Unsyiah Perkenalkan Pemotong Nata De Coco

Universitas Syiah Kuala (Unsyiah) melalui Program Kemitraan Masyarakat (PKM) melakukan pendampingan terhadap kelompok usaha

Unsyiah Perkenalkan  Pemotong Nata De Coco
IST
Salak Pliek ikut berpartisipasi pada ajang International Food Festival (IFF) Ke-2 tahun 2017, di Kampus Unsyiah, Darussalam Banda Aceh, 12-14 September 2017. 

BANDA ACEH - Universitas Syiah Kuala (Unsyiah) melalui Program Kemitraan Masyarakat (PKM) melakukan pendampingan terhadap kelompok usaha nata de coco di Kecamatan Blang Mangat, Lhokseumawe, sejak April-September 2018. Pendampingan tersebut termasuk pengenalan alat pemotong nata de coco untuk meningkatkan kapasitas dan efisiensi kegiatan produksi hidangan pencuci mulut itu.

Tim PKM Unsyiah terdiri atas tiga dosen yaitu Umi Fathanah ST MT dan Mirna Rahmah Lubis ST MS dari Jurusan Teknik Kimia, serta Megawati SE MM dari Jurusan Ekonomi Manajemen Unsyiah. Pembinaan kelompok usaha tersebut mencakup aspek produksi, manajemen keuangan, hingga pemasaran produk.

Hal itu diungkapkan Ketua Tim PKM Unsyiah, Umi Fathanah kepada Serambi, Jumat (24/8). Menurutnya, kelompok usaha masyarakat itu memerlukan bimbingan karena berperan besar dalam pembangunan ekonomi nasional. “Kami berupaya untuk meningkatkan kesejahteraan dan taraf perekonomian kelompok usaha nata de coco di Lhokseumawe,” ujarnya.

Umi menyebutkan, kelompok usaha tersebut beranggotakan ibu-ibu rumah tangga dan anak remaja putus sekolah yang bergabung untuk mengembangkan usaha pembuatan makanan berbahan baku air kelapa itu. “Berbekal peralatan sederhana dengan sistem pemasaran yang masih sangat konvensional, usaha nata de coco ini terus dikembangkan dan dijadikan sumber pendapatan utama dalam keluarga,” jelasnya.

Maka dari itu, lanjut Umi, Tim PKM Unsyiah memasang target khusus yaitu meningkatkan kinerja produksi usaha nata de coco melalui transfer peralatan Teknologi Tepat Guna (TTG). Selama ini, lanjutnya, proses pemotongan lembaran nata de coco menggunakan pisau dapur, sehingga membutuhkan waktu yang lama dengan hasil yang tidak seragam.

“Dengan menggunakan alat terbaru ini, proses pemotongan nata de coco bisa lebih cepat dengan hasil potongan berbentuk dadu ukuran 1x1 centimeter,” timpal Umi. Selain efisiensi waktu dan keseragaman ukuran produk, dosen Teknik Kimia Unsyiah ini yakin produk nata de coco yang dihasilkan juga jadi lebih higienis.(fit)

Editor: hasyim
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

TRIBUNnews.com Network © 2018
About Us
Help