Opini

Mengubah Paradigma ‘Duitisasi’ Politik

SECARA terminologis dalam disiplin “ilmu plesetan”, “duitisasi” (kata lain untuk uang), maknanya adalah hanya duit

Mengubah Paradigma ‘Duitisasi’ Politik
SERAMBINEWS.COM/SUBUR DANI

Oleh Munawar A. Djalil

SECARA terminologis dalam disiplin “ilmu plesetan”, “duitisasi” (kata lain untuk uang), maknanya adalah hanya duit, semata-mata oleh duit dan tujuannya untuk duit. Plesetan ini diperkuat dengan fenomena kalahnya politisi dan partai politik karena duit (dana) kampanye yang minimalis pada Pemilu Legislatif 2009, 2014 lalu, dan bukan tidak mustahil akan terjadi pada 2019. Artinya, untuk menjadi pemenang dalam politik, mesti dengan “duitisasi”. Kalau tidak, maka harus kuasa melakukan cara-cara premanisme, seperti intimidasi, pemaksaan, dan lain-lain.

Menjadi anggota dewan adalah sebuah amanah dan tanggung jawab besar dan akan diminta pertanggung jawaban Allah Swt di akhirat nanti. Lalu mengapa banyak orang berlomba-lomba menjadi anggota dewan (politisi), barangkali secara pragmatis ada beberapa alasan: Pertama, sebagian orang beranggapan menjadi anggota dewan adalah sebuah “prestise” meski miskin prestasi;

Kedua, sebagian mereka kesempatan lowongan kerja, sejak reformasi peluang membuat partai dan menjadi caleg sangat terbuka, pendidikannyapun tidak mesti sarjana. Yang diperlukan adalah kemampuan menguasai massa dan meyakinkan orang lain. Ini relatif lebih mudah dan lebih berpeluang dari pada menjadi pegawai negeri sipil (PNS) atau pegawai swasta, di mana syarat sarjana sangat diutamakan; Dan ketiga, sebagian yang punya idealisme, tidak pamrih alias bukan idealisme peng grik, mereka akan benar-benar menjadikan lembaga dewan untuk berbuat yang terbaik untuk kemaslahatan rakyat.

Akhirnya untuk tujuan-tujuan itu banyak orang mau melakukan praktik-praktik tak terpuji, sogok, jual-beli suara, intimidasi dan lain-lain. Dengan realita seperti ini, benar sekali kalau sebagian orang menganggap bahwa politik sebagai “bisnis” kotor. Alasan dari asumsi ini kiranya pertama-tama bahwa berpolitik berarti mencari dan mempertahankan kekuasaan. Untuk mendapatkannya, lawan harus dipukul tanpa ampun dan sahabat yang kuat harus dijegal sebelum menjadi ancaman.

Kamuflase belaka
Menurut pandangan ini sebenarnya jangan kita menggandaikan kesetiaan dan jangan terlalu percaya pada cita-cita para politisi, yang mereka cari hanyalah kekuasaan dan demi kekuasaan itu segala nilai lain harus dikorbankan. Cita-cita luhur dan tujuan-tujuan terpuji para politisi tidak lebih dari sekadar kamuflase belaka, bagi kepentingan mereka yang sebenarnya adalah kekuasaan.

Dan kekuasaan itu katanya kotor. Untuk memperebutkannya orang harus keras, licik, pintar main bujuk, bagi hadiah dan politik duit seperti telah disebutkan. Sebagai sebuah ladang “bisnis”, tentu memerlukan modal (duit), dan dengan modal yang telah dikeluarkan itu bagaimana cara mendapatkan keuntungan besar, sehingga muncul sebuah slogan “duitisasi” dari duit, oleh duit dan untuk duit.

Panggung perpolitikan kita yang dihiasi dengan warna para politisi “duitisasi” memiliki efek yang negatif bagi kehidupan sosial kemasyarakatan dan pemerintahan. Beberapa efek negatif yang dijumpai dalam kehidupan sosial, di antaranya: Pertama, meningkatnya angka golput (golongan putih). Lembar fakta ini menunjukan angka kekecewaan masyarakat terhadap pola tingkah-laku para politisi yang gagal melahirkan perubahan, sehingga memicu naik angka golput pada beberapa pemilu legislatif sebelumnya.

Kedua, depresi sosial, menurut seorang psikolog asal Universitas Indonesia bahwa faktor penyelenggaraan kehidupan bernegara yang amburadul, karut-marut menjadi penyebab depresi terbesar, terutama kalangan menengah ke bawah. Indikasi lainnya seperti dilansir beberapa media, maraknya calon politisi dalam pemilu lalu yang gagal mendapat dukungan, menyebabkan putus asa dan depresi yang berujung kepada kematian. Kenyataan ini merupakan satu indikasi bahwa paradigma politik yang berkiblat kepada “duitisasi” akan menjadi katalisator depresi sosial.

Di samping dampak sosial, yang lebih parah lagi dampak negatif terhadap kehidupan negara bahwa pentas politik yang bernuansa “duitisasi”, politik telah membentuk sebuah paradigma bahwa hanya politisi yang punya duit saja yang mampu terjun mengurusi negara. Mekanisme selektif “duitisasi” seperti itu, terkadang membuat masyarakat juga tidak sensitif dengan aspek ini. Banyak di antara mereka yang memilih seseorang karena telah diberi kaos, kain sarung, sudah diberi duit dan sebagainya.

Halaman
12
Editor: bakri
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

TRIBUNnews.com Network © 2018
About Us
Help