai wangi warga juga ludes terbakar.

Rangkaian fakta ini menunjukkan bahwa kebakaranterjadi di tengah kondisi kekeringan dan angin kencang kerap melanda Galus. Kedua, proses pemadaman tidak efektif karena lokasi yang terbakar umumnya di lereng gunung atau perbukitan yang sulit dijangkau oleh armada pemadam kebakaran (damkar).

Ketiga, kita pantas prihatin sekaligus geram, karenamasih saja ada warga yang nekat membuka lahan untuk kebun atau ladang baru dengan cara membakar lahan. Padahal, Forum Koordinasi Pimpinan Daerah (Forkopimda) setempat sudah mengeluarkan seruan agar tidak melakukan pembakaran saat membuka lahan kebun, ladang, atau sawah baru demi mencegah karhutla.Seruan atau imbauan serupa pun sudah dilakukan Forkopimda Aceh karena faktanya masih banyak warga Aceh yang tidak peduli terhadap dampak ekologis dan navigasi akibat karhutla.

Nah, karena imbauan sudah dilakukan, artinya aspek sosialisasi sudah ditempuh oleh penguasa.Sekarang tinggal tahap penegakan hukum saja. aatnya untuk menindak para pembakar lahan, apakah dia orang per orang, maupun korporat. Jangan lagi tolerir tindakan-tindakan tak ramah lingkungan seperti itu. Ingatlah bahwa apabila seorang atau kelompok orang dan/atau badan hukum secara sengaja dan/atau karena kelalaiannya menyebabkan dan/atau melakukan pembakaran hutan dan lahan maka akan dikenakan sanksi pidana maksimal 15 tahun penjara dan denda Rp 10 miliar sesuai yang diatur dalam peraturan perundang-undangan.

Sesungguhnya, penegakan hukum yang tegas dan tanpa pandang bululah yang merupakan kunci sukses pemberantasan karhutla sampai ke titik nol. Para penegak hukum kita pasti bisa asalkan punya kemauan.

Editor: bakri
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

berita POPULER

© 2018 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved