Salam

Banjir Makin Parah, Jerat Penebang Liar!

Selama hampir beberapa bulan terakhir bencana alam, terutama banjir, banjir bandang, dan tanah longsor, kembali melanda

Banjir Makin Parah, Jerat Penebang Liar!
EPA
Longsor dan batu yang berjatuhan serta kabut masih menghambat upaya penyelamatan, kata salah satu anggota tim. 

Selama hampir beberapa bulan terakhir bencana alam, terutama banjir, banjir bandang, dan tanah longsor, kembali melanda sejumlah daerah di Aceh. Cakupannya meluas, melanda sejumlah kabupaten/kota: Sabang, Aceh Barat, Aceh Selatan, Aceh Jaya, dan Singkil.

Dampak terparah adalah dirasakan masyarakat Aceh Jaya, terutama longsor di kawasan Gunung Geureutee, sehingga sebauh pondok kuliner di atas gunumg itu ambruk. Kondisi itu menyebabkan arus mudik Lebaran Idul Adha 1439 H dari Banda Aceh ke Aceh Jaya dan juga sebaliknya, terganggu.

Bahkan, hingga Kamis kemarin Jalan Ateung Teupat di ruas Meulaboh-Kuala Bhee sempat lumpuh akibat banjir, sehingga arus transportasi terpaksa dialihkan ke jalur lain. Kondisi yang sama juga dialami masyarakat yang berada di Aceh Selatan dan Singkil.

Gempuran badai di pesisir pantai barat-selatan Aceh juga menyebabkan feri dari Sinabang ke Meulaboh, Aceh Barat, tak berlayar. Sedangkan rute Nias, Sumatera Utara-Pulau Banyak, Aceh Singkil badai dan ombak besar menyebabkan sebuah boat yang ditumpangi sembilan turis Australia kehilangan kontak selama 24 jam.

Dari Meulaboh dilaporkan, hujan lebat yang melanda Aceh Barat selama dua hari terakhir menyebabkan Kecamatan Bubon dikepung banjir. Banjir juga melanda beberapa titik di desa lain di Aceh Barat, seperti di Kecamatan Samatiga dan Kaway XVI.

Dua sungai besar, yakni Krueng Woyla dan Krueng Meureubo, meninggi debit airnya. Sebuah sekolah di Kecamatan Meureubo juga terendam banjir, demikian pula sejumlah rumah penduduk di Kecamatan Kaway XVI tak luput tertangan banjir.

Singkatnya, dalam seminggu terakhir, Aceh dilanda banjir ataupun longsor. Meski lokasi bencana berbeda-beda, tapi secara umum penyebabnya sama, yakni tingginya curah hujan, tanah labil dan daya serapnya jenuh. Hutan yang di mana-mana gundul terlihat tidaak mampu lagi menjalankan fungsi hidrologisnya.

Hutan yang tersisa gagal menyerap curah hujan yang bulan ini kebetulan tinggi, sehingga begitu hujan lebih dari enam jam, langsung terjadi banjir luapan, bahkan banjir bandang.

Untuk itu, kita berharap demi mengurangi laju deforestasi serta dampak buruknya terhadap lingkungan maupun permukiman penduduk yang belakangan ini makin sering didera banjir, sudah seharusnya Pemerintah Aceh mengintruksikan bahwa tidak sebatang pohon pun di hutan Aceh boleh ditebang dengan alasan apa pun.

Selain itu, fungsi jagawana harus pula dioptimalkan. Juga harus berani menghukum berat mereka yang terbukti mencuri kayu atau berkonspirasi dengan aparat dari kesatuan lainnya dalam menjarah hutan kita.

Penting pula mencadangkan dana penanggulangan bencana yang memadai di akhir tahun. Ini mengingat bencana banjir dan longsor justru paling banyak terjadai pada musim penghujan, dan itu biasanya terjadi di akhir tahun. Nah?

Editor: hasyim
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

TRIBUNnews.com Network © 2018
About Us
Help