Salam

Idul Adha, Momentum Mengasah Kepekaan Sosial

LEBIH dari 2 juta Muslim dari berbagai pelosok dunia, saat ini sedang melaksanakan puncak ibadah haji

Idul Adha, Momentum Mengasah Kepekaan Sosial
SERAMBI/YOCERIZAL
Daging kurban untuk diserahkan kepada warga 

LEBIH dari 2 juta Muslim dari berbagai pelosok dunia, saat ini sedang melaksanakan puncak ibadah haji di Armina, Arab Saudi. Yaitu, melaksanakan wukuf (berdiam diri) di Arafah, mabit (bermalam) di Muzdalifah, dan melontar jumrah (melempar batu) di Mina. Semua rangkaian ritual ini merupakan Rukun Haji dan wajib ditunaikan oleh setiap jamaah yang melaksanakan Rukun Islam kelima itu.

Sementara itu, kita di Tanah Air atau di mana saja, yang tidak melaksanakan ibadah haji, memperingati momentum 10 Zulhijjah dalam sistem kalender Hijriah ini, sebagai Hari Raya Idul Adha. Bahkan, prosesi perayaan ini, sehari sebelumnya atau tepatnya pada 9 Zulhijjah, sudah kita awali dengan ritual puasa Arafah. Lalu, hingga empat hari ke depan, diikuti dengan Shalat Idul Adha dan penyembelihan hewan kurban.

Seperti banyak disebut dalam nash dan ulasan para ulama fiqh, satu keistimewaan perayaan Idul Adha yang lazim juga disebut Idul Nahr, Hari Raya Haji atau Hari Raya Kurban, adalah adanya prosesi penyembelihan hewan kurban sebagaimana disebutkan di atas. Ritual ini merupakan refleksi dari ketaatan seorang hamba kepada Sang Khalik (hablum-minallah) dan sekaligus sebagai wujud dari kasih saying antarsesama (hablum-minannas).

Di daerah kita, Aceh, bumi Serambi Mekkah tercinta ini, setiap Hari Raya Idul Adha ada ribuan sapi, kerbau, domba atau kambing yang disembelih sebagai hewan kurban. Dalam dimensi vertikal, orang yang berkurban adalah orang yang ingin mendekatkan diri (taqarrub) kepada Allah Swt, sekaligus berdimensi horizontal dengan mendekatkan dirinya kepada sesama manusia.

Pengejawantahan dari upaya mendekatkan diri dengan sesama manusia direfleksikan dengan membagikan daging kurban kepada fakir miskin, yang mungkin mengalami kesulitan mengonsumsi daging karena tidak terjangkau oleh daya beli. Dengan demikian, ibadah kurban ini bukan saja sebagai upaya mewujudkan kesalehan individual, melainkan juga berupaya meningkatkan kesalehan sosial.

Menyembelih hewan kurban pada Idul Adha juga dimaksudkan untuk menumbusuburkan satu sunnah yang dicontohkan oleh Nabi Ibrahim as yang diperintahkan melalui mimpi untuk menyembelih anaknya, Ismail as yang sangat dicintainya. Lalu, karena ketaatannya itu, Allah Swt kemudian menggantikan dirinya dengan menyembelih seekor domba yang terus berlanjut sampai akhir zaman (QS. Ash-Shaffat: 102-111).

Pengorbanan Nabi Ibrahim as yang paling besar dalam sejarah umat manusia itu membuat Ibrahim menjadi seorang Nabi dan Rasul yang besar. Peristiwa ini bagi kita umat Islam harus dimaknai sebagai pesan simbolik agama, yang mengandung pembelajaran tentang pentingnya takwa kepada Allah Swt, pentingnya hubungan baik dengan sesama manusia, dan pentingnya memperkuat kesadaran diri dan memperkukuh semangat empati.

Jadi, sekali lagi, selain sebagai bentuk taqarrub kepada Allah Swt, dengan berkurban juga menunjukkan kasih sayang kita kepada sesama, terutama pada kaum dhuafa dan fakir miskin yang membutuhkannya. Dengan demikian patut disadari bahwa Hari Raya Idul Adha ini merupakan momentum untuk mengasah kepedulian dan kepekaan sosial kita terhadap sesama. Selamat Idul Adha 1439 H/2018 M!

Editor: bakri
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

berita POPULER

© 2018 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved