HGU Kebun Sawit Kurang Bermanfaat

Di sisi lain, program restorasi hutan lindung, sebuah kebijakan pengembalian fungsi hutan

HGU Kebun Sawit Kurang Bermanfaat

FKL bersama dengan Dinas Kehutanan dan Perkebunan Aceh Tamiang (Dishutbun) saat itu melakukan inventarisasi batas kawasan hutan yang telah berubah fungsi. Inventarisasi ini dilakukan untuk menetapkan areal hutan lindung yang akan dipulihkan. Setelah kegiatan ini selesai, FKL dan Dishutbun Aceh Tamiang menetapkan penebangan perdana dilakukan pada September 2014.

Dalam kurun waktu 2 tahun, telah ditebang sebanyak 60.000 batang sawit atau seluas 500 ha. Tercatat, ada 11 orang pemilik kebun ilegal di hutan lindung Tenggulun yang akhirnya setuju sawitnya dibabat habis dan direstorasi.

Dalam perjalanan kegiatan restorasi ini, begitu banyak dinamika birokrasi yang terjadi di Indonesia termasuk salah satunya pencabutan wewenang Dishutbun kabupaten ke Unit Pelaksana Teknis Dinas Kesatuan Pengelola Hutan (UPTD KPH) Provinsi Aceh sesuai amanat UU 23/2013. Oleh Dinas Kehutanan Provinsi Aceh, sebagian lahan sawit ilegal ini dikerjasamakan dengan pemilik perkebunan tersebut. Pemerintah Aceh membuat kebijakan untuk melakukan pengelolaan kelapa sawit yang “telanjur” ditanam dengan skema kemitraan.

Pola kemitraan ini menuai protes dari kalangan LSM di Aceh, yang menilai kebijakan ini cacat hukum karena tidak berdasarkan amanat Undang-undang. LSM berkesimpulan bahwa pola kemitraan pengelolaan sawit ilegal bertentangan dengan UU yang berlaku. Namun, pihak DLHK Aceh punya alasan tersendiri.

Pada tahun 2015, Dinas Kehutanan Aceh memberikan hak pengelolaan hutan lindung kepada tiga kelompok tani. Total luas areal kelola kelompok tani adalah 250 hektare. Pola restorasi hutan lindung yang dikembangkan tiga poktan tersebut adalah agroforestry. Model restorasi ini dirasa sesuai dengan keinginan kelompok masyarakat yang menginginkan adanya pendapatan tambahan dari hasil mengelola hutan lindung.

Komposisi tanaman restorasi di tiga areal ini dibagi menjadi 60% tanaman keras dan 40% tanaman buah. Juga diselingi dengan tanaman semusim sebagai alternatif mendapatkan tambahan pendapatan jangka pendek. Sampai bulan Desember 2017, FKL bersama masyarakat telah membuat 30.000 bibit tanaman, dan sekitar 10.000 bibit tersebut sudah ditanam.

Saat ini restorasi hutan lindung di Tamiang berjalan sangat bagus. Hutan muda sudah mulai tumbuh di beberapa areal restorasi. Tanaman masyarakat juga banyak yang menghasilkan. Semua keberhasilan tersebut tentu didapat dengan cara yang tidak mudah.(*)

Editor: bakri
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

TRIBUNnews.com Network © 2018
About Us
Help