Balita Step tak Terlayani

Muhammad Jibril (2,5 tahun), balita (bayi di bawah lima tahun) asal Meunasah Panton, Kecamatan Tanah Jambo Aye, Aceh Utara

Balita Step tak Terlayani
PETUGAS medis RSU Muyang Kute, Bener Meriah, merawat salah seorang balita yang keracunan makanan usai mengikuti kegiatan di Posyandu Kampung Sumber Jaya, Lampahan Atas, Kecamatan Timang Gajah, Rabu (13/8). Puluhan balita keracunan usai mengkonsumsi makanan pada acara tersebut.SERAMBI/MAHYADI 

* Dalih Oksigen Kosong

* Di Puskesmas Tanah Jambo Aye

LHOKSUKON – Muhammad Jibril (2,5 tahun), balita (bayi di bawah lima tahun) asal Meunasah Panton, Kecamatan Tanah Jambo Aye, Aceh Utara yang mengalami step, tak bisa mendapatkan pelayanan ketika dibawa ke Puskesmas Tanah Jambo Aye pada Kamis (23/8) sore, karena petugas medis mengaku tak ada oksigen. Ironisnya, obat untuk step juga sudah kedaluwarsa sehingga orangtua korban terpaksa melarikan anaknya ke klinik swasta di Kecamatan Madat, Aceh Timur.

“Pada pagi hari, anak saya sudah mengalami deman tinggi. Lalu saya bawa ke mantri (tempat praktik perawat) di Desa Ceumpedak, dan kondisinya sempat berangsur membaik. Tapi sekitar pukul 14.00 WIB, kondisinya kembali bertambah parah, bahkan sudah step,” ujar orangtua balita tersebut, Anwar Hasan (38) kepada Serambi, Jumat (24/8).

Melihat kondisinya anaknya makin parah, beber Anwar, lalu dirinya menjemput mantri tersebut ke rumahnya. “Mantri mengaku dirinya tak bisa menangani lagi dan menyarankan anak saya segera dibawa ke puskemas supaya dapat dipasang oksigen untuk membantu pernafasan karena kondisinya sudah step,” ulasnya.

Orangtua M Jibril itu mengaku dia sangat panik dengan kondisi tersebut, karena anaknya tak bisa lagi membuka mulut. Lalu dia segera memboyong putranya itu ke Puskesmas Tanah jabo Aye untuk mendapat pertolongan medis. “Tapi begitu sampai ke puskesmas, kami sekeluarga sangat kecewa. Bagaimana tidak, setelah belasan menit anak kami di sana, baru kemudian petugas medis mengabari ke keluarga kami kalau tak ada oksigen. Dalam kondisi panik, kemudian mantri menyarankan supaya dibawa ke klinik di Madat,” tukasnya kesal.

Anwar mengaku, saat itu dia tak berada di puskesmas tersebut karena sedang mengambil kartu BPJS. “Kemungkinan kalau ada saya di puskesmas itu, apapun bisa terjadi. Puskesmas yang besar seperti Tanah Jambo Aye kenapa bisa kosong oksigen. Ini pasien yang kita bawa anak kecil yang sedang step,” tandasnya. “Alhamdulillah, sesampai di klinik dan mendapat bantuan oksigen, anak saya mulai sadar kembali dan sorenya sudah diizinkan pulang. Meskipun harus bayar tapi tak masalah, yang penting anak saya bisa sembuh,” papar Anwar.

Ketidaksiapan Puskesmas Tanah Jambo Aye itu, sebutnya, sangat berisiko terhadap pasien yang ingin berobat ke lembaga pelayanan kesehatan tersebut. “Bagaimana jika ada pasien yang sesak nafas, tapi sampai di puskesmas itu tak bisa mendapat pelayanan karena tak ada oksigen, bisa fatal akibatnya,” pungkas dia.

Obat Step Kosong, Oksigen Ada
Sementara itu, Kepala Puskesmas Tanah Jambo Aye, dr Harry Laksamana kepada Serambi, kemarin, mengakui kalau memang oksigen dalam salah satu ruangan kosong, karena sudah terpakai untuk pasien sebelumnya. Namun, ucap dia, di ruangan lain oksigen masih ada. Dia mengaku tidak tahu kenapa petugas medis menyebutkan tak ada oksigen. Karena itu, dr Harry akan menanyakan kembali nantinya pada petugas medis yang piket tersebut.

“Obat-obatan sudah kita sediakan untuk persiapan lebaran. Yang kosong hanya obat step yang kita masukkan ke dubur. Obat tersebut sudah kedaluwarsa pada Juni lalu dan kita sudah pesan melalui e-katalog di Dinas Kesehatan. Namun, butuh waktu untuk diproses dan pengiriman. Selain itu, di apotek Tanah Jambo Aye, juga kosong obat tersebut,” jelasnya.(jaf)

Editor: hasyim
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2018 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved