Citizen Reporter

Stasiun Dorasan, Simbol Reunifikasi Dua Korea

SAAT berkunjung ke Korea Selatan (Korsel) kali ini saya khususkan waktu datang ke Stasiun Kereta Api Dorasan

Stasiun Dorasan, Simbol Reunifikasi Dua Korea
SERAMBINEWS.COM/M ANSHAR
Prof MOHD ANDALAS SpOG 

Oleh Prof MOHD ANDALAS SpOG, Guru Besar Fakultas Kedokteran Universitas Syiah Kuala dan Anggota FAMe Banda Aceh, melaporkan dari Korea Selatan

SAAT berkunjung ke Korea Selatan (Korsel) kali ini saya khususkan waktu datang ke Stasiun Kereta Api Dorasan. Terletak di Gyeongui, stasiun ini menghubungkan dua Korea, yakni Korsel dan Korea Utara (Korut) yang terlibat perang saudara pada 1950-1953.  Dorasan dikenal luas pascakehadiran Presiden George Bush dan Presiden Kim Dae Jung  pada 2002 di tempat itu.

Stasiun ini berjarak 650 meter dari arah selatan Zona Demiliterisasi Korea (DMZ). Di zona ini “suasana  perang” masih sangat terasa. Penjagaannya superketat, kawat perintang berduri masih terpasang, pemeriksaan paspor juga ketat, dan berbagai hal lainnya yang beraroma ketegangan khas masa konflik.

Pengunjung yang berkacamata hitam dan bertopi juga diharuskan buka saat pemeriksaan dan dilarang memotret ketika melintasi zona tersebut.  Jujur, saat melintasi zona ini saya mendadak teringat pada suasana masa konflik di  Aceh.

Di Zona Demiliterisasi ini masyarakat dari dua negara hidup berdampingan dalam damai, tapi tidak boleh ke luar dari zona tersebut.

Tatkala dilihat dari daratan  Korsel dengan kasat mata atau pun dengan teropong tidak tampak gedung bertingkat di daerah tersebut, kecuali hanya perumahan biasa dan hutan bukit yang luas.

Korsel merupakan negara adidaya di negara Asia Timur. Kehidupan rakyatnya penuh konflik, dijajah Jepang sejak 1910-1945, berlanjut dengan Perang Korea (Korean War 1950-1953).

Luas wilayahnya  hanya 99.000 meter persegi dengan jumlah penduduk sekitar 51 juta jiwa. Kepadatan penduduknya 400-500 orang per meter persegi, terutama di perkotaan, misalnya di Seoul, Busan, dan Incheon.

Bila dihitung dari hari lahirnya, Korsel adalah kakaknya Indonesia karena hari kemerdekaannya 15 Agustus 1945.

Pada umumnya penduduk Korsel tidak beragama. Tapi sebagiannya beragama Buddha, Kristen, dan Protestan. Jumlah pemeluk muslim di Korsel berkisar 35.000 jiwa dan sekitar 100.000 pekerja muslim di sini dari India, Pakistan, dan Indonesia.  

Halaman
123
Editor: bakri
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

berita POPULER

© 2018 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved