Opini

Fiqh Progresif Imunisasi MR

PEMERINTAH Aceh meminta imunisasi MR ditunda hingga vaksin tersebut dinyatakan halal oleh MUI

Fiqh Progresif Imunisasi MR
ist
Foto Meme Imunisasi Rubella 

Dalam hal ini, penilaian kita MUI memiliki kelemahan argumen karena dalam edarannya ia hanya membantah telah memberi “restu” kepada Kemenkes untuk vaksin yang digunakan, tapi tidak merekomendasikan jenis vaksin lain sebagai alternatifnya. Ini bisa kita katakan obyek yang dipermasalahkan MUI justru belum terlalu dharuri dibandingkan dengan apa yang dipikirkan oleh kemenkes. Yang dharuri dalam hal ini tentu saja ancaman wabah MR itu.

Aspek primer dan mendesak dari masalah ini yang harus segera diatasi adalah ancaman wabah campak dan rubella itu, sedangkan aspek kehalalan vaksin sebelum ada ketetapan yang pasti maka haruslah juga dianggap darurat untuk menggunakan vaksin yang ada saat ini. Namun demikian, PR bagi Kemenkes adalah segera menemukan vaksin yang betul-betul bersumber dari zat yang halal.

Kearifan lokal kita mengatakan “sedia payung sebelum hujan” itulah yang mungkin menjadi pegangan kemenkes. Darurat yang diantisipasi itu adalah “hujan” campak dan rubella yang mengancam jutaan anak yang berumur 9-15 tahun. Taruhannya, jika “payung” vaksinasi tidak dilaksanakan adalah pada kelemahan sumber daya manusia yang disebabkan kecacatan, bahkan ancaman kematian.

Dari perspektif tujuan bernegara kita, setidaknya program vaksinasi ini merupakan implementasi dari tiga tujuan bernegara sekaligus, yaitu melindungi segenap bangsa Indonesia, memajukan kesejahteraan umum, dan mencerdaskan kehidupan bangsa. Aspek perlindungan yang diwujudkan melalui vaksinasi ini adalah keselamatan jiwa dan raga generasi bangsa yang akan melanjutakan eksistensi negara ini.

Selanjutnya dari aspek kesejahteraan, program vaksinasi ini membuat masyarakat lebih sehat dan selamat dari keharusan menghabiskan biaya untuk menjaga dan memulihkan kesehatan. Jika seorang anak sakit maka segala potensi keluarga mulai dari waktu, biaya, tenaga, pikiran akan tercurah pada sang buah hati. Beban ini tentu akan berdampak pada aspek kebutuhan dasar yang lain. Intinya imunisasi ini memberi payung penyelamatan yang berdimensi dan berdampak luas. Yang tidak kalah penting adalah kontribusi program ini untuk mencerdaskan bangsa.

Darurat campak dan rubella juga merupakan peluang dan tantangan bagi anak bangsa untuk menemukan vaksin campak dan rubella. Jangankan untuk vaksin MR, vaksin untuk penyakit yang lebih berbahaya pun mampu diteliti oleh para ilmuan. Artinya, jika umat Islam melalui MUI mempermasalahkan kehalalan vaksin yang digunakan oleh kemenkes, maka merupakan tanggung jawab moril sebagai anak bangsa untuk menemukan solusinya. Dari perspektif agama pun kita dicela jika mengatakan apa yang tidak diamalkan (la taquluna ma la taf’alun/ma la ta’lamun).

* Dr. Marah Halim, S.Ag., M.Ag., MH., Widyaiswara BPSDM Provinsi Aceh, Doktor Fiqh Modern dari UIN Ar-Raniry Banda Aceh. Email: marahh77@gmail.com

Editor: bakri
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2018 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved