Opini

Dalih-dalih Pemburu Kuasa

KEMUDIAN ditanyailah Hotman Paris oleh para wartawan soal apa alasannya menolak ajakan bergabung

Dalih-dalih Pemburu Kuasa
Suasana gedung DPR RI, Jakarta, Jumat (22/5/2009). KOMPAS/PRIYOMBODO) 

Tidak ada kekuasaan yang mengenyangkan. Ketika seseorang mulai memegang kuasa, bahkan akan sangat berat baginya untuk tidak berhasrat masuk ke level kekuasaan yang lebih tinggi. Awalnya orang-orang mengejar kekuasaan yang menurutnya cukup besar. Saat sudah duduk di dalamnya, mereka merasa itu kecil sekali, sehingga berkeinginan duduk di institusi yang lebih besar. Begitu seterusnya. Dan, sebagaimana disebut tadi, selalu ada kata-kata memukau yang bisa dipakai untuk menutupi perilaku tamak akan kuasa itu.

Sekarang ini, hal semacam itu dilakukan dengan baik oleh mereka yang ingin “naik kelas” dari DPRA ke DPR. Seseorang layak dipilih untuk duduk di level kekuasaan yang lebih tinggi kalau ia bisa menunjukkan prestasi-prestasinya. Maka apakah masuk akal orang-orang yang prestasinya di parlemen lokal tidak ada kita utus untuk ke parlemen nasional?

Tetapi politikus selalu pintar membolakbalikkan opini. Karenanya ketika ada yang meminta mereka menunjukkan prestasi atau janji-janjinya mana yang sudah ditepati setelah lima tahun duduk di kursi parlemen, dalihnya begitu murahan: “Saya kesulitan memperjuangkan aspirasi masyarakat karena ruang gerak saya hanya di tingkat daerah. Oleh karenanya saya harus berjuang di tingkat nasional, di DPR RI”. Dalih ini akan efektif sekali ketika dipakai di depan orang-orang yang tidak kritis.

Bukan hanya tidak akan mengenyangkan orang yang sedang berkuasa di level yang lebih rendah, kekuasaan juga tidak akan mengenyangkan orang yang pernah berkuasa cukup lama di level tertinggi. Jadi kekuasaan itu bukan cuma soal membangun dan memainkan pengaruh. Tetapi juga bagaimana pengaruh diteruskan lewat medium apa saja yang bisa diakses.

Dimakan kekuasaan
Sebab itulah orang yang sudah berkuasa sepuluh tahun, dua periode, bisa saja masih merasa lapar dan tetap bernafsu menancapkan pengaruhnya menggunakan tangan orang lain, misalnya dengan mendorong anaknya ke dalam kekuasaan yang nantinya akan diatur-atur sesuai kehendak. Ini cukup membuktikan bahwa “sepuluh tahun cukup untuk membuat seseorang kenyang berkuasa”, tidak akan pernah bisa menjadi alasan yang makul untuk kebijakan pembatasan durasi berkuasa. Tidak pernah bisa itu menjadi ukuran. Kekuasaan tidak pernah mengenyangkan pikiran/batin orang yang sedang dan pernah merasakannya.

Selain tidak bisa mengenyangkan, kekuasaan juga tidak akan bisa menenangkan hidup orang yang memegangnya. Penguasa yang baik tidak tenang dengan bawahan yang bekerja asal-asalan, tidak tenang kalau ada pekerjaan yang tidak tuntas, tidak tenang saat ada yang berupaya merusak negerinya. Penguasa yang tidak baik tidak tenang saat korupsinya ketahuan, tidak tenang ketika kemewahan yang sedang dinikmati keluarganya terancam hilang, tidak tenang saat lawan-lawannya menafsir dirinya berperangai buruk.

Lagian, upaya meneruskan pengaruh juga bentuk ketidaktenangan. Tidak tenang kalau pengaruhnya terputus setelah periode berkuasa habis. Dari kenyataan-kenyataan di sekitar, kita bisa tahu bahwa ternyata kekuasaan bukan tempat makan. Karena manusialah yang dimakan kekuasaan. Dalam sejarah politik negara kita, pernah ada seseorang cukup lama berkuasa hati nuraninya habis dimakan kekuasaan.

* Bisma Yadhi Putra, esais, tinggal di Lhokseumawe. Email: bisma.ypolitik@gmail.com

Editor: bakri
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

berita POPULER

© 2018 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved