Belajar Jadi Sastrawan Muslim dari Hikayat Prang Sabi

SASTRA memang tidak dapat dipisahkan dari kehidupan umat Islam. Di mulai dari sastra ciptaan Allah SWT

Belajar Jadi Sastrawan Muslim dari Hikayat Prang Sabi
KOMPAS.COM/I MADE ASDHIANA
Muda Baliya, seniman hikayat Aceh. 

Oleh: Antoni Abdul Fattah, anggota REUSAM Institute

SASTRA memang tidak dapat dipisahkan dari kehidupan umat Islam. Di mulai dari sastra ciptaan Allah SWT, yakni Alquran hingga sastra buatan ciptaannya, manusia. Islam telah menjadikan sastra sebagai sarana dalam berdakwah. Mungkin posisinya dapat disetarakan dengan jihad pena atau jurnalisme.

Sejatinya sastra harus dapat membentuk kepribadian dan membangkitkan ruhiyahpembacanya. Membuat ia semakin dekat dengan Penciptanya dan semakin memantapkan hatinya untuk selalu menjalankan setiap perintah dan menjauhi setiap larangan yang telah digariskan oleh Rabbnya, Allah SWT.

Dahulu, saat saya masih belajar di bangku sekolah (sekitar 2000-an), saya mengenal sebuah novel yang mengajak kaum muda untuk menjauhi pergaulan bebas berjudul “Nikah Dini Keren!” dengan jumlah edisi dua volume. Buku ini berhasil mengubah pandangan remaja saat itu. Banyak dari kaum mudanya yang memutuskan pacarnya, menyelesaikan pendidikan tingginya lalu menyegerakan menikah daripada terlibat perzinahan.

Seingat saya fenomena pengaruh novel ini mirip dengan pengaruh yang ditimbulkan olehnovel fenomenal Habiburrahman el-Shirazy, “Ayat-Ayat Cinta.” Saat ini masih jarang ditemui kisah fiksi dansajak yang mengajak pembacanya untuk selalu dekat dengan Sang Pencipta. Tidak hanya menghibur, namun, sastra seyogyanya harus dapat mendidik pembacanya untuk selalu berjalan di garis yang diridhoi oleh Allah SWT. Memotivasi mereka agar selalu dekat dengan akhirat tanpa harus meninggalkan jatah yang telah Allah SWT sediakan kepada mereka di dunia.

Di Aceh sendiri ada satu karya sastrayang melegenda, yang selalu memantikruhiyah pembaca atau pendengarnya. Karya tersebut adalah “Hikayat Prang Sabi,” yang ditulis oleh Teungku Tjhik Pante Kulu. Hal ini terjadi karena semua poin yang harus ada dalam sastra islami itu dimiliki oleh karya hebat sepanjang masa tersebut. Tokoh pendidikan Aceh, Ali Hasjmy (1977) dalam membahas Hikayat Prang Sabi telah berhasil membongkar beberapa syarat yang harus dimiliki oleh sastra Islam. Berikut penjelasannya:

Pertama, memiliki nilai keindahan dan ketegasan. Bahasa yang mudah dipahami oleh setiap lapisan masyarakat. Sehingga apa yang ingin disampaikan oleh penyair/penulis dapat tersampaikan dengan baik kepada pembaca/ penikmat sastra. Pembaca/penikmat sastra itu pun “terilhami” sehingga dapat mendorong mereka untuk mulai melakukan perubahan baik dalam kehidupan pribadinya maupun dalam aspek berbangsa dan bernegara setelah membaca karya sastra tersebut.

Begitupula, syarat agar karya sastra dapat dikatakan berhasil bila ada ketegasan sikap dari seniman. “Ketegasan ini berupa keberanian melahirkan cita rasanya yang jujur, bebas dari keraguan. Ia mengeluarkan angannya seutuhnya dari lubuk sanubari di alam raya, supaya didengar dan dilihat orang. Orang lain memperhatikan dan berusaha untuk mengalami pengalaman jiwanya.”

Kedua, mengandung nilai pendidikan. Sastra harus dapat mengubah pola pikir pembaca/penikmat sastra sehingga mereka mampu menanggapi kenyataan dan keadaan sekelilingnya. Kemudian bertindak untuk menghadapi segala problema dan kesulitan.Selain itu, sastra islami juga harus dapat mengajarkan akhlak dan adab sebagai pendidikan dalam kemasyarakatan.

Ditambah lagi, sastra harus dapat menjadikan pembaca/penikmat sastra selalu mensyukuri setiap perjalanan kehidupan mereka. Demikian juga, sastra islami harus mampu memberi nilai-nilai keindahan kepada jiwa mereka, sekalipun negaranya sedang berada dalam api peperangan.

Ketiga, mengandung nilai dakwah islamiyah dan kebijaksanaan dakwah. Adapun tujuan dakwah islamiyah, menurut Ali Hasjmy adalah seperti yang tertera dalam Alquran, yaitu: menegakkan kebenaran dan membasmi kejahatan (QS Al-Anfal: 8), mengajak manusia berbuat kebajikan (amar ma’ruf nahi mungkar/QS Ali Imran: 104-105), menyampaikan berita pahala dan berita siksa (QS Al- Baqarah: 119 dan Al-Ahzab: 45-46), mengajak manusia membina masyarakat aman dan damai (QS Yunus: 25), menyatakan kerasulan Muhammad meliputi segala ummat manusia (QS Ibrahim: 1, Al-Anbiya: 107, Al-Hajj: 49, dan Saba: 28), dan menyatakan bahwa agama kebenaran yang dibawa Muhammad saw untuk mengganti segala agama sebelumnya (QS Al- Maidah: 58 dan At-Taubah: 32).

Sementara yang dimaksud dengan kebijaksanaan dakwah, Ali Hasjmy lalu mengutip tulisannya Sayyid Quthb bahwa dakwah di jalan Allah harus memperhatikan keadaan, waktu dan tempat. Begitupula dapat menyentuh tali hati dan lubuk jiwa. Bila berdebat, maka berdebatlah dengan cara terbaik, yaitu tidak memaksa, tidak menghina lawan dan bertele-tele, yang penting hanyamemberi penjelasan. Allah SWT lah pemberi hidayah bagi orang yang dikehendakinya. Kita hanya berusaha menjadi perantara (pembawa) hidayah dari Allah bagi pembaca/ penikmat sastra tersebut.

Dari penjelasan ini setidaknya untuk menjadi sastrawan ataupun novelis Aceh itu tidak perlu jauh-jauh melihat sastra asing sebagai guru dalam mempelajari sastra. Cukup mengkaji Hikayat Prang Sabi. Karena semua kaidah sastra islami bahkan kaidah sastra itu sendiri semuanya ada dalam sastra karya Teungku Tjhik Pante Kulu tersebut.

Selain itu beliau adalah seorang ulama yang memiliki kredibilitas. Berbeda dengan sastrawan atau penyair asing yang kepribadian atau kredibilitasnya tidak dapat dipercaya/ diragukan. Tentu tidak berlebihan kiranya bila kita mengatakan bahwa Hikayat Prang Sabi adalah karya sastra monumental sepanjang masa. Yuk, jadi sastrawan muslim!

Editor: bakri
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2018 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved